Sabtu, 22 Juli 2017

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK PADA PASIEN HALUSINASI

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
PADA PASIEN HALUSINASI
A. Dasar Pemikiran
Klien yang dirawat di rumah sakit jiwa atau ruang jiwa umumnya dengan keluhan tidak dapat diatur di rumah, misalnya amuk, diam saja, tidak mandi, keluyuran, mengganggu orang lain dan sebagainya. Setelah berada dan dirawat di rumah sakit, hal yang sama sering terjadi banyak klien diam, menyendiri tanpa ada kegiatan. Hari hari perawatan dilalui dengan makan, minum obat dan tidur.
Ada di antara klien yang dengan inisiatif sendiri mencari perubahan situasi dengan jalan jalan di rumah sakit namun ada diantara mereka yang tidak tahu jalan pulang sehingga jika tertangkap ia dicap sebagai klien yang melarikan diri kemudian dimasukan lagi ke dalam ruang isolasi. Apa sebenarnya yang dilakukan klien??
Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu tindakan keperawatan untuk klien gangguan jiwa. Terapi ini adalah terapi yang pelaksanaannya merupakan tanggung jawab penuh dari seorang perawat. Oleh karena itu seorang perawat khususnya perawaat jiwa haruslah mampu melakukan terapi aktivitas kelompok secara tepat dan benar.
Untuk mencapai hal tersebut di atas perlu dibuat suatu pedoman pelaksanaan terapi aktivitas kelompok seperti terapi aktivitas kelompok sosialisasi, penyaluran energi, stimulasi sensori dan orientasi realitas.
B. Tujuan
Terapi aktivitas kelompok adalah suatu upaya untuk memfasilitasi psikoterapis terhadap sejumlah klien pada waktu yang sama untuk memantau dan meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota.
Secara umum tujuan terapi aktivitas kelompok adalah meningkatkan kemampuan uji realitas melalui komunikasi dan umpan balik dengan atau dari orang lain, melakukan sosialisasi, meningkatkan kesadaran terhadap hubungan reaksi emosi dengan tindakan atau perilaku denfensif, dan meningkatkan motivasi untuk kemajuan fungsi kognitif dan afektif. Secara khusus tujuannya adalah meningkatkan identitas diri, menyalurkan emosi secara konstruktif, meningkatkan ketrampilan hubungan interpersonal atau social.
Di samping itu tujuan rehabilitasinya adalah meningkatkan ketrampilan ekspresi diri, social, meningkatkan kepercayaan diri, empati, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pemecahan masalah.
C. KARAKTERISTIK KLIEN
  1. Nn. E, klien berpenampilan bersih, inisiatif untuk memulai pembicaraan ada, aktifitas baik, kadang-kadang klien malas berinteraksi atau berbicara dengan orang lain, hubungan saling percaya dengan perawat sudah terbina. Masalah : Menarik Diri
  2. Nn. H, klien berpenampilan bersih, ada inisiatif untuk memulai pembicaraan, sikap tubuh agak miring bila berjalan, suka menyendiri, malas melakukan aktifitas, selalu di tempat tidurnya, sudah terbina saling percaya dengan perawat, aktifitas dilakukannyajika ada motivasi dari perawat. Masalah : Menarik Diri
  3. Nn. N, klien berpenampilan bersih, ada inisiatif untuk memulai pembicaraan, cenderung mencelakai diri sendiri dan orang lain bila terlambat minum obat. Sudah terbina hubungan saling percaya dengan perawat, mempunyai tanggung jawab di ruangan yaitu mengambil dan membagikan makanan. Masalah : Menarik Diri, resti menciderai diri dan orang lain
  4. Ny. S, klien berpenampilan tidak rapi, tidak ada inisiatif untuk memulai pembicaraan, masih suka menyendiri, sudah terbina saling percaya dengan perawat, aktifitas sehari-hari kadang-kadang ia lakukan. Masalah : Menarik Diri
  5. Nn. L, penampilan kurang rapi, berdandan tidak semestinya, sulit memulai komunikasi, tidak memiliki aktifitas, suka menyendiri, pendiam. Masalah : Menarik Diri.
  6. Nn. E.S, penampilan rapi, klien berperan aktif di ruangan yaitu mengambil dan membagikan makanan, dapat memulai pembicaraan dan sudah terbina hubungan saling percaya dengan perawat. Masalah : harga diri rendah
  7. Ny.S, penampilan kurang rapi, halusinasi dengar, sudah mampu mengontrol halusinasi sudah terbina hubungan saling percaya, ada inisiatif untuk berhubungan, mampu memenuhi ADL secara mandiri. Masalah : Menarik Diri, Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi
  8. Nn. R, penampilan bersih, pendiam, sulit memulai pembicaraan, bicara tidak kacau, waham kebesaran, tidak ada aktifitas, tidak ada inisiatif untuk berhubungan, sudah terbina hubungan saling percaya. Masalah : Waham, Menarik Diri
D. PROSES SELEKSI
E. URAIAN STRUKTUR KELOMPOK
