Kamis, 27 April 2017

JURNAL PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PELAKSANAAN DIET RENDAH GARAM TERHADAP KEKAMBUHAN HIPERTENSI PADA LANSIA

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PELAKSANAAN DIET RENDAH GARAM TERHADAP KEKAMBUHAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS TIWORO TENGAH
KABUPATEN MUNA BARAT

Made Endrawati*), Cici Yusnayanti**) Ahmad Saleh***)
Program Studi S-1 Keparawatan Ilmu Keparawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Mandala Waluya Kendari (Stikes WM Kendari

ABSTRAK
Pada umumnya hipertensi banyak di alami oleh lansia, hal dibuktikan dengan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan pada lansia. Berdasarkan kekambuhan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten. Muna Barat. Pada tahun 2012 tercatat 90% lansia menderita hipertensi, tahun 2013 terdapat 96,5% penderita hipertensi, pada tahun 2014 terdapat 84% penderita hipertensi, tahun 2015 terdapat 91,2% penderita hipertensi. Pada tahun 2016 dalam 2 (dua)bulan terakhir tercatat 10% lansia penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat.
Jenis penelitian ini menggunakan desain Pra experiment tanpa menggunakan kelompok kontrol. Populasi penelitian adalah semua lansia yang menderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten. Muna Barat. Pada Bulan Mei-Juni 2016 sebanyak 10 sampel. Uji statistik menggunakan Paired t-test Sample.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan tekanan darah atau kekambuhan hipertensi terhadap pendidikan kesehatan mengenai diet rendah garam, dengan nilai statistik thit = 12.075, ttab = 2,262,  Nilai Sig 000 (P< 0.05).
Ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat. Disarankan hendaknya lansia lebih meningkatkan pelaksanaan diet rendah garam terhadap konsumsi makanan sehari sehingga dapat menurunkan kekambuhan hipertensi. Pelaksanaan pendidikan kesehatan berupa diet rendah garam dapat  menurunkan penyebab terjadi kekambuhan hipertensi pada lansia.

Kata Kunci :  Kekambuhan Hipertensi, Pendidikan Kesehatan, Diet Rendah Garam, Puskesmas Tiworo Tengah, Kabupaten Muna Barat


Text Box: PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PELAKSANAAN DIET RENDAH GARAM TERHADAP KEKAMBUHAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI 
WILAYAH KERJA PUSKESMAS TIWORO TENGAH 
KABUPATEN MUNA BARAT

Made Endrawati*), Cici Yusnayanti**) Ahmad Saleh***)
Program Studi S-1 Keparawatan Ilmu Keparawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Mandala Waluya Kendari (Stikes WM Kendari

ABSTRAK
Pada umumnya hipertensi banyak di alami oleh lansia, hal dibuktikan dengan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan pada lansia. Berdasarkan kekambuhan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten. Muna Barat. Pada tahun 2012 tercatat 90% lansia menderita hipertensi, tahun 2013 terdapat 96,5% penderita hipertensi, pada tahun 2014 terdapat 84% penderita hipertensi, tahun 2015 terdapat 91,2% penderita hipertensi. Pada tahun 2016 dalam 2 (dua)bulan terakhir tercatat 10% lansia penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat.
Jenis penelitian ini menggunakan desain Pra experiment tanpa menggunakan kelompok kontrol. Populasi penelitian adalah semua lansia yang menderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten. Muna Barat. Pada Bulan Mei-Juni 2016 sebanyak 10 sampel. Uji statistik menggunakan Paired t-test Sample.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan tekanan darah atau kekambuhan hipertensi terhadap pendidikan kesehatan mengenai diet rendah garam, dengan nilai statistik thit = 12.075, ttab = 2,262,  Nilai Sig 000 (P< 0.05).
Ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat. Disarankan hendaknya lansia lebih meningkatkan pelaksanaan diet rendah garam terhadap konsumsi makanan sehari sehingga dapat menurunkan kekambuhan hipertensi. Pelaksanaan pendidikan kesehatan berupa diet rendah garam dapat  menurunkan penyebab terjadi kekambuhan hipertensi pada lansia. 
Kata Kunci :  Kekambuhan Hipertensi, Pendidikan Kesehatan, Diet Rendah Garam, Puskesmas Tiworo Tengah, Kabupaten Muna Barat
 















PENDAHULUAN
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) (2012) sedikitnya jumlah penderita hipertensi sebanyak 839 juta kasus hipertensi, dan diperkirakan menjadi 1,15 milyar pada tahun 2025 atau sekitar 29% dari total penduduk dunia Padahal hipertensi merupakan penyebab utama penyakit jantung, kerusakan hati dan kerusakan ginjal. 
Di Indonesia banyaknyapenderitahipertensidiperkirakan 15 juta orang tetapihanya 4% yang merupakanhipertensiterkontrol, prevalensi 6-15% pada orang dewasa.15% diantaranyatidakmenyadarisebagaipenderitahipertensisehinggamerekacenderunguntukmenjadihipertensiberatkarenatidakmenyadaridantidakmengetahuifaktor-faktorresikonya.Dan 90% merupakanhipertensiesensialsaatinipenyakitdegeneratifdancardiofasculersudahmerupakansalahsatumasalahkesehatanmasyarakat di Indonesia (Ririn 2008).































Data penderitahipertensi di ProvinsiSultrabahwapadatahun 2012 jumlahkunjunganbaruhipertensipadapasienrawatjalansebanyak 3.672 orang, tahun 2013 sebanyak 5.758 orang danpadatahun 2014 sebanyak 5.789 orang (DinkesProvinsiSultra, 2014).
Hipertensi pada umumnya menyerang hampir sebagian kalangan masyarakat tak terkecuali lansia atau lanjut usia. Lansiaadalah proses menjadilebihtuadenganumurmencapai 45 tahunkeatas. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi. Empat penyakit yang sangat erat hubungannya dengan lansia adalah hipertensi (tekanan darah tinggi), gangguan metabolisme hormonal, gangguan persendian dan berbagai neoplasma (Azizah, 2011).
Tekanandarahtinggi yang terusmenerusmenyebabkanjantungseseorangbekerjalebihkeras, akhirnyakondisiiniberakibatterjadinyakerusakanpadapembuluhdarahjantung,ginjal, otak, danmata.Hipertensimerupakanpenyebabumumterjadinya stroke danseranganjantung(Heartattack), hipertensijugaseringdisebutThe Silent Killer, karenahanyamenimbulkanbeberapagejala, seseorangdapatmenderitahipertensitanpamengetahuinya (Pudiastuti,2011).
Hipertensi disebabkan oleh hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer seperti keturunan, gaya hidup (kebiasaan makan, alkohol dan rokok), sedangkan hipertensi sekunder seperti kelebihan berat badan, kelebihan kolesterol (Wahdah, 2011).
Daribeberapafaktordominanpenyebabhipertensi, faktorkelebihanberatbadandapatmeningkatkanseseorangterserangpenyakithipertensi. Semakinbesarmassatubuh, makasemakinbanyakdarah yang dibutuhkanuntukmemasokoksigendanmakanankejaringantubuh. Selain itu juga, konsumsi garam berlebih dapat meyebabkan terjadinya hipertensi. Komponen utama dari garam adalah natrium clorida. Konsumsi garam yang berlebih dapat menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga jantung terus memompa keras untuk mendorong volume darah yang meningkat melalui ruang yang makin sempit sehingga mengakibatkan hipertensi.
Dalam usaha menurunkan angka morbiditas hipertensi pada lansia, haruslah dilakukan pendidikan kesehatan yang bertujuan untuk mengurangi penyakit hipertensi pada lansia. Pendidkan kesehatan pada lansia berupa pemahaman dan pengetahuan terhadap hipertensi seperti mengurangi konsumsi lemak, mengatur pola hidup, olahraga secara teratur, mengurangi konsumsi garam, menghindari rokok dan menghindari kopi. Menurut Widyasari dan Candrasari (2010), menyimpulkan bahwa ada peningkatan signifikan secara statistik dalam pengetahuan dan sikap setelah pemberian kesehatan tentang hipertensi. Selain itu pula faktor keluarga sangat berperan dalam mengurangi penderita hipertensi. Karena keluarga merupakan sarana yang paling berperan dalam pemberian pendidikan kesehatan berupa pemahaman dan pengetahuan mengenai hipertensi sehingga pasien dapat patuh terhadap program diet rendah garam.
Salah satu metode yang baik digunakan oleh tenaga kesehatan untuk mengurangi morbiditas hipertensi pada lansia adalah dengan pemberian pendidikan kesehatan berupa pelaksanaan diet rendah garam seperti mengurangi makan yang memiliki kandungan garam tidak terlalu banyak. Pemberian makan yang memiliki kandungan garam sedikit atau yang lebih dikenal dengan diet rendah garam dapat mengurangi atau menurunkan hipertensi. Konsumsi garam yang sedikit dapat mengurangi volume darah di jantung, sehingga jantung lambat dalam memompa akibatnya ruang yang sempit akan tetap terisi oleh darah yang tidak mempunyai tekanan tinggi. Rendahnya pelaksanaan terhadap diet rendah garam membuat meningkatnya hipertensi, sehingga perlu dilakukan perbaikan intervensi untuk meningkatkan angka pelaksanaan diet rendah garam pada penderita hipertensi (Effendy dan Rosyid, 2011).
Hubungan dukungan keluarga dengan pelaksanaan diet rendah garam dan ketaatan kontrol tekanan darah pada pasien hipertensi di RSUD Tugurejo Semarang. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara dukungan keluarga dengan pelaksanaan diet rendah garam pada pasien hipertensi. Berdasarkan penelitian tersebut, maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan dukungan atau peran keluarga dengan memberikan pendidikan kesehatan keluarga sehingga pasien dapat patuh terhadap program diet rendah garam pada lansia (Partilia, 2012).
Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan oleh penulis di wilayah kerja Puskesmas Toworo Tengah, Kabupaten Muna Barat di peroleh jumlah lansia atau lanjut usia di setiap tahunnya mengalami peningkatan yang menderita hipertensi. Di mana pada tahun 2012 terdapat 180 lansia yang yang menderita hipertensi, pada tahun 2013 terdapat 193 penderita dan pada tahun 2014 terdapat 210 lansia yang menderita hipertensi. Sedangkan pada tahun 2015 terdapat 228 lansia yang menderita hipertensi. Pada tahun 2016 dalam 2 (dua) bulan terakhir tercatat lansia yang menderita hipertensi, Kabupaten Muna Barat berjumlah 10 lansia yang menderita hipertensi. Selain itu berdasarkan hasil wawancara antara penulis dengan 5 lansia  yang menderita hipertensi, Lansia masih memakan makan yang mengandung banyak garam meskipun kekambuhan hiperetnsi pada lansia sudah sering menyerang. Lansia datang ke puskesmas untuk melakukan pengobatan terhadap gejala-gejala tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Berdasarkan uraian di atas rumusan pada penelitian ini adalah :
Apakah ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat ?
Untukmengetahuipengaruh pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat.
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu tentang  pengaruh pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat.
Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai referensi dalam ilmu pengembangan keperawatan.
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pihak Puskesmas dan Lansia dalam melakukan  evaluasi dan perencanaan kegiatan
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti sendiri.
 Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti selanjutnya.

KERANGKA KONSEP PENELITIAN
Hipertensi adalah suatukeadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal ditujukan oleh angka sistolik (bagian atas) dan angka diastol (bagian bawah) pada pemeriksaan tensi darah.
Beberapa penyebab hipertensi adalah bertambahnya berat badan, konsumsi garam berlebih, alkohol, kopi dan rokok. Diantara berbagai faktor yang menyebabkan hipertensi konsumsi garam berlebih merupakan salah satu faktor serius yang paling banyak dilakukan oleh sebagian elemen masyarakat terutama pada lansia. Konsumsi garam berlebih akan meningkatkan kerja jantung yang tak seperti biasanya sehingga akan mengakibatkan terjadinya kerusakan pembuluh darah jantung, ginjal, otak dan mata. Rusaknya pembuluh darah di jantung dapat menyebabkan serangan jantung, sehingga hipertensi banyak menyebabkan serangan jantung.
Pendidikan kesehatan merupakan salah satu cara atau media untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pendidikan kesehatan bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang mendasar mengenai pola hidup sehat. Namun, ada kalanya pendidikan kesehatan yang di berikan tidak sesuai dengan harapan oleh tenaga kesehatan. Tingkat pengetahuan menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan dari pendidikan kesehatan yang diberikan. Pendidikan kesehatan mengarah pada pelaksanaan. Pelaksanaan yang dimaksud dalam hal ini adalah pelaksanaan tentang diet rendah garam. Pelaksanaan diet rendah garam mengarah pada penurunan tekanan darah. Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang berbagai elemen masyarakat tak terkecuali pada lansia. Lansia atau lanjut usia merupakan elemen masyarakat yang paling banyak terserang penyakit hipertensi. Terjadinya hipertensi pada lansia di sebabkan oleh cara makan yang tidak teratur seperti menggunakan kandungan garam yang berlebih dan kebiasaan minum kopi. Pendidikan kesehatan pada lansia bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap makanan. Namun yang menjadi kendala pengetahuan tentang pelaksanaan diet rendah garam sangat minim karena disebabkan oleh pola pikir yang mulai menurun. Pengetahuan yang baik terhadap pelaksanaan tentang diet rendah garam akan memberikan dampak yang baik terhadap penurunan hipertensi, akan tetapi jika lansia memiliki pengetahuan yang kurang terhadap pelaksanaan diet rendah garam akan memberikan dampak negatif.
Untuk mengantisipasi hipertensi pada lansia perlu dilakukan pendidikan kesehatan terhadap lansia yang menderita hipertensi guna untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan mengenai diet rendah garam serta meminum obat dan perilaku hidup sehat dalam mengurangi penyakit hipertensi. Hipertensi dan komplikasinya dapat dicegah dengan mengkonsumsi obat dan melakukan perubahan gaya hidup antara lain pengurangan berat badan, berhenti merokok, berhenti mengkonsumsi alkohol, mengubah pola makan dan mengurangi garam disertai asupan kalsium, magnesium dan kalium yang cukup.



B.    Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan tinjauan teoritis maka skema kerangka konsep penelitian ini adalah sebagai berikut :

Variabel Independen                                        
Pendidikan Kesehatan tentang diet rendah garam
 
 





Keterangan :        

 

 : Variabel Independen

 

: Variabel Dependen         

: Variabel Pengaruh
Gambar 1. Bagan Kerangka Konsep Penelitian
C.    Variabel Penelitian
1. Variabel Terikat (Dependent Variabel)
Variabel terikat penelitian ini adalah pelaksanaan hipertensi pada lansia.
2. Variabel Bebas (Independent Variabel)
Variabel   bebas pada penelitian ini pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam. Pelaksanaan adalah tingkat perilaku pasien yang tertuju terhadap intruksi atau petunjuk yang diberikan dalam bentuk terapi apapun yang ditentukan, baik diet, latihan, pengobatan.
D.    Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif
1. Hipertensi
    Hipertensi adalah naiknya tekanan darah diatas rata-rata. Hipertensi banyak menyerang pada lansia.
Kambuh                : Pada saat pengukuran > 140/90 mmHg
Tidak Kambuh: Pada saat pengukuran ≤ 140/90 mmHg











Variabel Dependen
Oval: KEKAMBUHAN
HIPERTENSI
 

















2. Pendidikan Kesehatan Pada Lansia Tentang Pelaksanaan diet Rendah Garam
             Pendidikan kesehatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah diet rendah garam terhadap kekambuhanhipertensi. Pemberian pendidikan kesehatan berupa diet rendah garam bertujuan untuk mengurangi kekambuhan hipertensi pada lansia. Namun, ada kalanya lansia tidak patuh/patuh terhadap pendidikan kesehatan yang diberikan. Lansia yang tidak patuh terhadap pendidikan kesehatan akan mengalami kesulitan dalam menurunkan atau mengurangi kekambuhan hipertensi, sedangkan lansia yang patuh cendrung lebih mudah dalam mengurangi kekambuhan hipertensi. Pendidikan kesehatan dilakukan dengan cara door to door atau rumah kerumah penderita hipertensi. Skala Penilaian yang digunakan adalah skala Guttman.
Bila jawaban “Benar”    = 1
Bila jawaban “Salah”    = 0
Jumlah pertanyaan         = 12
Jawaban tertinggi berbobot 1 dan terendah berbobot 0
Skor tertinggi    = jumlah pertanyaan kali bobot tertinggi= 10x1 = 10                                 (100%)
Skor terendah= jumlah pertanyaan kali bobot terendah= 10x0 = 0                     (0%)
Skor antara = skor tertinggi – skor terendah
                                                                                   = 100% - 0
                                                                                   = 100%
Kriteria objektif 2 kategori : :Patuh dan Tidak Patuh
I           = R/K
Keterangan :
I           = Interval
R          = Range (skor antara)
K          = Kategori (Sugiyono, 2006)
I           = 100%/2
             = 50%
Kriteria objektif :
a. Patuh= bila skor jawaban responden > 50%
b. Tidak Patuh = bila skor jawaban responden < 50%
E.    Hipotesis Penelitian
1.   Pendidikan Kesehatan
Ho    :  Tidak ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia  di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat.
Ha    :  Ada pengaruh pendidikan tentang pelaksanaa diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kaupaten Muna Barat

































































METODE PENELITIAN
A.     Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan desain Praexperiment.PraEskperiment merupakan desain penelitian experiment yang hanya menggunakan kelompok studi tanpa menggunakan kelompok kontrol, serta pengambilan responden tidak dilakukan randomisasi.

 
Tekanan Darah
 
Pendidikan Kesehatan
 
Tekanan Darah

 
 








Pree Test                  Pree TestPerlakuan

Gambar 2. Skema Penelitian
B.  Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat..
Penelitian ini telah dilaksanakan mulai pada tanggal 19 Mei sampai 19 Juni  2016.
C.  Populasi, Sampel dan Sampling
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian atau sekelompok orang, barang, benda yang mendiami suatu wilayah pada suatu periode tertentu (Murti, 2007). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh  lansia dalam kategori hipertensi yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat. Populasi pada penelitian ini adalah lansia yang berjumlah 10 orang. Lansia yang mengalami hipertensi yang datanya di peroleh dari Puskesmas berjumlah 10 orang.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karateristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2008). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 10 orang. Dalam hal ini lansia yang terdiagnosis menderita hipertensi.
Tehnik sampling pada penelitian ini adalah dilakukan secara total sampling yaitu seluruh dari populasi dijadikan sampel. Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 10 orang. Tehnik yang digunakan untuk mengambil sampel dalam penelitian ini adalah sampling jenuh (sensus) yang mana tehnik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang.












 


Post Test



D.  Pengunpulan Data

Data primer diperoleh dengan mengedarkan kuesioner kepada setiap responden, observasi dan wawancara langsung dengan memberikan penjelasan kepada responden bila terdapat hal-hal yang kurang dimengerti dalam menjawab kuesioner.
Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh melalui catatan khusus di ruangan tata usaha di Puskesmas Kec. Tiworo Tengah, sebagai data pelengkap dan penunjang data primer untuk keperluan penelitian.
E.  Pengolahan, Analisis dan Penyajian Data
a. (Editing)
Editing yaitu mengoreksi kesalahan-kesalahan yang di tentukan.Peneliti melakukan pengecekan kelengkapan data yang ada. Jika ditemukan data yang salah maka data tersebut tidak akan dipakai.
b. (Coding)
Adalah usaha untuk mengklasifikasi jawaban yang ada menurut jenisnya.Dilakukan dengan memberi tanda pada masing-masing jawaban dengan kode berupa simbol-simbol.
c. (Tabulating)
Sebelum data diklarifikasi, data dikelompokkan menurut kategori yang telah ditentukan, selanjutnya data ditabulasikan sehingga diperoleh frekuensi dari masing-masing tabel.

d. (Entry)
Proses memasukkan data ke dalam computer dengan SPSS sebelum dilakukan analisa dengan computer dilakukan pengecekan ulang terhadap data.


e. Cleaning
Proses pembersihan data yang dianggap menganggu proses analisis.
2. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS (Statitical Product and Sevice Solution) versi 16.0 dan analisis data dijabarkan sebagai berikut :
a. Analisis Univariat
Dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi variabel yang diteliti yaitu pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pelaksanaan diet rendah garam pada lansia. Menggunakan Rumus (Arikunto, 2008).
x100%
Keterangan :
X             =  Hasil Presentase
F              =  Frekuensi Hasil Pencapaian
n              =  Total Seluruh Observasi
100%     =  Bilangan Genap
b. Analisis Bivariat
Dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dengan Variabel yang diteliti yaitu  pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pelaksanaan diet rendah garam pada lansia dengan menggunakan uji pairet sampel T-test.
 







Keterangan :
T             : Nilai t hitung
D             : Rata-rata Pengukuran 1 dan 2
SD          : Standar Deviasi hasil pengukuran 1 dan 2
n                              : Jumlah Sampel (Arikunto, 2007)
3. Penyajian Data
Data disajikan dalam bentuk tabel 2x2 dan diinterpretasikan dalam bentuk narasi dengan penjelasan-penjelasannya.
F.     Etika Penelitian
1.Persetujuan Menjadi responden (Informed Concent)
Lembar persetujuan diberikan kepada calon responden yang akan diteliti yang memenuhi kriteria inklusi. Bila calon responden menolak, maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-hak yang bersangkutan.
2. Tanpa Nama (Anonimity)
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden tetapi lembar tersebut diberikan kode.
3.Kerahasian (Considentialy)
Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.




















HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1.       KarakteristikResponden
Karakteristikrespondendalampenelitianinimeliputiumur, jeniskelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan.Adapunpenjelasankarakteristikrespondentersebutdapatdilihatpadatabelberikut :
a. DistribusiFrekuensiRespondenBerdasarkanKelompokUmur.
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkankelompokumur, sebagaimanadiuraikanpadatabel di bawahini.
Tabel5 :DistribusiRespondenBerdasarkanUmurdi PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
No
Umur (Tahun)
Jumlah (n)
Persen (%)
1.
60-65
5
50
2.
66-70
1
10
3.
>70
4
40
Total
10
100
Sumber: Data PrimerDiolah Juli 2016