  1. Hari /Tanggal : Kamis22 September2011
  2. Tempat : Di Ruang Melati
  3. Waktu : 09.00 s/d 09.50 WIB
  4. Lama Kegiatan
- Perkenalan dan pengarahan (5 menit)
- Role play (5 menit)
- Permainan dan diskusi (25 menit)
- Evaluasi (10 menit)
- Penutup (5 menit)
  1. Jumlah peserta : 14 orang
  2. Perilaku yang diharapkan dari kelompok klien
a. Klien dapat melakukan permainan
b. Klien dapat memberikan pendapat/komentar dari permainan
c. Klien dapat berperan aktif dalam kelompok dengan cara mengungkapkan pengalamannya dan memberikan dukungan kepada klien lain
d. Klien dapat mengontrol emosinya selama kegiatan berlangsung
e. Klien tidak meninggalkan kelompok pada saat permainan
PENGORGANISASIAN
Leader Wayan Sukanta
 Co-Leader Kalpin
 Fasilitator : Cintya
 Sutaslim tahir
 Cici lisdayanti
Dina Andriana
Emi Abudu
Ibrahim Hirwan .B
Ike Suciana Dewi
Topan Sulistyanto
Ultri Elvita Rini
Wd.Nuswati
Wa Yuli Dilo
Yeyen
Observer : Natan Harman
(Perwakilan R.Matahari)
METODE DAN MEDIA
Metode : Role Play dan Diskusi
Media : Laptop, Bola mini,Sound system
URAIAN PEMBAGIAN TUGAS
  1. Leader
a. Membacakan tujuan dan peraturan kegiatan terapi aktifitas kelompok sebelum kegiatan dimulai
b. Mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok dan memperkenalkan dirinya
c. Mampu memimpin terapi aktifitas kelompok dengan baik dan tertib
d. Menetralisir bila ada masalah yang timbul dalam kelompok
e. Menjelaskan permainan
  1. Co-Leader
a. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang aktifitas klien
b. Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang
  1. Fasilitator
a. Memfasilitasi klien yang kurang aktif
b. Berperan sebagai role play bagi klien selama kegiatan
  1. Observer
a. Mengobservasi jalannya proses kegiatan
b. Mencatat prilaku verbal dan non verbal klien selama kegiatan berlangsung
c. Mengatur alur permainan (menghidupkan dan mematikan tape recorder)
PROSES PELAKSANAAN
  1. Perkenalan dan pengarahan
a. Mempersiapkan lingkungan : suasana tenang dan nyaman (tidak ribut)
b. Mempersiapkan tempat : pengaturan posisi tempat duduk, leader berdiri di depan dan berkomunikasi dengan seluruh anggota kelompok
c. Mempersiapkan anggota kelompok : membuat kontrak kembali dengan klien untuk mengikuti terapi aktifitas kelompok sosialisasi
  1. Pembukaan
a. Leader memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama, asal dan tempat tinggal
b. Leader menjelaskan tujuan terapi aktifitas kelompok sosialisasi
c. Membuat kontrak waktu dengan klien dan lamanya permainan berlangsung
d. Leader menjelaskan peraturan kegiatan dalam kelompok antara lain : jika klien ingin ke kamar mandi atau toilet harus minta ijin kepada leader, bila ingin menjawab pertanyaan klien diminta untuk mengacungkan tangan dan diharapkan klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
  1. Role play
Permainan dimulai dengan bermain peran oleh fasilitator sesuai petunjuk leader selama 5 menit. Setelah itu observer menghidupkan tape recorder dan memulai permainan, semua fasilitator duduk di kursi. Selama musik masih berbunyi para fasilitator mengedarkan kotak dari fasilitator satu ke fasilitator berikutnya. Bagi fasilitator yang memegang kotak pada saat musik dihentikan, fasilitator diminta untuk memperkenalkan diri, dan menyampaikan pengalamannya yang paling menyenangkan. Peserta yang lain diminta untuk menanggapi dan mengajukan pertanyaan.
  1. Permainan
Klien diminta untuk mengambilposisi yang telah diatur oleh Fasilitator Selanjtnya bermain sesuai dengan role play diatas
  1. Evaluasi
a. Klien dapat mengungkapkan perasaan setelah melakukan permainan
b. Klien dapat menyebutkan keuntungan dari permainan tersebut
c. Klien dapat mengungkapkan usul atau pendapat dari kegiatan permainan
  1. Penutup
a. Leader menyampaikan apa yang telah dicapai anggota kelompok setelah mengikuti permainan
b. Perawat memberikan reinforcement positif pada setiap klien yang mengikuti permainan
ANTISIPASI MASALAH
  1. Klien yang tidak aktif saat aktifitas kelompok penanganannya adalah dengan memberikan motivasi oleh fasilitator
  2. Bila klien meninggalkan permainan tanpa ijin, panggil nama klien, tanyakan alasan klien meninggalkan permainan, berikan motivasi agar klien kembali mengikuti permainan
  3. Klien lain yang ingin mengikuti permainan, beri penjelasan pada klien tersebut bahwa permainan ini ditujukan pada klien yang dipilih, katakan pada klien lain tersebut bahwa akan ada waktu khusus untuk mereka