Tabel5menunjukkanbahwadari10responden kasus hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah tertinggi pada umur 60-65 tahun sebanyak 5 respondedn (50%), pada usia 66-70 sebanyak 1 responden (10%), dan usia >70 tahun sebanyak 4 responden (40%).
b.       DistribusiRespondenBerdasarkanJenisKelamin
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkanjeniskelamin, sebagaimanadiuraikanpadatabel di bawahini.
Tabel6 :DistribusiRespondenBerdasarkanJenis Kelamindi PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
No
Jenis Kelamin
Jumlah (n)
Persen (%)
1.
Laki-laki
1
10
2.
Perempuan
9
90
Total
10
100
Sumber: Data Primer Diolah Juli 2016
Tabel6menunjukkanbahwadari10responden kasus hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah berdasarkan jenis kelamin responden dimana pada laki-laki berjumlah 1 responden sebesar (10%), sedangkan pada perempuan berjumlah 9 responden sebesar (90%).
c.  DistribusiRespondenBerdasarkanTingkat Pendidikan
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkantingkat pendidikan, sebagaimanadiuraikanpadagambar di bawahini.
Tabel7 :DistribusiRespondenBerdasarkanTingkat Pendidikandi PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
No
Tingkat Pendidikan
Jumlah (n)
Persen (%)
1.
SMA
1
10
2.
SMP
2
20
3.
SD
7
70
Total
10
100
Sumber: Data Primer Diolah Juli 2016
Tabel7menunjukkanbahwadari10responden kasus hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah berdasarkan tingkat pendidikan responden dimana pada SMA berjumlah 1 responden (10%), pada SMP berjumlah 2 responden (20%), sedangkan pada SD berjumlah 7 responden (70%).
d. DistribusiRespondenBerdasarkanPekerjaan
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkanjenispekerjaan, sebagaimanadiuraikanpadatabel di bawahini.
Tabel8 :DistribusiRespondenBerdasarkanJenis PekerjaanLansia diPuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
No
Pekerjaan
Jumlah (n)
Persen (%)
1.
Wiraswasta
2
20
2.
Petani
8
80
Total
10
100
Sumber: Data PrimerDiolah Juli 2016
Berdasarkan tabel 8 di atas tingkat pekerjaan dari responden tertinggi pada pekerjaan petani sebanyak 8 (80%) responden, diikuti oleh wiraswasta sebanyak 2 (20%) responden.
2.       AnalisisUnivariat
Adapunhasilpengolahan data tentangvariabelpenelitiandapatdiuraikansebagaiberikut:
a. DistribusiRespondenBerdasarkan Pendidikan Kesehatan
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkanpelaksanaan pelaksanaan hipertensi, sebagaimanadiuraikanpadatabel di bawahini.
Tabel9 :DistribusiRespondenBerdasarkanPendidikan Kesehatandi PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat  Tahun 2016.
No
Pelaksanaan diet rendah garam
Pendidikan kesehatan
%
Pre
Post
1.
Patuh
2
8
80
2.
Tidak Patuh
8
2
20
Total
10
10
100
Sumber : Data Primer Diolah Juli 2016
Tabel9menunjukkanbahwadari10responden yang menderita hipertensi, sebelum diberikan pendidikan kesehatan terdapat 8 responden yang tidak patuh sebesar (80%), sedangkan yang patuh berjumlah 2 responden sebesar (20%). Setelah diberikan pendidikan kesehatan 8 responden 8 yang patuh sebesar (80%), sedangkan yang tidak patuh berjumlah 2 responden sebesar (20%)
Tabel10 :DistribusiRespondenBerdasarkanKekambuhan (HT) Hipertensi Pada Lansiadi PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
No
Kekambuhan hipertensi
Tekanan Darah
%
Pre
Post
1.
Kambuh
6
4
40
2.
Tidak Kambuh
4
6
60
Total
10
10
100
Sumber: Data PrimerDiolah Juli 2016
Tabel 10 menunjukkan dari 10 responden yang menderita hipertensi dan melakukan kunjungan ke Puskesmas,sebelum pendidikan kesehatan terdapat 6 (60%) responden yang mengalami kekambuhan hipertensi, sedangkan 4 (40%) responden tidak mengalami kekambuhan hipertensi. Namun, setelah diberikan pendidikan kesehatan berupa diet rendah garam, terdapat 4 (40%) responden mengalami kekambuhan hipertensi, sedangkan 6 (60%) responden tidak mengalami kekambuhan hipertensi.
3. Analisis Bivariat
a. PairetSampelt-test
Hasilanalisis data tentanganalisis pendidikan kesehatan terhadap kekambuhan hipertensi pada Responden di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat, dapatdilihatpadatabelberikutini:
Tabel11 : Analisis Pendidikan Kesehatan Sebelum dan sesudah Pada Responden Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
Pendidikan Kesehatan

Kekambuhan hipertensi
NilaiStatistik
Pre
Post
n
%
n
%
thit = 12.075
ttab = 2,262
Sig      = 000

Patuh
2
20
8
80
Tidak Patuh
8
80
2
20
Total
10
100
10
100
Sumber : Data Primer Diolah Juli 2016
Tabel 11 menunjukkan bahwa hasil analisis pendidikan kesehatan terhadap kekambuhan hipertensi pada Responden, diperoleh bahwa dari 10 responden yang menderita kekambuhan hipertensi, lebih banyak ketidak patuhan terhadap kekambuhan hipertensi sebanyak 8 (100%). Setelah dilakukan pendidikan kesehatan hipertensi pada responden terdapat 8 responden yang patuh sebanyak (80%), serta masih terdapat responden yang tidak patuh terhadap kekambuhan hipertensi meskipun sudah diberikan pendidikan kesehatan pada responden, sebanyak 2 responden atau (20%).
Hasil uji Normalitas data nilai Sig > 0.05 (P> 0.208) yang berarti data berdistribusi normal, sehingga perlu dilakukan uji Paired sample T-Test untuk mengetahui besar pengaruh pendidikan kesehatan terhadap diet rendah garam pada responden hipertensi.
HasilujiPaired sampleT-Test menunjukkanbahwathit  = 12.075, ttab = 2,262 artinya bahwa pendidikan kesehatan berupa diet rendah garam berpengaruh terhadap penurunan kekambuhan hipertensi pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat.
B. Pembahasan
1. Karateristik Responden
a. Umur Responden
Berdasarkan hasil penelitian rata-rata usia lansia yang menjadi responden hampir didominasi pada usia 60-65 dengan jumlah 7 responden (70%) (Tabel. 5), sedangkan pada usia > 70 berjumlah 3 responden (30%) (Tabel 5.). Hal ini dapat diasumsikan bahwa semua responden dapat mengalami kekambuhan hipertensi.
Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua umur seseorang semakin besar resiko terserang hipertensi. Semakin tua umur seseorang, maka tekanan darah akan lebih meningkat karena terjadi perubahan alami pada jantung dan berkurangnya elastistas dari arteri, sehingga hipertensi lebih tinggi terjadi pada usia lanjut. Menurut Sugiharto (2007) dalam Rosiana (2013) umur lebih dari 40 tahun mempunyai resiko terkena hipertensi.
b. Berdasarkan Jenis Kelamin
    Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin tertinggi pada wanita 9 responden (90%), sedangkan pada laki-laki berjumlah 1 responden (10%). Hasil ini menunjukkan bahwa wanita banyak mengalami hipertensi di banding pada laki-laki, disebabkan karena pada wanita terdapat hormon ekstrogen.
Menurut Prihandana (2012), hipertensi lebih banyak dialami oleh wanita dibandingkan dengan laki-laki disebabkan karena hormon esktrogen pada wanita.
c. Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Hasil penelitianmenunjukkanbahwadari10responden yang mengalami hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah berdasarkan tingkat pendidikan responden dimana pada Strata-1 (S-1) berjumlah 0 responden sebesar (0%), pada SMA berjumlah 1 responden (10%), pada SMP berjumlah 2 responden (20%), sedangkan pada SD berjumlah 7 responden (70%). Hal ini dapat diasumsikan bahwa lansia yang memiliki pendidikan paling rendah lebih sering mengalami kekambuhan hipertensi dibanding dengan lansia yang memiliki pendidikan lebih tinggi. Karena disebabkan oleh kurangnya pengetahuan lansia terhadap hipertensi dan sulitnya atau lambat dalam menerima informasi yang diberikan oleh petugas kesehatan.
Menurut Anggara dan Prayitno (2013) tingginya resiko terkenan hipertensi pada pendidikan yang rendah, kemungkinan disebabkan karena kurangnya pengetahuan pada pasien yang berpendidikan rendah terhadap kesehatan dan sulit atau lambat menerima informasi (penyuluhan) yang diberikan oleh petugas, sehingga berdampak pada perilaku/pola hidup sehat.
Menurut Budiman (2012) yang meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan berobat pasien yang diterapi Tamoxifen setelah operasi kanker payudara. Hasilnya adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pelaksanaan berobat dengan nilai p = 0,004.
d. Berdasarkan Pekerjaan
Hasil penelitian dari tingkat pekerjaan dari responden tertinggi pada pekerjaan petani sebanyak 8 (80%) responden, diikuti oleh wiraswasta sebanyak 2 (20%) responden. Hampir sebagain besar responden bekerja sebagai petani. Hipertensi berkaitan dengan pekerjaan, seseorang sering melakukan aktfitas fisik akan berpengaruh terhadap metabolisme didalam tubuh, sedangkan orang yang tidak melakukan aktifitas dapat mengalami hipertensi.
Menurut Kristansti et, al. (2013) pekerjaan berpengaruh kepada aktifitas fisik seseorang. Orang yang tidak bekerja aktifitas fisiknya tidak banyak sehingga dapat meningkatkan kejadian hipertensi.
2. Analisis Kekambuhan Hipertensi Sebelum Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan merupakan salah cara atau media untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pendidikan kesehatan bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang mendasar mengenai pola hidup sehat. Namun, ada kalanya pendidikan kesehatan yang di berikan tidak sesuai dengan harapan oleh tenaga kesehatan.
    Pada penilaian tentang pelaksanaan diet rendah garam pada responden sebelum dilakukan pendidikan kesehatan terdapat ketidaktahuan responden terhadap penyakit hipertensi, sebanyak 10 responden menjawab hampir tidak tau apa itu hipertensi, apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya, serta hal ini akan menyebabkan ketidakpatuhan responden terhadap penanganan hipertensi yang sering menyerang pada responden di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah. Namun, ketidaktahuan dan ketidakpatuhan responden bukan disebabkan karena responden tersebut, melainkan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh responden.
Berdasarkan hasil uji Univariat menunjukan bahwa sebelum dilakukan pendidikan kesehatan, dari total 10 responden. 8 responden (80%) menjawab tidak patuh atau tidak tau apa hipertensi, sedangkan 2 responden (20%) menjawab patuh. Hal ini di sebabkan tingkat pendidikan responden paling rendah yaitu tingkat SD berjumlah 7 responden (70%), SMP berjumlah 2 responden (20%) dan SMA berjumlah 1 responden (10%) . Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan kesehatan seseorang, semakin rendah tingkat pendidikan seseorang maka semakin sulit menyerap informasi yang diberikan, sehingga mengakibatkan  ketidakpatuhan, karena semakin rendah tingkat pendidikan akan mempengaruhi daya serap seseorang dalam menerima informasi.
Hendra (2008), mengatakan bahwa tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami suatu pengetahuan yang mereka peroleh, pada umumnya semakin  tinggi  pendidikan seseorang makin baik pengetahuannya dan makin mudah pula untuk menerima informasi. Menurut Nursalam (2002), makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pengetahuan yang dimiliki.
Penelitian Sukamto (2007) dengan judulhubungan antara tingkat pengetahuan klien tentang hipertensi dengan pelaksanaan dalam menjalankan diit hipertensi dengan hasil penelitiannya adalah p< a dimana 0,02 < 0,05 yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan klien tentang hipertensi dengan pelaksanaan dalam menjalankan diit hipertensi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan usia 60-65 berjumlah 7 responden (70%), usia 70 > berjumlah 3 responden (30%). Hal ini dapat di asumsikan bahwa  semakin lanjut usia seseorang akan semakin susah dalam menyerap informasi di karena keadaan mental yang sudah menurun. Semakin bertambahnya usia seseorang maka proses perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur-umur tertentu (Sumantri, 2013) dalam (Suparyanto, 2010).  Usia yang lanjut akan mengalami kemunduran daya ingat, sehingga tidak dapat memahami pelaksanaan diet rendah garam dengan sempurna, namun hanya berkeinginan untuk menuruti keinginannya yaitu makan makanan yang diinginkannya (Sumantri, 2013).
Pelaksanaan diet rendah garam pada responden hipertensi sebelum dilakukan pendidikan kesehatan hampir sebegian besar masih menggunakan bumbu masak seperti viksin, kecap dan masako. Dari hampir semua pertanyaan yang diajukan di dapatkan bahwa banyak responden yang tidak patuh dalam penggunaan bumbu masak seperti viksin, kecap dan menggunakan garam yang berlebih yang dapat meningkatkan kekambuhan hipertensi pada responden. Penggunaan garam > 1 sendok akan meningkatkan jantung bekerja lebih keras. Tekanandarahtinggi yang terusmenerusmenyebabkanjantungseseorangbekerjalebihkeras, akhirnyakondisiiniberakibatterjadinyakerusakanpadapembuluhdarahjantung,ginjal, otak, danmata.Selain itu juga, konsumsi garam berlebih dapat meyebabkan terjadinya hipertensi. Komponen utama dari garam adalah natrium clorida. Konsumsi garam yang berlebih dapat menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga jantung terus memompa keras untuk mendorong volume darah yang meningkat melalui ruang yang makin sempit sehingga mengakibatkan hipertensi.
Menurut Sutanto (2010) Konsumsi natrium berlebih menyebabkan cairan ekstraseluler meningkat, volume darah juga meningkat sehingga dampak timbulah hipertensi. Mekanisme yang mendasari sentivitas garam pada beberapa pasien disebabkan oleh beberapa hal, yaitu : ketidakmampuan ginjal mengekresikan natrium, pengaturan sirkulasi ginjal yang tidak normal, dan sekresi aldosteron (Sumantri, 2013) dalam (Aisyiyah, 2009).
3. Analisis Kekambuhan Hipertensi Sesudah Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai pola hidup sehat pada masyarakat yang mempunyai peran dapat mengurangi penyakit yang diderita oleh individu. Pendidikan kesehatan yang dimaksud disini adalah memberikan pendidikan kesehatan pada responden yang mengalami kekambuhan hipertensi mengenai diet rendah garam yang bertujuan untuk menurunkan atau mengurangi tekanan hipertensi.
Diet rendah garam yang diberikan melalui pendidikan kesehatan harus sesuai dengan berat ringannya penyakit yang diderita oleh responden, diet rendah garam di bagi berdasarkan berat dan ringannya seorang responden terkena hipertensi. Pembagian diet rendah garam meliputi diet rendah garam I, II, dan III) yang penambahan natrium maksimal sebesar 1.00-1.200 m/hari dan pada pengolahan makan boleh menambah satu sendok teh garam dapur/hari atau 4 gram (PERSAGI, 2009).
Berdasarkan hasil uji Univariat menunjukan bahwa sesudah dilakukan pendidikan kesehatan, dari total 10 responden. 8 responden (80%) menjawab patuh, sedangkan 2 responden (20%) menjawab tidak patuh. Hal ini di sebabkan sikap dan motivasi dari responden yang melakukan pengobatan terhadap penyakit hipertensi. Namun sikap dalam hal ini adalah sikap responden dalam menerima pendidikan kesehatan terhadap pelaksanaan diet rendah garam pada penyakit hipertensi. Selain itu juga pendidikan berkala yang diberikan oleh petugas kesehatan dapat dimengerti dan dipahamai oleh responden. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Norman (2012), mengenai pengaruh ceramah kesehatan terhadap pelaksanaan dan tekanan darah pasien hipertensi di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok, dengan jumlah responden 122 orang, yang mengalami peningkatan pelaksanaan sebanyak 68 orang, 48 orang tetap dan 2 orang mengalami penurunan pelaksanaan.
Faktor keluarga dapat memberikan dorongan yang kuat terhadap penurunan tekanan darah pada anggota keluarganya dalam hal ini adalah responden. Keluarga yang memiliki responden dan cendrung terkena penyakit hipertensi akan selalu diperhatikan pola makan dan kesehatannya agar kekambuhan hipertensi tidak sering menyerang, sehingga dukungan keluarga terhadap responden hipetensi sangat besar.  Menurut Andrayani (2013) hubungan dukungan keluarga dengan tingkat pelaksanaan diet rendah garam pada penderita hipertensi di Poliklinik Jantung RS DR. Saiful Anwar malang, dengan 89 responden didapatkan hasil hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan tingkat pelaksanaan diet rendah garam. Partilia (2012) pada 45 responden di RSUD Tugurejo Semarang yang menunjukkan hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan pelaksanaan diet rendah garam.
Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah pada responden sebelum dilakukan pendidikan kesehatan berkisar antara 140/100-190/100 mmHg (Lampiran. 5). Hal ini dapat diasumsikan bahwa hampir semua responden yang dijadikan responden dapat terindikasi mengalami kekambuhan hipertensi kapan saja, karena kisaran tekanan darah rata-rata responden mencapai 140/100-190/100 mmHg (Lampiran. 5). Sebanyak 6 responden (60%) mengelami kekambuhan hipertensi, sedangkan 4 responden (40%) tidak mengalami kekambuhan hipertensi (Tabel. 10). Namun setelah di berikan pendidikan kesehatan, sebanyak 6 responden (60%) tidak mengalami kekambuhan hipertensi, sedangkan 4 responden (40%) mengalami kekambuhan hipertensi (Tabel. 10). Sebanyak 6 responden mengalami penurunan yang signifikan yang besar mencapai 135/90-150/100 mmHg (Lampiran. 5) pada responden hipertensi.
Hasil uji Paired sample t-test dimana thit = 12.075, ttab= 2.262 hal ini berarti menunjukkan adanya pengaruh yang  bermakna antara pelaksanaan diet rendah garam sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan. Nilai signifikasi .000 (P< 0,05).
Hasil pendidikan kesehatan pada responden mengalami peningkatan dari 10 responden, yang menjawab tidak patuh menjadi 2 responden (20%) yang tidak patuh, sedangkan 8 responden (80%) patuh terhadap pendidikan kesehatan yang diberikan berupa diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi. Hal ini di dasarkan pada responden meskipun memiliki pendidikan yang rendah tetapi memiliki motivasi dan patuh terhadap program-program diet rendah garam. Dengan motivasi dan pelaksanaan yang dimiliki oleh responden yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat, dapat menurunkan tekanan hipertensi yang dapat menyebabkan kekambuhan hipertensi pada responde

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut :
Ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat. Dengan nilai Paired sample t-test dimana thit = 12.075, ttab= 2.262 hal ini berarti menunjukkan adanya pengaruh yang  bermakna antara pelaksanaan diet rendah garam sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan. Nilai signifikasi .000 (P< 0,05).
B. Saran
Saran yang dapat di ajuan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Muna Barat
Sebaiknya senantiasa memberikan penyuluhan tentang pendidikan kesehatan mengenai kekambuhan hipertensi di Desa-desa agar masyarakat dapat memahami dampak yang ditimbulkan oleh hipertensi, selain dampak yang diakibatkan oleh hipertensi, penyuluh kesehatan juga dapat memberikan pengetahuan tentang pencegahan hipertensi pada responden dan keluarga.
2. Bagi Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat
Diharapkan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terutama untuk penyakit hipertensi agar masyarakat dapat merasakan pelayanan yang memuaskan.
3. Bagi Kepala, Staf, Dokter, Bidan, Perawat dan Apoteker di Puskesmas Tiworo Tengah
Dapat memberikan layanan yang baik terhadap masyarakat apabila ada masyarakat yang terkena penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi.
4. Bagi Perawat
Hasil penelitian ini dapat menjadi penambah pemahaman perawat tentang perawatan pasien hipertensi, yaitu tentang pentingnya menjaga kondisi psikologis pasien, selain itu juga tentang pola makan yang baik dan melakukan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi.
5. Bagi Pasien hipertensi
Pasien hipertensi hendaknya menyadari keadaan dirinya dan mampu menerima keadaanya saat ini. Pasien hipertensi  hendaknya bisa melakukan pencegahan atau kekambuhan hipertensi dengan melakukan diet rendah garam yang dapat menurunkan hipertensi.
DAFTAR PUSTAKA

Abdillah,  E. R. (2012), Hubungan tingkat pengetahuan diet rendah garam dengan pelaksanaan diet rendah garam serta di Poli Jantung RSAA Malang. Skripsi. Diakses tanggal 16 Desember 2015.
Achjar,  K. A. (2011), Teori dan Praktikum : Asuhan Keperawatan Komunitas. Jakarta. EGC.
Aisyiyah (2009), Faktor resiko hipertensi pada empat kabupaten/Kota dengan prevalensi Hipertensi di Jawa dan Semarang. Fema. Ipb.ac.id. diakses Februari 2016.
Andrayani (2013), Hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kepatuhan diet rendah garam pada penderita hipertensi di RS. Saiful anwar Malang. Old.fk.ub.ac.id/artikel/idfiledownload/arya/pdf. Diakses Februari 2016.
Azizah, L. M. (2011), Keperawatan Lanjut Usia. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Budiman, A (2012), Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan berobat pasien yang diterapi Tamoxifen setelah operasi Ca payudara di RS Dr M. Djamil Padang. http://jurnal.fk.unad.ac.id. Diakses Maret 2016.
Corwin, (2007), BukuSakuPatofisiologi. Jakarta: PenerbitBukuKedokteran EGCDengan kepatuhan Dalam MenjalankanDiit Hipertensi di Poliklinik RSUD TuguRejo Semarang. Skripsi tidakdipublikasikan. Semarang : Program StudiIlmu Keperawatan
Depkes RI, (2005), PedomanPelaksanaanPuskesmas. Jakarta
Depkes RI. (2009), jenis-jenis hipertensi dan penyebabnya. Jakarta.
Dharma,  H. K. (2012), Metodologi penelitian keperawatan pedoman melaksanakan dan menerapkan hasil penelitian, Trans Info Media, Jakarta Timur.
Diehl,  (2007),Waspadai Diabetes-Kolesterol-Hipertensi. Terjemahan: Budiati, Winarni. Penerbit: Indonesia Publishing House.Bandung.
Dinkes Provinsi Sultra, 2014, Data Penderita Hipertensi Sultra.
Effendi, (2008), Dasar – dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. EGC.Jakarta
Effendy, N dan Rosyid, F.N. (2011), Hubungan kepatuhan Diet rendah garam dan terjadinya kekambuhan pada pasien Hipertensi di wilayah Puskesmas Pasongsongan Kabupaten Sumenep, Madura. Jurnal ilmu kesehatan Masyarakat. Universitas Muhamadyah Surabaya, ISSN 2087-8672.
Hendra A.W.,  (2008),  Ilmu  Keperawatan  Dasar,  Edisi  Ke-2,  Penerbit Mitra Cendikia Press.. Yogyakarta.
Legowo, I, A. (2014). Hubungan Pengetahuan Pasien dan Dukungan Keluarga dengan Motivasi Pelaksanaan diet rendah garam pada Pasien Hipertensi di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
Mubarak dan Chayatin,  (2009). Buku Ajar Keperawatan Komunitas 2 Teori danAplikasi Dalam Praktek. Jakarta: SagungSeto.
Muninjaya (2008), Manajemen Kesehatan. Edisi 3. Jakarta: EGC.
Norman (2012), Pengaruh ceramah kesehatan terhadap kepatuhan dan tekanan darah pasien hipertensi di Puskesmas Kecamatan Beji Depok. Ui.ac.id.file.diakses April 2016.
Notoatmojo, S. (2010), Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Cetakan I, PT. Rineka Cipta, Jakarta.
Nursalam (2002), Menajemen Keperawatan, Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional. Salemba Medika. Jakarta.
Partilia, D. F. (2012), Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet rendah garam dan keteraturan kontrol tekanan darah pada penderita hipertensi di RSUD Tugurejo Semarang. Diakses Tanggal 16 Desember 2015.
PERSAGI (2009), Kamus pelengkap Kesehatan Keluarga. PT. Kompas Media Nusantara. Jakarta.
Pratiwi (2011). Pengaruh Konseling obat terhadap kepatuhan Pasien hipertensi di Poliklinik khusus RSUP DR. Djamil Padang. http://pasca.unand.ac.id/id/wp-content/uploads/2016/Artikel.pdf. diakses Maret 2016.
Pudjiastuti,  R. D. (2011). Penyakit Pemicu Stroke : Dilengkapi Posyandu Lansia dan Posbindu PTM. Nuha Medika Press, Yogyakarta.
Rahma, E,. Rahman, M.S, Wijiutami, Y,. 2012,Hubungan TingkatPengetahuan tentang DietRendah Garam terhadapKepatuhan Pelaksanaan DietRendah Garam sertaHubungan Pengetahuan dan Kepatuhan Diet RendahGaram Pasien Hipertensi diPoli Jantung RSSA Malang,Abstrak, Program Studi IlmuKeperawatan FKUB.
Ririn (2008), Hubungan stres kerja terhadap hipertensi pada pegawai dinas kesehatan kota pekanbaru Tahun 2008. Skripsi.
Robbin, S,. 2006, Perilaku Organisasi, PT. IndeksKelompok Gramedia, Jakarta.
STIKES Mandala Waluya.PedomanPenulisanSkripsi. Edisi III. Kendari, 2015
Sudarmoko, A. 2015. Sehat Tanpa Hipertensi. Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta.
Sukamto A. (2007)  Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Klien Tentang Hipertensi
Dengan kepatuhan Dalam Menjalankan Diit Hipertensi di Poliklinik RSUD Tugu Rejo Semarang. Skripsi tidak dipublikasikan. Semarang : Program StudiIlmu Keperawatan
Sumantri, A. (2013), Pengaruh pendidikan kesehatan hipertensi pada keluarga terhadap kepatuhan rendah diet garam lansia hipertensi di Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati. Skripsi.  Sekolah Tinggi Ilmu Kesahatan A’isyiyah, Yogyakarta.
Sutanto (2010), Cekal (Cegah dan Tangkal) penyakit Modern. CV. Andi. Yogyakarta.
Wahdah,  N. (2011), Menaklukan Hipertensi dan Diabetes. Multi Solusindo, Yogyakarta.
Widyasari, D.F  dan Candrasari, A. (2010), Pengaruh pendidikan kesehatan tentang hipertensi terhadap perubahan pengetahuan dan sikap lansia di Desa makam haji Kartasura Sukoharjo. Jurnal Biomedika Fakultas Kedokteran, Universitas UMS.
World Health Organization (WHO)  (2003), Internasional Society of Hypertension Guideline for Management of Hypertension, Journal Hypertension.
Yulianti, (2006), 30 Ramuan Penakluk Hipertensi.Penerbit PT. Agro Media Pustaka. Jakarta.Text Box: PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PELAKSANAAN DIET RENDAH GARAM TERHADAP KEKAMBUHAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI 
WILAYAH KERJA PUSKESMAS TIWORO TENGAH 
KABUPATEN MUNA BARAT