DENAH RUANG
CO.LEADER
LEADER
KLIEN
OBSEVER
FASILITATORR

KRITERIA EVALUASI
  1. Evaluasi Input
a. Tim berjumlah 14 orang yang terdiri atas 1 leader, 1 co leader,10 fasilitator dan 2 observer
b. Lingkungan memiliki syarat luas dan sirkulasi baik
c. Peralatan laptop,sound system dipersiapkan dengan baik
d. Tersedia Bola mini
e. Tidak ada kesulitan memilih klien yang sesuai dengan kriteria dan karakteristik klien untuk melakukan terapi aktifitas kelompok sosialisasi
  1. Evaluasi Proses
a. Leader menjelaskan aturan main dengan jelas
b. Fasilitator menempatkan diri di Belakang masing masingklien
c. Observer menempatkan diri di tempat yang memungkinkan untuk dapat mengawasi jalannnya permainan
d. 70% klien yang mengikuti permainan dapat mengikuti kegiatan dengan aktif dari awal sampai selesai.
  1. Evaluasi Output
Setelah mengadakan terapi aktifitas kelompok sosialisasi dengan 14klien yang diamati, hasil yang diharapkan adalah sebagai berikut :
a. 70% klien yang mengikuti permainan dapat mengikuti kegiatan dengan aktif dari awal sampai selesai.
b. 70% klien dapat meningkatkan komunikasi non verbal : bergerak mengikuti intruksi, ekpresi wajah cerah, berani kontak mata)
c. 70% klien dapat meningkatkan komunikasi verbal (menyapa klien lain/perawat, mengungkapkan perasaan dengan perawat)
d. 70% klien dapat meningkatkan kemampuan akan kegiatan kelompok (mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai)
e. 70% klien mampu melakukan hubungan sosial dengan lingkungannya (mau berinteraksi dengan perawat/klien lain)