Made Endrawati*), Cici Yusnayanti**) Ahmad Saleh***)
Program Studi S-1 Keparawatan Ilmu Keparawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Mandala Waluya Kendari (Stikes WM Kendari

ABSTRAK
Pada umumnya hipertensi banyak di alami oleh lansia, hal dibuktikan dengan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan pada lansia. Berdasarkan kekambuhan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten. Muna Barat. Pada tahun 2012 tercatat 90% lansia menderita hipertensi, tahun 2013 terdapat 96,5% penderita hipertensi, pada tahun 2014 terdapat 84% penderita hipertensi, tahun 2015 terdapat 91,2% penderita hipertensi. Pada tahun 2016 dalam 2 (dua)bulan terakhir tercatat 10% lansia penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat.
Jenis penelitian ini menggunakan desain Pra experiment tanpa menggunakan kelompok kontrol. Populasi penelitian adalah semua lansia yang menderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten. Muna Barat. Pada Bulan Mei-Juni 2016 sebanyak 10 sampel. Uji statistik menggunakan Paired t-test Sample.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan tekanan darah atau kekambuhan hipertensi terhadap pendidikan kesehatan mengenai diet rendah garam, dengan nilai statistik thit = 12.075, ttab = 2,262,  Nilai Sig 000 (P< 0.05).
Ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat. Disarankan hendaknya lansia lebih meningkatkan pelaksanaan diet rendah garam terhadap konsumsi makanan sehari sehingga dapat menurunkan kekambuhan hipertensi. Pelaksanaan pendidikan kesehatan berupa diet rendah garam dapat  menurunkan penyebab terjadi kekambuhan hipertensi pada lansia. 
Kata Kunci :  Kekambuhan Hipertensi, Pendidikan Kesehatan, Diet Rendah Garam, Puskesmas Tiworo Tengah, Kabupaten Muna Barat
















PENDAHULUAN
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) (2012) sedikitnya jumlah penderita hipertensi sebanyak 839 juta kasus hipertensi, dan diperkirakan menjadi 1,15 milyar pada tahun 2025 atau sekitar 29% dari total penduduk dunia Padahal hipertensi merupakan penyebab utama penyakit jantung, kerusakan hati dan kerusakan ginjal. 
Di Indonesia banyaknyapenderitahipertensidiperkirakan 15 juta orang tetapihanya 4% yang merupakanhipertensiterkontrol, prevalensi 6-15% pada orang dewasa.15% diantaranyatidakmenyadarisebagaipenderitahipertensisehinggamerekacenderunguntukmenjadihipertensiberatkarenatidakmenyadaridantidakmengetahuifaktor-faktorresikonya.Dan 90% merupakanhipertensiesensialsaatinipenyakitdegeneratifdancardiofasculersudahmerupakansalahsatumasalahkesehatanmasyarakat di Indonesia (Ririn 2008).































Data penderitahipertensi di ProvinsiSultrabahwapadatahun 2012 jumlahkunjunganbaruhipertensipadapasienrawatjalansebanyak 3.672 orang, tahun 2013 sebanyak 5.758 orang danpadatahun 2014 sebanyak 5.789 orang (DinkesProvinsiSultra, 2014).
Hipertensi pada umumnya menyerang hampir sebagian kalangan masyarakat tak terkecuali lansia atau lanjut usia. Lansiaadalah proses menjadilebihtuadenganumurmencapai 45 tahunkeatas. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi. Empat penyakit yang sangat erat hubungannya dengan lansia adalah hipertensi (tekanan darah tinggi), gangguan metabolisme hormonal, gangguan persendian dan berbagai neoplasma (Azizah, 2011).
Tekanandarahtinggi yang terusmenerusmenyebabkanjantungseseorangbekerjalebihkeras, akhirnyakondisiiniberakibatterjadinyakerusakanpadapembuluhdarahjantung,ginjal, otak, danmata.Hipertensimerupakanpenyebabumumterjadinya stroke danseranganjantung(Heartattack), hipertensijugaseringdisebutThe Silent Killer, karenahanyamenimbulkanbeberapagejala, seseorangdapatmenderitahipertensitanpamengetahuinya (Pudiastuti,2011).
Hipertensi disebabkan oleh hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer seperti keturunan, gaya hidup (kebiasaan makan, alkohol dan rokok), sedangkan hipertensi sekunder seperti kelebihan berat badan, kelebihan kolesterol (Wahdah, 2011).
Daribeberapafaktordominanpenyebabhipertensi, faktorkelebihanberatbadandapatmeningkatkanseseorangterserangpenyakithipertensi. Semakinbesarmassatubuh, makasemakinbanyakdarah yang dibutuhkanuntukmemasokoksigendanmakanankejaringantubuh. Selain itu juga, konsumsi garam berlebih dapat meyebabkan terjadinya hipertensi. Komponen utama dari garam adalah natrium clorida. Konsumsi garam yang berlebih dapat menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga jantung terus memompa keras untuk mendorong volume darah yang meningkat melalui ruang yang makin sempit sehingga mengakibatkan hipertensi.
Dalam usaha menurunkan angka morbiditas hipertensi pada lansia, haruslah dilakukan pendidikan kesehatan yang bertujuan untuk mengurangi penyakit hipertensi pada lansia. Pendidkan kesehatan pada lansia berupa pemahaman dan pengetahuan terhadap hipertensi seperti mengurangi konsumsi lemak, mengatur pola hidup, olahraga secara teratur, mengurangi konsumsi garam, menghindari rokok dan menghindari kopi. Menurut Widyasari dan Candrasari (2010), menyimpulkan bahwa ada peningkatan signifikan secara statistik dalam pengetahuan dan sikap setelah pemberian kesehatan tentang hipertensi. Selain itu pula faktor keluarga sangat berperan dalam mengurangi penderita hipertensi. Karena keluarga merupakan sarana yang paling berperan dalam pemberian pendidikan kesehatan berupa pemahaman dan pengetahuan mengenai hipertensi sehingga pasien dapat patuh terhadap program diet rendah garam.
Salah satu metode yang baik digunakan oleh tenaga kesehatan untuk mengurangi morbiditas hipertensi pada lansia adalah dengan pemberian pendidikan kesehatan berupa pelaksanaan diet rendah garam seperti mengurangi makan yang memiliki kandungan garam tidak terlalu banyak. Pemberian makan yang memiliki kandungan garam sedikit atau yang lebih dikenal dengan diet rendah garam dapat mengurangi atau menurunkan hipertensi. Konsumsi garam yang sedikit dapat mengurangi volume darah di jantung, sehingga jantung lambat dalam memompa akibatnya ruang yang sempit akan tetap terisi oleh darah yang tidak mempunyai tekanan tinggi. Rendahnya pelaksanaan terhadap diet rendah garam membuat meningkatnya hipertensi, sehingga perlu dilakukan perbaikan intervensi untuk meningkatkan angka pelaksanaan diet rendah garam pada penderita hipertensi (Effendy dan Rosyid, 2011).
Hubungan dukungan keluarga dengan pelaksanaan diet rendah garam dan ketaatan kontrol tekanan darah pada pasien hipertensi di RSUD Tugurejo Semarang. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara dukungan keluarga dengan pelaksanaan diet rendah garam pada pasien hipertensi. Berdasarkan penelitian tersebut, maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan dukungan atau peran keluarga dengan memberikan pendidikan kesehatan keluarga sehingga pasien dapat patuh terhadap program diet rendah garam pada lansia (Partilia, 2012).
Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan oleh penulis di wilayah kerja Puskesmas Toworo Tengah, Kabupaten Muna Barat di peroleh jumlah lansia atau lanjut usia di setiap tahunnya mengalami peningkatan yang menderita hipertensi. Di mana pada tahun 2012 terdapat 180 lansia yang yang menderita hipertensi, pada tahun 2013 terdapat 193 penderita dan pada tahun 2014 terdapat 210 lansia yang menderita hipertensi. Sedangkan pada tahun 2015 terdapat 228 lansia yang menderita hipertensi. Pada tahun 2016 dalam 2 (dua) bulan terakhir tercatat lansia yang menderita hipertensi, Kabupaten Muna Barat berjumlah 10 lansia yang menderita hipertensi. Selain itu berdasarkan hasil wawancara antara penulis dengan 5 lansia  yang menderita hipertensi, Lansia masih memakan makan yang mengandung banyak garam meskipun kekambuhan hiperetnsi pada lansia sudah sering menyerang. Lansia datang ke puskesmas untuk melakukan pengobatan terhadap gejala-gejala tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Berdasarkan uraian di atas rumusan pada penelitian ini adalah :
Apakah ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat ?
Untukmengetahuipengaruh pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat.
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu tentang  pengaruh pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat.
Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai referensi dalam ilmu pengembangan keperawatan.
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pihak Puskesmas dan Lansia dalam melakukan  evaluasi dan perencanaan kegiatan
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti sendiri.
 Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti selanjutnya.

KERANGKA KONSEP PENELITIAN
Hipertensi adalah suatukeadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal ditujukan oleh angka sistolik (bagian atas) dan angka diastol (bagian bawah) pada pemeriksaan tensi darah.
Beberapa penyebab hipertensi adalah bertambahnya berat badan, konsumsi garam berlebih, alkohol, kopi dan rokok. Diantara berbagai faktor yang menyebabkan hipertensi konsumsi garam berlebih merupakan salah satu faktor serius yang paling banyak dilakukan oleh sebagian elemen masyarakat terutama pada lansia. Konsumsi garam berlebih akan meningkatkan kerja jantung yang tak seperti biasanya sehingga akan mengakibatkan terjadinya kerusakan pembuluh darah jantung, ginjal, otak dan mata. Rusaknya pembuluh darah di jantung dapat menyebabkan serangan jantung, sehingga hipertensi banyak menyebabkan serangan jantung.
Pendidikan kesehatan merupakan salah satu cara atau media untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pendidikan kesehatan bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang mendasar mengenai pola hidup sehat. Namun, ada kalanya pendidikan kesehatan yang di berikan tidak sesuai dengan harapan oleh tenaga kesehatan. Tingkat pengetahuan menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan dari pendidikan kesehatan yang diberikan. Pendidikan kesehatan mengarah pada pelaksanaan. Pelaksanaan yang dimaksud dalam hal ini adalah pelaksanaan tentang diet rendah garam. Pelaksanaan diet rendah garam mengarah pada penurunan tekanan darah. Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang berbagai elemen masyarakat tak terkecuali pada lansia. Lansia atau lanjut usia merupakan elemen masyarakat yang paling banyak terserang penyakit hipertensi. Terjadinya hipertensi pada lansia di sebabkan oleh cara makan yang tidak teratur seperti menggunakan kandungan garam yang berlebih dan kebiasaan minum kopi. Pendidikan kesehatan pada lansia bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap makanan. Namun yang menjadi kendala pengetahuan tentang pelaksanaan diet rendah garam sangat minim karena disebabkan oleh pola pikir yang mulai menurun. Pengetahuan yang baik terhadap pelaksanaan tentang diet rendah garam akan memberikan dampak yang baik terhadap penurunan hipertensi, akan tetapi jika lansia memiliki pengetahuan yang kurang terhadap pelaksanaan diet rendah garam akan memberikan dampak negatif.
Untuk mengantisipasi hipertensi pada lansia perlu dilakukan pendidikan kesehatan terhadap lansia yang menderita hipertensi guna untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan mengenai diet rendah garam serta meminum obat dan perilaku hidup sehat dalam mengurangi penyakit hipertensi. Hipertensi dan komplikasinya dapat dicegah dengan mengkonsumsi obat dan melakukan perubahan gaya hidup antara lain pengurangan berat badan, berhenti merokok, berhenti mengkonsumsi alkohol, mengubah pola makan dan mengurangi garam disertai asupan kalsium, magnesium dan kalium yang cukup.



B.    Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan tinjauan teoritis maka skema kerangka konsep penelitian ini adalah sebagai berikut :

Variabel Independen                                        
Pendidikan Kesehatan tentang diet rendah garam
 
 





Keterangan :        

 

 : Variabel Independen

 

: Variabel Dependen         

: Variabel Pengaruh
Gambar 1. Bagan Kerangka Konsep Penelitian
C.    Variabel Penelitian
1. Variabel Terikat (Dependent Variabel)
Variabel terikat penelitian ini adalah pelaksanaan hipertensi pada lansia.
2. Variabel Bebas (Independent Variabel)
Variabel   bebas pada penelitian ini pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam. Pelaksanaan adalah tingkat perilaku pasien yang tertuju terhadap intruksi atau petunjuk yang diberikan dalam bentuk terapi apapun yang ditentukan, baik diet, latihan, pengobatan.
D.    Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif
1. Hipertensi
    Hipertensi adalah naiknya tekanan darah diatas rata-rata. Hipertensi banyak menyerang pada lansia.
Kambuh                : Pada saat pengukuran > 140/90 mmHg
Tidak Kambuh: Pada saat pengukuran ≤ 140/90 mmHg











Variabel Dependen
Oval: KEKAMBUHAN
HIPERTENSI
 

















2. Pendidikan Kesehatan Pada Lansia Tentang Pelaksanaan diet Rendah Garam
             Pendidikan kesehatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah diet rendah garam terhadap kekambuhanhipertensi. Pemberian pendidikan kesehatan berupa diet rendah garam bertujuan untuk mengurangi kekambuhan hipertensi pada lansia. Namun, ada kalanya lansia tidak patuh/patuh terhadap pendidikan kesehatan yang diberikan. Lansia yang tidak patuh terhadap pendidikan kesehatan akan mengalami kesulitan dalam menurunkan atau mengurangi kekambuhan hipertensi, sedangkan lansia yang patuh cendrung lebih mudah dalam mengurangi kekambuhan hipertensi. Pendidikan kesehatan dilakukan dengan cara door to door atau rumah kerumah penderita hipertensi. Skala Penilaian yang digunakan adalah skala Guttman.
Bila jawaban “Benar”    = 1
Bila jawaban “Salah”    = 0
Jumlah pertanyaan         = 12
Jawaban tertinggi berbobot 1 dan terendah berbobot 0
Skor tertinggi    = jumlah pertanyaan kali bobot tertinggi= 10x1 = 10                                 (100%)
Skor terendah= jumlah pertanyaan kali bobot terendah= 10x0 = 0                     (0%)
Skor antara = skor tertinggi – skor terendah
                                                                                   = 100% - 0
                                                                                   = 100%
Kriteria objektif 2 kategori : :Patuh dan Tidak Patuh
I           = R/K
Keterangan :
I           = Interval
R          = Range (skor antara)
K          = Kategori (Sugiyono, 2006)
I           = 100%/2
             = 50%
Kriteria objektif :
a. Patuh= bila skor jawaban responden > 50%
b. Tidak Patuh = bila skor jawaban responden < 50%
E.    Hipotesis Penelitian
1.   Pendidikan Kesehatan
Ho    :  Tidak ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia  di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat.
Ha    :  Ada pengaruh pendidikan tentang pelaksanaa diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kaupaten Muna Barat

































































METODE PENELITIAN
A.     Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan desain Praexperiment.PraEskperiment merupakan desain penelitian experiment yang hanya menggunakan kelompok studi tanpa menggunakan kelompok kontrol, serta pengambilan responden tidak dilakukan randomisasi.

 
Tekanan Darah
 
Pendidikan Kesehatan
 
Tekanan Darah

 
 








Pree Test                  Pree TestPerlakuan

Gambar 2. Skema Penelitian
B.  Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat..
Penelitian ini telah dilaksanakan mulai pada tanggal 19 Mei sampai 19 Juni  2016.
C.  Populasi, Sampel dan Sampling
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian atau sekelompok orang, barang, benda yang mendiami suatu wilayah pada suatu periode tertentu (Murti, 2007). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh  lansia dalam kategori hipertensi yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat. Populasi pada penelitian ini adalah lansia yang berjumlah 10 orang. Lansia yang mengalami hipertensi yang datanya di peroleh dari Puskesmas berjumlah 10 orang.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karateristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2008). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 10 orang. Dalam hal ini lansia yang terdiagnosis menderita hipertensi.
Tehnik sampling pada penelitian ini adalah dilakukan secara total sampling yaitu seluruh dari populasi dijadikan sampel. Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 10 orang. Tehnik yang digunakan untuk mengambil sampel dalam penelitian ini adalah sampling jenuh (sensus) yang mana tehnik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang.












 


Post Test



D.  Pengunpulan Data

Data primer diperoleh dengan mengedarkan kuesioner kepada setiap responden, observasi dan wawancara langsung dengan memberikan penjelasan kepada responden bila terdapat hal-hal yang kurang dimengerti dalam menjawab kuesioner.
Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh melalui catatan khusus di ruangan tata usaha di Puskesmas Kec. Tiworo Tengah, sebagai data pelengkap dan penunjang data primer untuk keperluan penelitian.
E.  Pengolahan, Analisis dan Penyajian Data
a. (Editing)
Editing yaitu mengoreksi kesalahan-kesalahan yang di tentukan.Peneliti melakukan pengecekan kelengkapan data yang ada. Jika ditemukan data yang salah maka data tersebut tidak akan dipakai.
b. (Coding)
Adalah usaha untuk mengklasifikasi jawaban yang ada menurut jenisnya.Dilakukan dengan memberi tanda pada masing-masing jawaban dengan kode berupa simbol-simbol.
c. (Tabulating)
Sebelum data diklarifikasi, data dikelompokkan menurut kategori yang telah ditentukan, selanjutnya data ditabulasikan sehingga diperoleh frekuensi dari masing-masing tabel.

d. (Entry)
Proses memasukkan data ke dalam computer dengan SPSS sebelum dilakukan analisa dengan computer dilakukan pengecekan ulang terhadap data.


e. Cleaning
Proses pembersihan data yang dianggap menganggu proses analisis.
2. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS (Statitical Product and Sevice Solution) versi 16.0 dan analisis data dijabarkan sebagai berikut :
a. Analisis Univariat
Dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi variabel yang diteliti yaitu pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pelaksanaan diet rendah garam pada lansia. Menggunakan Rumus (Arikunto, 2008).
x100%
Keterangan :
X             =  Hasil Presentase
F              =  Frekuensi Hasil Pencapaian
n              =  Total Seluruh Observasi
100%     =  Bilangan Genap
b. Analisis Bivariat
Dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dengan Variabel yang diteliti yaitu  pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pelaksanaan diet rendah garam pada lansia dengan menggunakan uji pairet sampel T-test.
 







Keterangan :
T             : Nilai t hitung
D             : Rata-rata Pengukuran 1 dan 2
SD          : Standar Deviasi hasil pengukuran 1 dan 2
n                              : Jumlah Sampel (Arikunto, 2007)
3. Penyajian Data
Data disajikan dalam bentuk tabel 2x2 dan diinterpretasikan dalam bentuk narasi dengan penjelasan-penjelasannya.
F.     Etika Penelitian
1.Persetujuan Menjadi responden (Informed Concent)
Lembar persetujuan diberikan kepada calon responden yang akan diteliti yang memenuhi kriteria inklusi. Bila calon responden menolak, maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-hak yang bersangkutan.
2. Tanpa Nama (Anonimity)
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden tetapi lembar tersebut diberikan kode.
3.Kerahasian (Considentialy)
Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.




















HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1.       KarakteristikResponden
Karakteristikrespondendalampenelitianinimeliputiumur, jeniskelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan.Adapunpenjelasankarakteristikrespondentersebutdapatdilihatpadatabelberikut :
a. DistribusiFrekuensiRespondenBerdasarkanKelompokUmur.
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkankelompokumur, sebagaimanadiuraikanpadatabel di bawahini.
Tabel5 :DistribusiRespondenBerdasarkanUmurdi PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
No
Umur (Tahun)
Jumlah (n)
Persen (%)
1.
60-65
5
50
2.
66-70
1
10
3.
>70
4
40
Total
10
100
Sumber: Data PrimerDiolah Juli 2016

Tabel5menunjukkanbahwadari10responden kasus hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah tertinggi pada umur 60-65 tahun sebanyak 5 respondedn (50%), pada usia 66-70 sebanyak 1 responden (10%), dan usia >70 tahun sebanyak 4 responden (40%).
b.       DistribusiRespondenBerdasarkanJenisKelamin
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkanjeniskelamin, sebagaimanadiuraikanpadatabel di bawahini.
Tabel6 :DistribusiRespondenBerdasarkanJenis Kelamindi PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
No
Jenis Kelamin
Jumlah (n)
Persen (%)
1.
Laki-laki
1
10
2.
Perempuan
9
90
Total
10
100
Sumber: Data Primer Diolah Juli 2016
Tabel6menunjukkanbahwadari10responden kasus hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah berdasarkan jenis kelamin responden dimana pada laki-laki berjumlah 1 responden sebesar (10%), sedangkan pada perempuan berjumlah 9 responden sebesar (90%).
c.  DistribusiRespondenBerdasarkanTingkat Pendidikan
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkantingkat pendidikan, sebagaimanadiuraikanpadagambar di bawahini.
Tabel7 :DistribusiRespondenBerdasarkanTingkat Pendidikandi PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
No
Tingkat Pendidikan
Jumlah (n)
Persen (%)
1.
SMA
1
10
2.
SMP
2
20
3.
SD
7
70
Total
10
100
Sumber: Data Primer Diolah Juli 2016
Tabel7menunjukkanbahwadari10responden kasus hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah berdasarkan tingkat pendidikan responden dimana pada SMA berjumlah 1 responden (10%), pada SMP berjumlah 2 responden (20%), sedangkan pada SD berjumlah 7 responden (70%).
d. DistribusiRespondenBerdasarkanPekerjaan
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkanjenispekerjaan, sebagaimanadiuraikanpadatabel di bawahini.
Tabel8 :DistribusiRespondenBerdasarkanJenis PekerjaanLansia diPuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
No
Pekerjaan
Jumlah (n)
Persen (%)
1.
Wiraswasta
2
20
2.
Petani
8
80
Total
10
100
Sumber: Data PrimerDiolah Juli 2016
Berdasarkan tabel 8 di atas tingkat pekerjaan dari responden tertinggi pada pekerjaan petani sebanyak 8 (80%) responden, diikuti oleh wiraswasta sebanyak 2 (20%) responden.
2.       AnalisisUnivariat
Adapunhasilpengolahan data tentangvariabelpenelitiandapatdiuraikansebagaiberikut:
a. DistribusiRespondenBerdasarkan Pendidikan Kesehatan
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkanpelaksanaan pelaksanaan hipertensi, sebagaimanadiuraikanpadatabel di bawahini.
Tabel9 :DistribusiRespondenBerdasarkanPendidikan Kesehatandi PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat  Tahun 2016.
No
Pelaksanaan diet rendah garam
Pendidikan kesehatan
%
Pre
Post
1.
Patuh
2
8
80
2.
Tidak Patuh
8
2
20
Total
10
10
100
Sumber : Data Primer Diolah Juli 2016
Tabel9menunjukkanbahwadari10responden yang menderita hipertensi, sebelum diberikan pendidikan kesehatan terdapat 8 responden yang tidak patuh sebesar (80%), sedangkan yang patuh berjumlah 2 responden sebesar (20%). Setelah diberikan pendidikan kesehatan 8 responden 8 yang patuh sebesar (80%), sedangkan yang tidak patuh berjumlah 2 responden sebesar (20%)
Tabel10 :DistribusiRespondenBerdasarkanKekambuhan (HT) Hipertensi Pada Lansiadi PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
No
Kekambuhan hipertensi
Tekanan Darah
%
Pre
Post
1.
Kambuh
6
4
40
2.
Tidak Kambuh
4
6
60
Total
10
10
100
Sumber: Data PrimerDiolah Juli 2016
Tabel 10 menunjukkan dari 10 responden yang menderita hipertensi dan melakukan kunjungan ke Puskesmas,sebelum pendidikan kesehatan terdapat 6 (60%) responden yang mengalami kekambuhan hipertensi, sedangkan 4 (40%) responden tidak mengalami kekambuhan hipertensi. Namun, setelah diberikan pendidikan kesehatan berupa diet rendah garam, terdapat 4 (40%) responden mengalami kekambuhan hipertensi, sedangkan 6 (60%) responden tidak mengalami kekambuhan hipertensi.
3. Analisis Bivariat
a. PairetSampelt-test
Hasilanalisis data tentanganalisis pendidikan kesehatan terhadap kekambuhan hipertensi pada Responden di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat, dapatdilihatpadatabelberikutini:
Tabel11 : Analisis Pendidikan Kesehatan Sebelum dan sesudah Pada Responden Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
Pendidikan Kesehatan