DAFTAR PUSTAKA
Herawaty, Netty, Materi Kuliah Terapi Aktivitas Kelompok, 1999.
Gail Wiscart Stuart, Sandra J. Sundeen, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3, EGC, Jakarta 1995

ASUHAN KEPERAATAN GERONTIK DENGAN HIPERTENSI

BABI
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Kemajuan teknologi yang disertai  keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional, telah mewujudkan hasil yang positif di berbagai bidang, yaitu adanya kemajuan eknomi, kemajuan ilmu pengetahuan serta keberhasilan dalam program kesehatan. Keberhasilan tersebut berdampak terhadap meningkatkan umur harapan hidup manusia. Akibatnya jumlah penduduk yang berusia lanjut cenderung meningkat.
Peningkatan umur harapan hidup masyarakat di Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.1 Angka Harapan Hidup di Indonesia
Tahun
Laki-laki
Perempuan
Total
1971
1980
1990
1995
2000
2005
2010
2015
2020
44,2
50,6
58,1
61,5
63,3
64,9
66,4
67,7
69,0
47,2
53,7
61,5
65,4
67,2
68,8
70,4
71,7
73,0
45,7
52,2
59,8
63,5
65,3
66,9
68,4
69,8
71,7
Sumber: BPS, 1992, 1993  Keterangan: Angka harapan hidup sejak lahir
Saat ini,  jumlah orang lanjut usia di selluruh dunia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata – rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Di negara maju seperti Amerika Serikat pertambahan orang lanjut usia lebih kurang 1000 orang per hari pada tahun 1985 dan diperkirakan 50% dari penduduk berusia di atas 50 tahun sehingga istilah “Baby Boom” pada masa lalu berganti menjadi “Ledakan penduduk lanjut usia”.
Berdasarkan Data pada Biro Pusat Statistika dan beberapa sumber lain, dapat diketahui jumlah dan prosentase populasi lansia di Indonesia pada tahun 2000 – 2020 sesuai pada tabel berikut ini:
Tabel 1.2 Jumlah dan Persentase Populasi Lansia Indonesia 1971 – 2020
Tahun
Jumlah Lansia
Persentase
2000 (d)
15.262.199
7,28%
2005 (d)
17.767.709
7,97%
2010 (d)
19.936.859
8,48%
2015 (d)
23.992.553
9,77%
2020 (d)
28.822.879
11,34%
Sumber: (a) Biro Pusat Statistika, 1974; (b) Biro Pusat Statistika,1983; (c) Biro Pusat
Statistika, 1992; (d) Ananta dan Anwar, 1994. Dikutip oleh Djuhari dan Anwar, 1994
Meningkatnya umur harapan hidup dipengaruhi oleh:
1)       Majunya pelayanan kesehata
2)       Menurunnya angka kematian bayi daan anak
3)       Perbaikan gizi dan sanitasi
4)       Meningkatnya pengawasan terhadap penyakit infeksi
Secara individu, pada usia di atas 55 tahun terjadi proses penuaan secara alamiah. Hal ini akan menimbulkan masalah fisik, mental, sosial, ekonomi dan psikologis. Dengan bergesernya pola perekonomian dari pertanian ke industri maka pola penyakit pada lansia juga bergeser dari penyakit menular menjadi degeneratif.
Survei rumah tangga tahun 1980, angka kesakitan penduduk usia lebih dari 55 tahun sebesar 25,70% diharapkan pada tahun 2000 nanti angka tersebut menjadi 12,30% (Depkes RI, Pedoman Pembinaan Kesehatan Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan I, 1992).
Perawatan terhadap pasien lansia merupakan tanggung jawab keluarga dan pemerintah khususnya Dinas social dan tenaga kesehatan. Perubahan – perubahan kecil dalam kemampuan seorang pasien lansia untuk melaksanakan aktivitas sehari – hari atau perubahan kemampuan seorang pemberi asuhan keperawatan dalam memberikan dukungan hendaknya memiliki kemampuan untuk mengkaji aspek fungsional, sosial, dan aspek – aspek lain dari kondisi klien lansia.
Berkaitan dengan peran pemberi asuhan keperawatan, perawat sebagai salah satu kompetensi yang harus diemban, maka dirasa perlu untuk mengadakan praktek keperawatan klinik khususnya pada klien lansia sebagai konteks keperawatan gerontik, maka pada kesempatan mengenyam tahap profesi ini, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Angkatan I, kelompok I, diterjunkan secara langsung di Panti Sosial Tresna Werdha “ Bahagia” di Kabupaten Magetan, guna mendapat pengalaman secara langsung mengenai perubahan – perubahan yang terjadi pada lansia serta konsep asuhan keperawatan pada klien lansia yang mengalami gangguan atau masalah kesehatan.
b. Tujuan
Tujuan umum
Meningkatkan derajat kesehatan para lanjut usia.
Tujuan khusus
·                      Mampu melakukan pengkajian pada lansia
·                      Mampu merumuskan diagnosa keperawatan lansia
·                      Mampu menyusun rencana keperawatan.
·                      Melakukan tindakan keperawatan pada lansia
·                     Mampu melakukan evaluasi terhadap keberhasilan tindakan yang diberikan.

c. Sistematika Laporan
Sistematika laporan kegiatan ini adalah:
1)       Bab 1 Pedahuluan memuat: Latar Belakang, Tujuan Kegiatan, dan Sistematika Laporan.
2)       Bab 2 Konsep Teori memuat: Konsep Lansia, Konsep dan asuhan keperawatan hipertensi pada lansia.
3)       Bab 3 Asuhan Keperawatan Gerontik memuat: Pengkajian, Perumusan Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Implementasi dan Evaluasi.
4)       Bab 4 Penutup, memuat: Kesimpulan dan Saran.



BABII
TIJNJAUAN TEORITIS
A. Konsep Teori Lansia
1.  Batasan Lansia
Menurut oraganisasi kesehatan dunia (WHO), lanjut usia meliputi:
1.Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
2.Lanjut usia (elderly) antara 60 – 74 tahu
3.Lanjut usia tua (old) antara 75 – 90 tahun
4.Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun
2.  Proses Menua                                        
Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua (Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemuduran secara fisik maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat dan kurang gairah.
Meskpun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ, tetapi tidak harus menimbulkan penyakit oleh karenanya usia lanjut harus sehat. Sehat dalam hal ini diartikan:
1)       Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial,
2)       Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari,
3)       Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat (Rahardjo, 1996)
Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan – perubahan yang menuntut dirinya untuk menyesuakan diri secara terus – menerus. Apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah berbagai masalah. Hurlock (1979) seperti dikutip oleh MunandarAshar Sunyoto (1994) menyebutkan masalah – masalah yang menyertai lansia yaitu:
1)       Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain,
2)       Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola hidupnya,
3)       Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah meninggal atau pindah,
4)       Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah banyak dan
5)       Belajar memperlakukan anak – anak yang telah tumbuh dewasa. Berkaitan dengan perubahan fisk, Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik yang mendasar adalah perubahan gerak.
Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. Pertama minat terhadap diri makin bertambah. Kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang. Ketiga minat terhadap uang semakin meningkat, terakhir minta terhadap kegiatan – kegiatan rekreasi tak berubah hanya cenderung menyempit. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada diri usia lanjut untuk selalu menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik. Motivasi tersebut diperlukan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan teratur untuk meningkatkan kebugaran fisiknya.
Berkaitan dengan perubahan, kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Bagaimana sikap yang ditunjukkan apakah memuaskan atau tidak memuaskan, hal ini tergantung dari pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Perubahan ynag diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan, ekonomi/pendapatan dan peran sosial (Goldstein, 1992)
Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. Ciri – ciri penyesuaian yang tidak baik dari lansia (Hurlock, 1979, Munandar, 1994) adalah:
1)       Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya.
2)       Penarikan diri ke dalam dunia fantasi
3)       Selalu mengingat kembali masa lalu
4)       Selalu khawatir karena pengangguran,
5)       Kurang ada motivasi,
6)       Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik, dan 
7)       Tempat tinggal yang tidak diinginkan.
 Di lain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah: minat yang kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas, menikmati kerja dan hasil kerja, menikmati kegiatan yang dilkukan saat ini dan memiliki kekhawatiran minimla trehadap diri dan orang lain.
3. Teori Proses Menua
a. Teori – teori biologi
1).  Teori genetik dan mutasi (somatic mutatie theory)
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies – spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul – molekul / DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel – sel kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsional sel).
2).  Pemakaian dan rusak
Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel – sel tubuh lelah (rusak)
3).  Reaksi dari kekebalan sendiri (auto immune theory)
Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidaktahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit.
4).  Teori “immunology slow virus” (immunology slow virus theory)
Sistem imune menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus kedalam tubuh dapat menyebabkab kerusakan organ tubuh.
5). Teori stres
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
6).   Teori radikal bebas
Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan osksidasi oksigen bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal bebas ini dapat menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.
7).  Teori rantai silang
Sel-sel yang tua atau usang , reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastis, kekacauan dan hilangnya fungsi.
8).  Teori program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati.
b. Teori kejiwaan sosial
1). Aktivitas atau kegiatan (activity theory)
     Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.
Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia

2).Kepribadian berlanjut (continuity theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki.
3).Teori pembebasan (disengagement theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan ganda (triple loss), yakni :
1.kehilangan peran
2.hambatan kontak sosial
3.berkurangnya kontak komitmen
4. Permasalahan Yang Terjadi Pada Lansia
Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lanjut usia, antara lain: (Setiabudhi, T. 1999 : 40-42)
1).Permasalahan umum
a) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan.
b).Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan , dihargai dan dihormati.
c). Lahirnya kelompok masyarakat industri.
d) Masih rendahnya kuantitas dan kulaitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia.
e).Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia.
2). Permasalahan khusus :
a).Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik, mental maupun sosial.
b).Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia.
c). Rendahnya produktifitas kerja lansia.
d). Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat.
e).Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat individualistik.
f).Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu kesehatan fisik lansia



5. Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Ketuaan
1). Hereditas atau ketuaan genetik
2). Nutrisi atau makanan
3). Status kesehatan
4). Pengalaman hidup
5). Lingkungan
6). Stres
6.  Perubahan – perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
1) Perubahan fisik
Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistim organ tubuh, diantaranya sistim pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastro intestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.
2)Perubahan mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :
a).Pertama-tama perubahan fisik, khsusnya organ perasa.
b. Kesehatan umum
c. Tingkat pendidikan
d. Keturunan (hereditas)
e. Lingkungan
f. Gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan dan ketulian.
g. Gangguan konsep diri akibat kehilangan kehilangan jabatan.
h. Rangkaian dari kehilangan , yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili.
i. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik.
3).Perubahan spiritual
Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya (Maslow).
Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya , hal ini terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam sehari-hari (Murray dan Zentner, 1970)
7.  Yang Sering Dijumpai Pada Lansia
Menurut the National Old People’s Welfare Council , dikemukakan 12 macam penyakit lansia, yaitu :Depresi mental
1. Gangguan pendengaran
2. Bronkhitis kronis
3. Gangguan pada tungkai/sikap berjalan.
4. Gangguan pada koksa / sendi pangul\Anemia
5. Demensia
B. Konsep Hipertensi
1. Batasan  Hipertensi
Hipertensi didefinisikan adanya kenaikan  tekanan darah yang persisten . Pada orang dewasa  rata-rata tekanan sistolik  sama atau di atas 140 mm Hg dan tekanan diastolik sama atau di atas 90 mm Hg , menurut American Heart Association, rata-rata  dari dua kali pemeriksaan yang berbeda  dalam dua minggu. Menurut Pusdiknakes Depkes disebutkan hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik diatas standar dihubungkan dengan usia.
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat  dibedakan menjadi dua golongan besar, yaitu :
1. Hipertensi  esensial  (hipertensi primer / idiopathic) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, sebanyak 90 %  kasus.
2. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain , sebanyak 10 % .

2Faktor Predisposisi   
Meskipun   hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya data-data   penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan  terjadinya hipertensi . Faktor-faktor tersebut  antara lain:
1. Faktor keturunan
Dari data statistik  terbukti bahwa  sesorang akan memiliki kemungkinan lebih besar  untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi.
2.Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah : umur, jenis kelamin dan ras. Umur yang bertambah akan menyebabkan kenaikan tekanan darah.  Tekanan darah pria umumnya lebih tinggi dibandingkan tekanan darah wanita.Juga statistik di Amerika menunjukan  prevalensi hipertensi pada orang kulit hitam  hampir dua kali lipat dibandingkan dengan orang kulit putih.
3. Kebiasaan Hidup.
Kebiasaan hidup yang yang sering menyebabkan hipertensi adalah  :
1).Konsumsi garam yang tinggi, dari statistik diketahui bahwa suku bangsa  atau penduduk dengan konsumsi garam rendah jarang  menderita hipertensi. Dari dunia kedokteran juga telah dibuktikan  bahwa ,pembatasan garam  dan pengeluaran garam  / natrium oleh obat diuretik akan menurunkan tekanan darah lebih lanjut.
2) .Kegemukan atau makan berlebihan ; dari penelitian kesehatan  terbukti ada  hubungan  antara kegemukan  dan hipertensi . Meskipun mekanisme  bagaimana kegemukan  menimbulkan hipertensi belum jelas, tetapi sudah terbukti penurunan berat badan  dapat menurunkan tekanan darah.
3) .Stres dan ketegangan jiwa ; sudah lama diketahui bahwa ketegangan jiwa seperti rasa tertekan, murung, rasa marah, dendam, rasa takut, rasa bersalah   dapat mmerangsang kelenjar anak ginjal melepaskaqn hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat , sehingga tekanan darah akan meningkat. Jika stres berlangsung  cukup lama , tubuh akan berusaha mengadakan penyesuaian sehingga tinbul kelainan organis atau perubahan patologis (Dr. Hans Selye: General Adaptation Syndrome, 1957). Gejala yang muncul  dapat berupa hipertensi atau penyakit maag.
4) .Pengaruh  lain yang dapat menyebabkan naiknya tekanan darah adalah sebagai berikut : merokok: karena merangsang sistem adrenergik dan meningkatkan tekanan darah ; minum alkohol, minum obat-obat,misal; ephedrin, Prednison, epinefrin.

3.Patofisiologi           
Kerja jantung terutama ditentukan oleh besarnya curah jantung dan tahanan perifer. Curah jantung pada penderita hipertensi umumnya normal. Kelainannya terutama pada peninggian tahanan perifer. Kenaikan tahanan perifer ini disebabkan karena vasokonstriksi arteriol akibat naiknya tonus otot polos pembuluh darah tersebut. Bila hipertensi sudah berjalan cukup lama maka akan dijumpai perubahan-perubahan struktural pada pembuluh darah arteriol berupa penebalan tunika interna dan hipertropi tunika media. Dengan adanya hipertropi dan hiperplasi, maka sirkulasi darah dalam otot jantung tidak mencukupi lagi sehingga terjadi anoksia relatif. Keadaan ini dapat diperkuat dengan adanya sklerosis koroner.

4. Usaha Pencegahan Hipertensi.
Pencegahan lebih baik dari  pada pengobatan, demikian juga terhadap hipertensi.pada umumnya, orang akan berusaha mengenali hipertensi jika dirinya atau keluarganya sakit keras atau meninggal dunia akibat hipertensi.
Sebenarnya sangat sederhana dan tidak memerlukan biaya, hanya diperlukan disiplin dan ketekunan menjalankan aturan hidup sehat, sabar, dan ikhlas (jawa; nrimo) dalam  mengendalikan perasaan dan keinginan  atau ambisi. Di samping berusaha untuk memperoleh kemajuan, selalu sadar atau  mawas di ri untuk ikhlas menerima kegagalan  atau kesulitan.
Usaha pencegahan juga bermanfaat bagi penderita  hipertensi  agar penyakitnya tidak menjadi lebih parah , tentunya harus disertai pemakaian obat-obatan yang harus ditentukan oleh dokter. Agar terhindar dari komplikasi fatal  hipertensi, harus diambil  tindakan pencegahan yang baik (Stop high blood pressure),  antara lain  dengan cara sebagai berikut  :
1.       Mengurangi konsumsi garam
2.       Menghindari kegemukan
3.       Membatasi konsumsi lemak
4.       Olahraga teratur
5.       Makan banyak sayur segar
6.       Tidak merokok  dan tidak minum alkohol
7.       Latihan relaksasi atau meditasi
8.       Berusaha membina hidup yang positif.

5. Penanggulangan Hipertensi
Penanggulangan hipertensi secara garis besar dapat dibagi menjadi dua penatalaksanaan   yaitu : Penatalaksanaan Nonfarmakologis dan  farmakologis
a.  Penatalaksanaan Nonfarmakologis :
Hipertensi atau tekanan darah tinggi sebetulnya  bukan suatu penyakit, tetapi hanya merupakan suatu kelainan dengan gejala gangguan pada mekanisme regulasi tekanan darah yang timbul.
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja, tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita bertambah kuat  (Barry,1987).
Penatalaksanaan nonfarmakologi adalah dengan jalan memodifikasi gaya.
b.  Penatalaksanaan farmakologis
Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan obat standar  yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi      (  Joint National Commite On Detection, Evaluation and  Treatment of high Blood Pressure, USA, 1988) menyimpulkan bahwa obat diuretik, Penyekat Betha , Antagonis kalsium, atau penghambatan ACE, dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita. Bila tekanan darah tidak dapat diturunkan dalam satu bulan, dosis obat dapat disesuaikan sampai dosis maksimal atau menambahkan obat  golongan lain atau mengganti obat pertama dengan obat golongan lain. Sasaran penurunan tekanan darah adalah  kurang dari  140/90 mm Hg dengan efek samping minimal. Penurunan tekanan dosis obat  dapat dilakukan pada golongan hipertenssi ringan yang sudah terkontrol dengan baik selama 1 tahun.

6. Komplikasi             
Hipertensi merupakan penyebab utama penyakit jantung koroner, cedera cerebrovaskuler, dan gagal ginjal. Hipertensi menetap yang disertai dengan peningkatan tahanan perifer menyebabkan gangguan  paada endothelium  pembuluh darah mendorong plasma dan lipoprotein  ke dalam intima dan lapisan sub intima  dari pembuluh darah  dan menyebabkan pembentukan plaque /aterosklerosis. Peningkatan tekanan juga menyebabkan  hiperplasi otot polos , yang membentuk jaringan parut intima  dan mengakibatkan penebalan pembuluh darah dengan penyempitan lumen. (Underjillet all.,1989) dikutip dari Carpenito (1999).
Komplikasi yang dapat timbul bila  hipertensi tidak terkontrol adalah
1. Krisis Hipertensi
2. Penyakut jantung  dan pembuluh darah : penyakit jantung koroner dan penyakit jantung hipertensi adalah dua bentuk  utama penyakit jantung yang timbul pada penderita hipertensi.
3. Penyakit jantung cerebrovaskuler : hipertensi adalah faktor resiko paling penting untuk timbulnya stroke. Kekerapan dari stroke bertambah dengan setiap kenaikan tekanan darah.
4. Ensefalopati hipertensi  yaitu sindroma yang ditandai dengan perubahan neurologis  mendadak atau sub akut yang timbul sebagai akibat tekanan arteri  yang meningkat dan kembali normal   apabila tekanan darah diturunkan.
5. Nefrosklerosis karena hipertensi.

6. Retinopati hipertenssi.