Kekambuhan hipertensi
NilaiStatistik
Pre
Post
n
%
n
%
thit = 12.075
ttab = 2,262
Sig      = 000

Patuh
2
20
8
80
Tidak Patuh
8
80
2
20
Total
10
100
10
100
Sumber : Data Primer Diolah Juli 2016
Tabel 11 menunjukkan bahwa hasil analisis pendidikan kesehatan terhadap kekambuhan hipertensi pada Responden, diperoleh bahwa dari 10 responden yang menderita kekambuhan hipertensi, lebih banyak ketidak patuhan terhadap kekambuhan hipertensi sebanyak 8 (100%). Setelah dilakukan pendidikan kesehatan hipertensi pada responden terdapat 8 responden yang patuh sebanyak (80%), serta masih terdapat responden yang tidak patuh terhadap kekambuhan hipertensi meskipun sudah diberikan pendidikan kesehatan pada responden, sebanyak 2 responden atau (20%).
Hasil uji Normalitas data nilai Sig > 0.05 (P> 0.208) yang berarti data berdistribusi normal, sehingga perlu dilakukan uji Paired sample T-Test untuk mengetahui besar pengaruh pendidikan kesehatan terhadap diet rendah garam pada responden hipertensi.
HasilujiPaired sampleT-Test menunjukkanbahwathit  = 12.075, ttab = 2,262 artinya bahwa pendidikan kesehatan berupa diet rendah garam berpengaruh terhadap penurunan kekambuhan hipertensi pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat.
B. Pembahasan
1. Karateristik Responden
a. Umur Responden
Berdasarkan hasil penelitian rata-rata usia lansia yang menjadi responden hampir didominasi pada usia 60-65 dengan jumlah 7 responden (70%) (Tabel. 5), sedangkan pada usia > 70 berjumlah 3 responden (30%) (Tabel 5.). Hal ini dapat diasumsikan bahwa semua responden dapat mengalami kekambuhan hipertensi.
Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua umur seseorang semakin besar resiko terserang hipertensi. Semakin tua umur seseorang, maka tekanan darah akan lebih meningkat karena terjadi perubahan alami pada jantung dan berkurangnya elastistas dari arteri, sehingga hipertensi lebih tinggi terjadi pada usia lanjut. Menurut Sugiharto (2007) dalam Rosiana (2013) umur lebih dari 40 tahun mempunyai resiko terkena hipertensi.
b. Berdasarkan Jenis Kelamin
    Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin tertinggi pada wanita 9 responden (90%), sedangkan pada laki-laki berjumlah 1 responden (10%). Hasil ini menunjukkan bahwa wanita banyak mengalami hipertensi di banding pada laki-laki, disebabkan karena pada wanita terdapat hormon ekstrogen.
Menurut Prihandana (2012), hipertensi lebih banyak dialami oleh wanita dibandingkan dengan laki-laki disebabkan karena hormon esktrogen pada wanita.
c. Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Hasil penelitianmenunjukkanbahwadari10responden yang mengalami hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah berdasarkan tingkat pendidikan responden dimana pada Strata-1 (S-1) berjumlah 0 responden sebesar (0%), pada SMA berjumlah 1 responden (10%), pada SMP berjumlah 2 responden (20%), sedangkan pada SD berjumlah 7 responden (70%). Hal ini dapat diasumsikan bahwa lansia yang memiliki pendidikan paling rendah lebih sering mengalami kekambuhan hipertensi dibanding dengan lansia yang memiliki pendidikan lebih tinggi. Karena disebabkan oleh kurangnya pengetahuan lansia terhadap hipertensi dan sulitnya atau lambat dalam menerima informasi yang diberikan oleh petugas kesehatan.
Menurut Anggara dan Prayitno (2013) tingginya resiko terkenan hipertensi pada pendidikan yang rendah, kemungkinan disebabkan karena kurangnya pengetahuan pada pasien yang berpendidikan rendah terhadap kesehatan dan sulit atau lambat menerima informasi (penyuluhan) yang diberikan oleh petugas, sehingga berdampak pada perilaku/pola hidup sehat.
Menurut Budiman (2012) yang meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan berobat pasien yang diterapi Tamoxifen setelah operasi kanker payudara. Hasilnya adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pelaksanaan berobat dengan nilai p = 0,004.
d. Berdasarkan Pekerjaan
Hasil penelitian dari tingkat pekerjaan dari responden tertinggi pada pekerjaan petani sebanyak 8 (80%) responden, diikuti oleh wiraswasta sebanyak 2 (20%) responden. Hampir sebagain besar responden bekerja sebagai petani. Hipertensi berkaitan dengan pekerjaan, seseorang sering melakukan aktfitas fisik akan berpengaruh terhadap metabolisme didalam tubuh, sedangkan orang yang tidak melakukan aktifitas dapat mengalami hipertensi.
Menurut Kristansti et, al. (2013) pekerjaan berpengaruh kepada aktifitas fisik seseorang. Orang yang tidak bekerja aktifitas fisiknya tidak banyak sehingga dapat meningkatkan kejadian hipertensi.
2. Analisis Kekambuhan Hipertensi Sebelum Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan merupakan salah cara atau media untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pendidikan kesehatan bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang mendasar mengenai pola hidup sehat. Namun, ada kalanya pendidikan kesehatan yang di berikan tidak sesuai dengan harapan oleh tenaga kesehatan.
    Pada penilaian tentang pelaksanaan diet rendah garam pada responden sebelum dilakukan pendidikan kesehatan terdapat ketidaktahuan responden terhadap penyakit hipertensi, sebanyak 10 responden menjawab hampir tidak tau apa itu hipertensi, apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya, serta hal ini akan menyebabkan ketidakpatuhan responden terhadap penanganan hipertensi yang sering menyerang pada responden di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah. Namun, ketidaktahuan dan ketidakpatuhan responden bukan disebabkan karena responden tersebut, melainkan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh responden.
Berdasarkan hasil uji Univariat menunjukan bahwa sebelum dilakukan pendidikan kesehatan, dari total 10 responden. 8 responden (80%) menjawab tidak patuh atau tidak tau apa hipertensi, sedangkan 2 responden (20%) menjawab patuh. Hal ini di sebabkan tingkat pendidikan responden paling rendah yaitu tingkat SD berjumlah 7 responden (70%), SMP berjumlah 2 responden (20%) dan SMA berjumlah 1 responden (10%) . Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan kesehatan seseorang, semakin rendah tingkat pendidikan seseorang maka semakin sulit menyerap informasi yang diberikan, sehingga mengakibatkan  ketidakpatuhan, karena semakin rendah tingkat pendidikan akan mempengaruhi daya serap seseorang dalam menerima informasi.
Hendra (2008), mengatakan bahwa tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami suatu pengetahuan yang mereka peroleh, pada umumnya semakin  tinggi  pendidikan seseorang makin baik pengetahuannya dan makin mudah pula untuk menerima informasi. Menurut Nursalam (2002), makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pengetahuan yang dimiliki.
Penelitian Sukamto (2007) dengan judulhubungan antara tingkat pengetahuan klien tentang hipertensi dengan pelaksanaan dalam menjalankan diit hipertensi dengan hasil penelitiannya adalah p< a dimana 0,02 < 0,05 yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan klien tentang hipertensi dengan pelaksanaan dalam menjalankan diit hipertensi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan usia 60-65 berjumlah 7 responden (70%), usia 70 > berjumlah 3 responden (30%). Hal ini dapat di asumsikan bahwa  semakin lanjut usia seseorang akan semakin susah dalam menyerap informasi di karena keadaan mental yang sudah menurun. Semakin bertambahnya usia seseorang maka proses perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur-umur tertentu (Sumantri, 2013) dalam (Suparyanto, 2010).  Usia yang lanjut akan mengalami kemunduran daya ingat, sehingga tidak dapat memahami pelaksanaan diet rendah garam dengan sempurna, namun hanya berkeinginan untuk menuruti keinginannya yaitu makan makanan yang diinginkannya (Sumantri, 2013).
Pelaksanaan diet rendah garam pada responden hipertensi sebelum dilakukan pendidikan kesehatan hampir sebegian besar masih menggunakan bumbu masak seperti viksin, kecap dan masako. Dari hampir semua pertanyaan yang diajukan di dapatkan bahwa banyak responden yang tidak patuh dalam penggunaan bumbu masak seperti viksin, kecap dan menggunakan garam yang berlebih yang dapat meningkatkan kekambuhan hipertensi pada responden. Penggunaan garam > 1 sendok akan meningkatkan jantung bekerja lebih keras. Tekanandarahtinggi yang terusmenerusmenyebabkanjantungseseorangbekerjalebihkeras, akhirnyakondisiiniberakibatterjadinyakerusakanpadapembuluhdarahjantung,ginjal, otak, danmata.Selain itu juga, konsumsi garam berlebih dapat meyebabkan terjadinya hipertensi. Komponen utama dari garam adalah natrium clorida. Konsumsi garam yang berlebih dapat menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga jantung terus memompa keras untuk mendorong volume darah yang meningkat melalui ruang yang makin sempit sehingga mengakibatkan hipertensi.
Menurut Sutanto (2010) Konsumsi natrium berlebih menyebabkan cairan ekstraseluler meningkat, volume darah juga meningkat sehingga dampak timbulah hipertensi. Mekanisme yang mendasari sentivitas garam pada beberapa pasien disebabkan oleh beberapa hal, yaitu : ketidakmampuan ginjal mengekresikan natrium, pengaturan sirkulasi ginjal yang tidak normal, dan sekresi aldosteron (Sumantri, 2013) dalam (Aisyiyah, 2009).
3. Analisis Kekambuhan Hipertensi Sesudah Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai pola hidup sehat pada masyarakat yang mempunyai peran dapat mengurangi penyakit yang diderita oleh individu. Pendidikan kesehatan yang dimaksud disini adalah memberikan pendidikan kesehatan pada responden yang mengalami kekambuhan hipertensi mengenai diet rendah garam yang bertujuan untuk menurunkan atau mengurangi tekanan hipertensi.
Diet rendah garam yang diberikan melalui pendidikan kesehatan harus sesuai dengan berat ringannya penyakit yang diderita oleh responden, diet rendah garam di bagi berdasarkan berat dan ringannya seorang responden terkena hipertensi. Pembagian diet rendah garam meliputi diet rendah garam I, II, dan III) yang penambahan natrium maksimal sebesar 1.00-1.200 m/hari dan pada pengolahan makan boleh menambah satu sendok teh garam dapur/hari atau 4 gram (PERSAGI, 2009).
Berdasarkan hasil uji Univariat menunjukan bahwa sesudah dilakukan pendidikan kesehatan, dari total 10 responden. 8 responden (80%) menjawab patuh, sedangkan 2 responden (20%) menjawab tidak patuh. Hal ini di sebabkan sikap dan motivasi dari responden yang melakukan pengobatan terhadap penyakit hipertensi. Namun sikap dalam hal ini adalah sikap responden dalam menerima pendidikan kesehatan terhadap pelaksanaan diet rendah garam pada penyakit hipertensi. Selain itu juga pendidikan berkala yang diberikan oleh petugas kesehatan dapat dimengerti dan dipahamai oleh responden. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Norman (2012), mengenai pengaruh ceramah kesehatan terhadap pelaksanaan dan tekanan darah pasien hipertensi di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok, dengan jumlah responden 122 orang, yang mengalami peningkatan pelaksanaan sebanyak 68 orang, 48 orang tetap dan 2 orang mengalami penurunan pelaksanaan.
Faktor keluarga dapat memberikan dorongan yang kuat terhadap penurunan tekanan darah pada anggota keluarganya dalam hal ini adalah responden. Keluarga yang memiliki responden dan cendrung terkena penyakit hipertensi akan selalu diperhatikan pola makan dan kesehatannya agar kekambuhan hipertensi tidak sering menyerang, sehingga dukungan keluarga terhadap responden hipetensi sangat besar.  Menurut Andrayani (2013) hubungan dukungan keluarga dengan tingkat pelaksanaan diet rendah garam pada penderita hipertensi di Poliklinik Jantung RS DR. Saiful Anwar malang, dengan 89 responden didapatkan hasil hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan tingkat pelaksanaan diet rendah garam. Partilia (2012) pada 45 responden di RSUD Tugurejo Semarang yang menunjukkan hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan pelaksanaan diet rendah garam.
Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah pada responden sebelum dilakukan pendidikan kesehatan berkisar antara 140/100-190/100 mmHg (Lampiran. 5). Hal ini dapat diasumsikan bahwa hampir semua responden yang dijadikan responden dapat terindikasi mengalami kekambuhan hipertensi kapan saja, karena kisaran tekanan darah rata-rata responden mencapai 140/100-190/100 mmHg (Lampiran. 5). Sebanyak 6 responden (60%) mengelami kekambuhan hipertensi, sedangkan 4 responden (40%) tidak mengalami kekambuhan hipertensi (Tabel. 10). Namun setelah di berikan pendidikan kesehatan, sebanyak 6 responden (60%) tidak mengalami kekambuhan hipertensi, sedangkan 4 responden (40%) mengalami kekambuhan hipertensi (Tabel. 10). Sebanyak 6 responden mengalami penurunan yang signifikan yang besar mencapai 135/90-150/100 mmHg (Lampiran. 5) pada responden hipertensi.
Hasil uji Paired sample t-test dimana thit = 12.075, ttab= 2.262 hal ini berarti menunjukkan adanya pengaruh yang  bermakna antara pelaksanaan diet rendah garam sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan. Nilai signifikasi .000 (P< 0,05).
Hasil pendidikan kesehatan pada responden mengalami peningkatan dari 10 responden, yang menjawab tidak patuh menjadi 2 responden (20%) yang tidak patuh, sedangkan 8 responden (80%) patuh terhadap pendidikan kesehatan yang diberikan berupa diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi. Hal ini di dasarkan pada responden meskipun memiliki pendidikan yang rendah tetapi memiliki motivasi dan patuh terhadap program-program diet rendah garam. Dengan motivasi dan pelaksanaan yang dimiliki oleh responden yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat, dapat menurunkan tekanan hipertensi yang dapat menyebabkan kekambuhan hipertensi pada responde

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut :
Ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat. Dengan nilai Paired sample t-test dimana thit = 12.075, ttab= 2.262 hal ini berarti menunjukkan adanya pengaruh yang  bermakna antara pelaksanaan diet rendah garam sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan. Nilai signifikasi .000 (P< 0,05).
B. Saran
Saran yang dapat di ajuan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Muna Barat
Sebaiknya senantiasa memberikan penyuluhan tentang pendidikan kesehatan mengenai kekambuhan hipertensi di Desa-desa agar masyarakat dapat memahami dampak yang ditimbulkan oleh hipertensi, selain dampak yang diakibatkan oleh hipertensi, penyuluh kesehatan juga dapat memberikan pengetahuan tentang pencegahan hipertensi pada responden dan keluarga.
2. Bagi Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat
Diharapkan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terutama untuk penyakit hipertensi agar masyarakat dapat merasakan pelayanan yang memuaskan.
3. Bagi Kepala, Staf, Dokter, Bidan, Perawat dan Apoteker di Puskesmas Tiworo Tengah
Dapat memberikan layanan yang baik terhadap masyarakat apabila ada masyarakat yang terkena penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi.
4. Bagi Perawat
Hasil penelitian ini dapat menjadi penambah pemahaman perawat tentang perawatan pasien hipertensi, yaitu tentang pentingnya menjaga kondisi psikologis pasien, selain itu juga tentang pola makan yang baik dan melakukan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi.
5. Bagi Pasien hipertensi
Pasien hipertensi hendaknya menyadari keadaan dirinya dan mampu menerima keadaanya saat ini. Pasien hipertensi  hendaknya bisa melakukan pencegahan atau kekambuhan hipertensi dengan melakukan diet rendah garam yang dapat menurunkan hipertensi.
DAFTAR PUSTAKA

Abdillah,  E. R. (2012), Hubungan tingkat pengetahuan diet rendah garam dengan pelaksanaan diet rendah garam serta di Poli Jantung RSAA Malang. Skripsi. Diakses tanggal 16 Desember 2015.
Achjar,  K. A. (2011), Teori dan Praktikum : Asuhan Keperawatan Komunitas. Jakarta. EGC.
Aisyiyah (2009), Faktor resiko hipertensi pada empat kabupaten/Kota dengan prevalensi Hipertensi di Jawa dan Semarang. Fema. Ipb.ac.id. diakses Februari 2016.
Andrayani (2013), Hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kepatuhan diet rendah garam pada penderita hipertensi di RS. Saiful anwar Malang. Old.fk.ub.ac.id/artikel/idfiledownload/arya/pdf. Diakses Februari 2016.
Azizah, L. M. (2011), Keperawatan Lanjut Usia. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Budiman, A (2012), Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan berobat pasien yang diterapi Tamoxifen setelah operasi Ca payudara di RS Dr M. Djamil Padang. http://jurnal.fk.unad.ac.id. Diakses Maret 2016.
Corwin, (2007), BukuSakuPatofisiologi. Jakarta: PenerbitBukuKedokteran EGCDengan kepatuhan Dalam MenjalankanDiit Hipertensi di Poliklinik RSUD TuguRejo Semarang. Skripsi tidakdipublikasikan. Semarang : Program StudiIlmu Keperawatan
Depkes RI, (2005), PedomanPelaksanaanPuskesmas. Jakarta
Depkes RI. (2009), jenis-jenis hipertensi dan penyebabnya. Jakarta.
Dharma,  H. K. (2012), Metodologi penelitian keperawatan pedoman melaksanakan dan menerapkan hasil penelitian, Trans Info Media, Jakarta Timur.
Diehl,  (2007),Waspadai Diabetes-Kolesterol-Hipertensi. Terjemahan: Budiati, Winarni. Penerbit: Indonesia Publishing House.Bandung.
Dinkes Provinsi Sultra, 2014, Data Penderita Hipertensi Sultra.
Effendi, (2008), Dasar – dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. EGC.Jakarta
Effendy, N dan Rosyid, F.N. (2011), Hubungan kepatuhan Diet rendah garam dan terjadinya kekambuhan pada pasien Hipertensi di wilayah Puskesmas Pasongsongan Kabupaten Sumenep, Madura. Jurnal ilmu kesehatan Masyarakat. Universitas Muhamadyah Surabaya, ISSN 2087-8672.
Hendra A.W.,  (2008),  Ilmu  Keperawatan  Dasar,  Edisi  Ke-2,  Penerbit Mitra Cendikia Press.. Yogyakarta.
Legowo, I, A. (2014). Hubungan Pengetahuan Pasien dan Dukungan Keluarga dengan Motivasi Pelaksanaan diet rendah garam pada Pasien Hipertensi di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
Mubarak dan Chayatin,  (2009). Buku Ajar Keperawatan Komunitas 2 Teori danAplikasi Dalam Praktek. Jakarta: SagungSeto.
Muninjaya (2008), Manajemen Kesehatan. Edisi 3. Jakarta: EGC.
Norman (2012), Pengaruh ceramah kesehatan terhadap kepatuhan dan tekanan darah pasien hipertensi di Puskesmas Kecamatan Beji Depok. Ui.ac.id.file.diakses April 2016.
Notoatmojo, S. (2010), Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Cetakan I, PT. Rineka Cipta, Jakarta.
Nursalam (2002), Menajemen Keperawatan, Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional. Salemba Medika. Jakarta.
Partilia, D. F. (2012), Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet rendah garam dan keteraturan kontrol tekanan darah pada penderita hipertensi di RSUD Tugurejo Semarang. Diakses Tanggal 16 Desember 2015.
PERSAGI (2009), Kamus pelengkap Kesehatan Keluarga. PT. Kompas Media Nusantara. Jakarta.
Pratiwi (2011). Pengaruh Konseling obat terhadap kepatuhan Pasien hipertensi di Poliklinik khusus RSUP DR. Djamil Padang. http://pasca.unand.ac.id/id/wp-content/uploads/2016/Artikel.pdf. diakses Maret 2016.
Pudjiastuti,  R. D. (2011). Penyakit Pemicu Stroke : Dilengkapi Posyandu Lansia dan Posbindu PTM. Nuha Medika Press, Yogyakarta.
Rahma, E,. Rahman, M.S, Wijiutami, Y,. 2012,Hubungan TingkatPengetahuan tentang DietRendah Garam terhadapKepatuhan Pelaksanaan DietRendah Garam sertaHubungan Pengetahuan dan Kepatuhan Diet RendahGaram Pasien Hipertensi diPoli Jantung RSSA Malang,Abstrak, Program Studi IlmuKeperawatan FKUB.
Ririn (2008), Hubungan stres kerja terhadap hipertensi pada pegawai dinas kesehatan kota pekanbaru Tahun 2008. Skripsi.
Robbin, S,. 2006, Perilaku Organisasi, PT. IndeksKelompok Gramedia, Jakarta.
STIKES Mandala Waluya.PedomanPenulisanSkripsi. Edisi III. Kendari, 2015
Sudarmoko, A. 2015. Sehat Tanpa Hipertensi. Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta.
Sukamto A. (2007)  Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Klien Tentang Hipertensi
Dengan kepatuhan Dalam Menjalankan Diit Hipertensi di Poliklinik RSUD Tugu Rejo Semarang. Skripsi tidak dipublikasikan. Semarang : Program StudiIlmu Keperawatan
Sumantri, A. (2013), Pengaruh pendidikan kesehatan hipertensi pada keluarga terhadap kepatuhan rendah diet garam lansia hipertensi di Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati. Skripsi.  Sekolah Tinggi Ilmu Kesahatan A’isyiyah, Yogyakarta.
Sutanto (2010), Cekal (Cegah dan Tangkal) penyakit Modern. CV. Andi. Yogyakarta.
Wahdah,  N. (2011), Menaklukan Hipertensi dan Diabetes. Multi Solusindo, Yogyakarta.
Widyasari, D.F  dan Candrasari, A. (2010), Pengaruh pendidikan kesehatan tentang hipertensi terhadap perubahan pengetahuan dan sikap lansia di Desa makam haji Kartasura Sukoharjo. Jurnal Biomedika Fakultas Kedokteran, Universitas UMS.
World Health Organization (WHO)  (2003), Internasional Society of Hypertension Guideline for Management of Hypertension, Journal Hypertension.
Yulianti, (2006), 30 Ramuan Penakluk Hipertensi.Penerbit PT. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar