PENGARUH
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PELAKSANAAN DIET RENDAH GARAM TERHADAP KEKAMBUHAN
HIPERTENSI PADA LANSIA DI
WILAYAH
KERJA PUSKESMAS TIWORO TENGAH
KABUPATEN
MUNA BARAT
Made Endrawati*), Cici Yusnayanti**) Ahmad Saleh***)
Program Studi S-1 Keparawatan Ilmu
Keparawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Mandala
Waluya Kendari (Stikes WM Kendari
ABSTRAK
Pada umumnya hipertensi banyak di alami oleh lansia,
hal dibuktikan dengan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan pada lansia.
Berdasarkan kekambuhan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah
Kabupaten. Muna Barat. Pada tahun 2012 tercatat 90% lansia menderita
hipertensi, tahun 2013 terdapat 96,5% penderita hipertensi, pada tahun 2014
terdapat 84% penderita hipertensi, tahun 2015 terdapat 91,2% penderita
hipertensi. Pada tahun 2016 dalam 2 (dua)bulan terakhir tercatat 10% lansia
penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna
Barat.
Jenis penelitian ini menggunakan desain Pra experiment tanpa menggunakan kelompok
kontrol. Populasi penelitian adalah semua lansia yang menderita hipertensi di
wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten. Muna Barat. Pada Bulan
Mei-Juni 2016 sebanyak 10 sampel. Uji statistik menggunakan Paired t-test Sample.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan
tekanan darah atau kekambuhan hipertensi terhadap pendidikan kesehatan mengenai
diet rendah garam, dengan nilai statistik thit = 12.075, ttab
= 2,262, Nilai Sig 000 (P< 0.05).
Ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang
pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di
wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat. Disarankan
hendaknya lansia lebih meningkatkan pelaksanaan diet rendah garam terhadap
konsumsi makanan sehari sehingga dapat menurunkan kekambuhan hipertensi.
Pelaksanaan pendidikan kesehatan berupa diet rendah garam dapat menurunkan penyebab terjadi kekambuhan
hipertensi pada lansia.
Kata Kunci : Kekambuhan
Hipertensi, Pendidikan Kesehatan, Diet Rendah Garam, Puskesmas Tiworo Tengah,
Kabupaten Muna Barat

PENDAHULUAN
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) (2012) sedikitnya jumlah penderita
hipertensi sebanyak 839 juta kasus hipertensi, dan diperkirakan menjadi 1,15
milyar pada tahun 2025 atau sekitar 29% dari total penduduk dunia Padahal
hipertensi merupakan penyebab utama penyakit jantung, kerusakan hati dan
kerusakan ginjal.
Di Indonesia
banyaknyapenderitahipertensidiperkirakan 15 juta orang tetapihanya 4% yang
merupakanhipertensiterkontrol, prevalensi 6-15% pada orang dewasa.15%
diantaranyatidakmenyadarisebagaipenderitahipertensisehinggamerekacenderunguntukmenjadihipertensiberatkarenatidakmenyadaridantidakmengetahuifaktor-faktorresikonya.Dan
90% merupakanhipertensiesensialsaatinipenyakitdegeneratifdancardiofasculersudahmerupakansalahsatumasalahkesehatanmasyarakat
di Indonesia (Ririn 2008).
Data penderitahipertensi di
ProvinsiSultrabahwapadatahun 2012
jumlahkunjunganbaruhipertensipadapasienrawatjalansebanyak 3.672 orang, tahun
2013 sebanyak 5.758 orang danpadatahun 2014 sebanyak 5.789 orang
(DinkesProvinsiSultra, 2014).
Hipertensi pada umumnya menyerang hampir sebagian
kalangan masyarakat tak terkecuali lansia atau lanjut usia. Lansiaadalah
proses menjadilebihtuadenganumurmencapai 45 tahunkeatas. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang
perlu penanganan segera dan terintegrasi. Empat penyakit yang sangat erat
hubungannya dengan lansia adalah hipertensi (tekanan darah tinggi), gangguan
metabolisme hormonal, gangguan persendian dan berbagai neoplasma (Azizah,
2011).
Tekanandarahtinggi yang terusmenerusmenyebabkanjantungseseorangbekerjalebihkeras,
akhirnyakondisiiniberakibatterjadinyakerusakanpadapembuluhdarahjantung,ginjal,
otak, danmata.Hipertensimerupakanpenyebabumumterjadinya stroke
danseranganjantung(Heartattack),
hipertensijugaseringdisebutThe Silent
Killer, karenahanyamenimbulkanbeberapagejala,
seseorangdapatmenderitahipertensitanpamengetahuinya (Pudiastuti,2011).
Hipertensi disebabkan oleh hipertensi primer dan
hipertensi sekunder. Hipertensi primer seperti keturunan, gaya hidup (kebiasaan
makan, alkohol dan rokok), sedangkan hipertensi sekunder seperti kelebihan
berat badan, kelebihan kolesterol (Wahdah, 2011).
Daribeberapafaktordominanpenyebabhipertensi,
faktorkelebihanberatbadandapatmeningkatkanseseorangterserangpenyakithipertensi.
Semakinbesarmassatubuh, makasemakinbanyakdarah yang
dibutuhkanuntukmemasokoksigendanmakanankejaringantubuh. Selain itu juga, konsumsi garam berlebih dapat
meyebabkan terjadinya hipertensi. Komponen utama dari garam adalah natrium
clorida. Konsumsi garam yang berlebih dapat menyebabkan meningkatnya volume
darah, sehingga jantung terus memompa keras untuk mendorong volume darah yang
meningkat melalui ruang yang makin sempit sehingga mengakibatkan hipertensi.
Dalam usaha menurunkan angka morbiditas hipertensi pada
lansia, haruslah dilakukan pendidikan kesehatan yang bertujuan untuk mengurangi
penyakit hipertensi pada lansia. Pendidkan kesehatan pada lansia berupa
pemahaman dan pengetahuan terhadap hipertensi seperti mengurangi konsumsi
lemak, mengatur pola hidup, olahraga secara teratur, mengurangi konsumsi garam,
menghindari rokok dan menghindari kopi. Menurut Widyasari dan Candrasari
(2010), menyimpulkan bahwa ada peningkatan signifikan secara statistik dalam
pengetahuan dan sikap setelah pemberian kesehatan tentang hipertensi. Selain
itu pula faktor keluarga sangat berperan dalam mengurangi penderita hipertensi.
Karena keluarga merupakan sarana yang paling berperan dalam pemberian
pendidikan kesehatan berupa pemahaman dan pengetahuan mengenai hipertensi
sehingga pasien dapat patuh terhadap program diet rendah garam.
Salah satu metode yang baik digunakan oleh tenaga
kesehatan untuk mengurangi morbiditas hipertensi pada lansia adalah dengan
pemberian pendidikan kesehatan berupa pelaksanaan diet rendah garam seperti
mengurangi makan yang memiliki kandungan garam tidak terlalu banyak. Pemberian
makan yang memiliki kandungan garam sedikit atau yang lebih dikenal dengan diet
rendah garam dapat mengurangi atau menurunkan hipertensi. Konsumsi garam yang
sedikit dapat mengurangi volume darah di jantung, sehingga jantung lambat dalam
memompa akibatnya ruang yang sempit akan tetap terisi oleh darah yang tidak
mempunyai tekanan tinggi. Rendahnya pelaksanaan terhadap diet rendah garam
membuat meningkatnya hipertensi, sehingga perlu dilakukan perbaikan intervensi
untuk meningkatkan angka pelaksanaan diet rendah garam pada penderita
hipertensi (Effendy dan Rosyid, 2011).
Hubungan dukungan keluarga dengan pelaksanaan diet rendah
garam dan ketaatan kontrol tekanan darah pada pasien hipertensi di RSUD
Tugurejo Semarang. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang kuat
antara dukungan keluarga dengan pelaksanaan diet rendah garam pada pasien
hipertensi. Berdasarkan penelitian tersebut, maka perlu adanya upaya untuk
meningkatkan dukungan atau peran keluarga dengan memberikan pendidikan
kesehatan keluarga sehingga pasien dapat patuh terhadap program diet rendah
garam pada lansia (Partilia, 2012).
Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan oleh
penulis di wilayah kerja Puskesmas Toworo Tengah, Kabupaten Muna Barat di
peroleh jumlah lansia atau lanjut usia di setiap tahunnya mengalami peningkatan
yang menderita hipertensi. Di mana pada tahun 2012 terdapat 180 lansia yang
yang menderita hipertensi, pada tahun 2013 terdapat 193 penderita dan pada
tahun 2014 terdapat 210 lansia yang menderita hipertensi. Sedangkan pada tahun
2015 terdapat 228 lansia yang menderita hipertensi. Pada tahun 2016 dalam 2
(dua) bulan terakhir tercatat lansia yang menderita hipertensi, Kabupaten Muna
Barat berjumlah 10 lansia yang menderita hipertensi. Selain itu berdasarkan
hasil wawancara antara penulis dengan 5 lansia
yang menderita hipertensi, Lansia masih memakan makan yang mengandung
banyak garam meskipun kekambuhan hiperetnsi pada lansia sudah sering menyerang.
Lansia datang ke puskesmas untuk melakukan pengobatan terhadap gejala-gejala
tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Berdasarkan uraian di atas rumusan pada penelitian ini
adalah :
Apakah ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang
pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di
wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat ?
Untukmengetahuipengaruh
pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan
hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna
Barat.
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat
bagi pengembangan ilmu tentang pengaruh
pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan
hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna
Barat.
Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan
sebagai referensi dalam ilmu pengembangan keperawatan.
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat
bagi pihak Puskesmas dan Lansia dalam melakukan
evaluasi dan perencanaan kegiatan
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti
sendiri.
Hasil
penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti selanjutnya.
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
Hipertensi adalah suatukeadaan dimana seseorang
mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal ditujukan oleh angka
sistolik (bagian atas) dan angka diastol (bagian bawah) pada pemeriksaan tensi
darah.
Beberapa penyebab hipertensi adalah bertambahnya berat
badan, konsumsi garam berlebih, alkohol, kopi dan rokok. Diantara berbagai
faktor yang menyebabkan hipertensi konsumsi garam berlebih merupakan salah satu
faktor serius yang paling banyak dilakukan oleh sebagian elemen masyarakat
terutama pada lansia. Konsumsi garam berlebih akan meningkatkan kerja jantung
yang tak seperti biasanya sehingga akan mengakibatkan terjadinya kerusakan
pembuluh darah jantung, ginjal, otak dan mata. Rusaknya pembuluh darah di
jantung dapat menyebabkan serangan jantung, sehingga hipertensi banyak
menyebabkan serangan jantung.
Pendidikan kesehatan merupakan salah satu cara atau
media untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pendidikan
kesehatan bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang mendasar mengenai pola
hidup sehat. Namun, ada kalanya pendidikan kesehatan yang di berikan tidak
sesuai dengan harapan oleh tenaga kesehatan. Tingkat pengetahuan menjadi faktor
yang sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan dari pendidikan kesehatan
yang diberikan. Pendidikan kesehatan mengarah pada pelaksanaan. Pelaksanaan
yang dimaksud dalam hal ini adalah pelaksanaan tentang diet rendah garam.
Pelaksanaan diet rendah garam mengarah pada penurunan tekanan darah. Tekanan
darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu penyakit yang sering
menyerang berbagai elemen masyarakat tak terkecuali pada lansia. Lansia atau lanjut
usia merupakan elemen masyarakat yang paling banyak terserang penyakit
hipertensi. Terjadinya hipertensi pada lansia di sebabkan oleh cara makan yang
tidak teratur seperti menggunakan kandungan garam yang berlebih dan kebiasaan
minum kopi. Pendidikan kesehatan pada lansia bertujuan untuk memberikan
pemahaman tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap makanan. Namun yang
menjadi kendala pengetahuan tentang pelaksanaan diet rendah garam sangat minim
karena disebabkan oleh pola pikir yang mulai menurun. Pengetahuan yang baik
terhadap pelaksanaan tentang diet rendah garam akan memberikan dampak yang baik
terhadap penurunan hipertensi, akan tetapi jika lansia memiliki pengetahuan
yang kurang terhadap pelaksanaan diet rendah garam akan memberikan dampak negatif.
Untuk mengantisipasi hipertensi pada lansia perlu
dilakukan pendidikan kesehatan terhadap lansia yang menderita hipertensi guna
untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan mengenai diet rendah garam serta
meminum obat dan perilaku hidup sehat dalam mengurangi penyakit hipertensi.
Hipertensi dan komplikasinya dapat dicegah dengan mengkonsumsi obat dan
melakukan perubahan gaya hidup antara lain pengurangan berat badan, berhenti
merokok, berhenti mengkonsumsi alkohol, mengubah pola makan dan mengurangi garam
disertai asupan kalsium, magnesium dan kalium yang cukup.
B. Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah
dan tinjauan teoritis maka skema kerangka konsep penelitian ini adalah sebagai
berikut :
Variabel Independen
|
|||
Keterangan :
: Variabel Independen
: Variabel Dependen
Gambar 1. Bagan Kerangka Konsep Penelitian
C. Variabel Penelitian
1. Variabel Terikat
(Dependent Variabel)
Variabel terikat penelitian ini adalah
pelaksanaan hipertensi pada lansia.
2.
Variabel Bebas (Independent Variabel)
Variabel bebas pada penelitian ini pendidikan
kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam. Pelaksanaan
adalah tingkat perilaku pasien yang tertuju terhadap intruksi atau petunjuk
yang diberikan dalam bentuk terapi apapun yang ditentukan, baik diet, latihan,
pengobatan.
D. Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif
1. Hipertensi
Hipertensi
adalah naiknya tekanan darah diatas rata-rata. Hipertensi banyak menyerang pada
lansia.
Kambuh : Pada saat pengukuran > 140/90 mmHg
Tidak Kambuh: Pada saat pengukuran ≤ 140/90 mmHg
Variabel Dependen
![]() |
2. Pendidikan Kesehatan Pada Lansia
Tentang Pelaksanaan diet Rendah Garam
Pendidikan kesehatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah diet
rendah garam terhadap kekambuhanhipertensi. Pemberian pendidikan kesehatan
berupa diet rendah garam bertujuan untuk mengurangi kekambuhan hipertensi pada
lansia. Namun, ada kalanya lansia tidak patuh/patuh terhadap pendidikan
kesehatan yang diberikan. Lansia yang tidak patuh terhadap pendidikan kesehatan
akan mengalami kesulitan dalam menurunkan atau mengurangi kekambuhan
hipertensi, sedangkan lansia yang patuh cendrung lebih mudah dalam mengurangi
kekambuhan hipertensi. Pendidikan kesehatan dilakukan dengan cara door to door atau rumah kerumah
penderita hipertensi. Skala Penilaian yang digunakan adalah skala Guttman.
Bila jawaban “Benar” =
1
Bila jawaban “Salah” =
0
Jumlah pertanyaan =
12
Jawaban tertinggi berbobot 1 dan terendah berbobot 0
Skor antara = skor tertinggi – skor terendah
=
100% - 0
=
100%
Kriteria objektif 2 kategori : :Patuh
dan Tidak Patuh
I =
R/K
Keterangan :
I =
Interval
R =
Range (skor antara)
K =
Kategori (Sugiyono, 2006)
I =
100%/2
=
50%
Kriteria objektif :
a. Patuh= bila skor jawaban responden
> 50%
b. Tidak Patuh = bila skor jawaban responden < 50%
E. Hipotesis Penelitian
1. Pendidikan Kesehatan
Ho : Tidak ada pengaruh pendidikan kesehatan
tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada
lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo
Tengah Kabupaten Muna Barat.
Ha : Ada pengaruh pendidikan tentang pelaksanaa
diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di wilayah kerja
Puskesmas Tiworo Tengah Kaupaten Muna Barat
|
||||||||||
|
||||||||||
|
||||||||||
|
||||||||||
Pree
Test Pree TestPerlakuan
Gambar 2. Skema Penelitian
B.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini telah dilaksanakan di
Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat..
Penelitian ini telah dilaksanakan mulai pada tanggal 19 Mei sampai
19 Juni 2016.
C. Populasi, Sampel dan Sampling
Populasi
adalah keseluruhan subjek penelitian atau sekelompok orang, barang, benda yang
mendiami suatu wilayah pada suatu periode tertentu (Murti, 2007). Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh lansia
dalam kategori hipertensi yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah
Kabupaten Muna Barat. Populasi pada penelitian ini adalah lansia yang berjumlah
10 orang. Lansia yang mengalami hipertensi yang datanya di peroleh dari
Puskesmas berjumlah 10 orang.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karateristik yang
dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2008). Sampel dalam penelitian ini berjumlah
10 orang. Dalam hal ini lansia yang terdiagnosis menderita hipertensi.
Tehnik sampling pada penelitian ini adalah
dilakukan secara total sampling yaitu seluruh dari populasi dijadikan sampel.
Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 10 orang. Tehnik yang
digunakan untuk mengambil sampel dalam penelitian ini adalah sampling jenuh
(sensus) yang mana tehnik penentuan sampel bila semua anggota populasi
digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif
kecil, kurang dari 30 orang.
Post
Test
D. Pengunpulan Data
Data primer diperoleh dengan
mengedarkan kuesioner kepada setiap responden, observasi dan wawancara langsung
dengan memberikan penjelasan kepada responden bila terdapat hal-hal yang kurang
dimengerti dalam menjawab kuesioner.
Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh melalui
catatan khusus di ruangan tata usaha di Puskesmas Kec. Tiworo Tengah, sebagai data pelengkap dan
penunjang data primer untuk keperluan penelitian.
E. Pengolahan,
Analisis dan Penyajian Data
a. (Editing)
Editing yaitu mengoreksi kesalahan-kesalahan yang di
tentukan.Peneliti melakukan pengecekan kelengkapan data yang ada. Jika
ditemukan data yang salah maka data tersebut tidak akan dipakai.
b. (Coding)
Adalah usaha untuk mengklasifikasi jawaban yang ada menurut
jenisnya.Dilakukan dengan memberi tanda pada masing-masing jawaban dengan kode
berupa simbol-simbol.
c. (Tabulating)
Sebelum data diklarifikasi, data dikelompokkan menurut
kategori yang telah ditentukan, selanjutnya data ditabulasikan sehingga
diperoleh frekuensi dari masing-masing tabel.
d. (Entry)
Proses memasukkan data ke dalam computer dengan SPSS
sebelum dilakukan analisa dengan computer dilakukan pengecekan ulang terhadap
data.
e.
Cleaning
Proses
pembersihan data yang dianggap menganggu proses analisis.
2. Analisis Data
Analisis
data dilakukan dengan menggunakan program SPSS (Statitical Product and Sevice Solution) versi 16.0 dan analisis
data dijabarkan sebagai berikut :
a. Analisis Univariat
Dilakukan
untuk mengetahui distribusi frekuensi variabel yang diteliti yaitu pengaruh
pendidikan kesehatan terhadap pelaksanaan diet rendah garam pada lansia.
Menggunakan Rumus (Arikunto, 2008).
Keterangan
:
X = Hasil Presentase
F = Frekuensi Hasil Pencapaian
n = Total Seluruh Observasi
100% = Bilangan Genap
b. Analisis Bivariat
Dilakukan
untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dengan Variabel yang diteliti
yaitu pengaruh pendidikan kesehatan
terhadap pelaksanaan diet rendah garam pada lansia dengan menggunakan uji pairet sampel T-test.
![]() |
Keterangan :
D :
Rata-rata Pengukuran 1 dan 2
SD :
Standar Deviasi hasil pengukuran 1 dan 2
n :
Jumlah Sampel (Arikunto, 2007)
3. Penyajian Data
Data
disajikan dalam bentuk tabel 2x2 dan diinterpretasikan dalam bentuk narasi
dengan penjelasan-penjelasannya.
F. Etika
Penelitian
1.Persetujuan Menjadi responden (Informed Concent)
Lembar persetujuan diberikan kepada calon responden yang akan
diteliti yang memenuhi kriteria inklusi. Bila calon responden menolak, maka
peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-hak yang bersangkutan.
2. Tanpa Nama (Anonimity)
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan
nama responden tetapi lembar tersebut diberikan kode.
3.Kerahasian (Considentialy)
Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti, hanya
kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. KarakteristikResponden
Karakteristikrespondendalampenelitianinimeliputiumur, jeniskelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan.Adapunpenjelasankarakteristikrespondentersebutdapatdilihatpadatabelberikut
:
a. DistribusiFrekuensiRespondenBerdasarkanKelompokUmur.
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkankelompokumur,
sebagaimanadiuraikanpadatabel di bawahini.
Tabel5 :DistribusiRespondenBerdasarkanUmurdi PuskesmasTiworo Tengah
Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
|
No
|
Umur (Tahun)
|
Jumlah (n)
|
Persen (%)
|
|
1.
|
60-65
|
5
|
50
|
|
2.
|
66-70
|
1
|
10
|
|
3.
|
>70
|
4
|
40
|
|
Total
|
10
|
100
|
|
Sumber:
Data PrimerDiolah Juli 2016
Tabel5menunjukkanbahwadari10responden kasus hipertensi pada lansia di wilayah kerja
Puskesmas Tiworo Tengah tertinggi pada umur 60-65 tahun sebanyak 5 respondedn
(50%), pada usia 66-70 sebanyak 1 responden (10%), dan usia >70 tahun
sebanyak 4 responden (40%).
b. DistribusiRespondenBerdasarkanJenisKelamin
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkanjeniskelamin,
sebagaimanadiuraikanpadatabel di bawahini.
Tabel6 :DistribusiRespondenBerdasarkanJenis Kelamindi PuskesmasTiworo Tengah
Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
|
No
|
Jenis
Kelamin
|
Jumlah
(n)
|
Persen
(%)
|
|
1.
|
Laki-laki
|
1
|
10
|
|
2.
|
Perempuan
|
9
|
90
|
|
Total
|
10
|
100
|
|
Sumber:
Data Primer Diolah Juli
2016
Tabel6menunjukkanbahwadari10responden kasus hipertensi pada lansia di wilayah kerja
Puskesmas Tiworo Tengah berdasarkan jenis kelamin responden dimana pada
laki-laki berjumlah 1 responden sebesar (10%), sedangkan pada perempuan
berjumlah 9 responden sebesar (90%).
c. DistribusiRespondenBerdasarkanTingkat Pendidikan
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkantingkat pendidikan,
sebagaimanadiuraikanpadagambar
di bawahini.
Tabel7 :DistribusiRespondenBerdasarkanTingkat
Pendidikandi
PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
|
No
|
Tingkat
Pendidikan
|
Jumlah
(n)
|
Persen
(%)
|
|
1.
|
SMA
|
1
|
10
|
|
2.
|
SMP
|
2
|
20
|
|
3.
|
SD
|
7
|
70
|
|
Total
|
10
|
100
|
|
Sumber:
Data Primer Diolah Juli 2016
Tabel7menunjukkanbahwadari10responden kasus hipertensi pada lansia di wilayah kerja
Puskesmas Tiworo Tengah berdasarkan tingkat pendidikan responden dimana pada
SMA berjumlah 1 responden (10%), pada SMP berjumlah 2 responden (20%),
sedangkan pada SD berjumlah 7 responden (70%).
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkanjenispekerjaan, sebagaimanadiuraikanpadatabel
di bawahini.
Tabel8 :DistribusiRespondenBerdasarkanJenis
PekerjaanLansia diPuskesmasTiworo Tengah
Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
|
No
|
Pekerjaan
|
Jumlah
(n)
|
Persen
(%)
|
|
1.
|
Wiraswasta
|
2
|
20
|
|
2.
|
Petani
|
8
|
80
|
|
Total
|
10
|
100
|
|
Sumber:
Data PrimerDiolah Juli 2016
Berdasarkan tabel 8 di atas tingkat pekerjaan dari
responden tertinggi pada pekerjaan petani sebanyak 8 (80%) responden, diikuti
oleh wiraswasta sebanyak 2 (20%) responden.
2.
AnalisisUnivariat
Adapunhasilpengolahan data tentangvariabelpenelitiandapatdiuraikansebagaiberikut:
a. DistribusiRespondenBerdasarkan Pendidikan Kesehatan
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkanpelaksanaan pelaksanaan hipertensi,
sebagaimanadiuraikanpadatabel di bawahini.
Tabel9 :DistribusiRespondenBerdasarkanPendidikan
Kesehatandi
PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
|
No
|
Pelaksanaan
diet rendah garam
|
Pendidikan
kesehatan
|
%
|
|
|
Pre
|
Post
|
|||
|
1.
|
Patuh
|
2
|
8
|
80
|
|
2.
|
Tidak
Patuh
|
8
|
2
|
20
|
|
Total
|
10
|
10
|
100
|
|
Sumber : Data Primer Diolah Juli 2016
Tabel9menunjukkanbahwadari10responden yang menderita hipertensi, sebelum diberikan
pendidikan kesehatan terdapat 8 responden yang tidak patuh sebesar (80%),
sedangkan yang patuh berjumlah 2 responden sebesar (20%). Setelah diberikan
pendidikan kesehatan 8 responden 8 yang patuh sebesar (80%), sedangkan yang
tidak patuh berjumlah 2 responden sebesar (20%)
Tabel10 :DistribusiRespondenBerdasarkanKekambuhan
(HT) Hipertensi Pada Lansiadi
PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
|
No
|
Kekambuhan
hipertensi
|
Tekanan
Darah
|
%
|
|
|
Pre
|
Post
|
|||
|
1.
|
Kambuh
|
6
|
4
|
40
|
|
2.
|
Tidak
Kambuh
|
4
|
6
|
60
|
|
Total
|
10
|
10
|
100
|
|
Sumber:
Data PrimerDiolah Juli 2016
Tabel 10 menunjukkan dari 10 responden yang menderita
hipertensi dan melakukan kunjungan ke Puskesmas,sebelum pendidikan kesehatan terdapat
6 (60%) responden yang mengalami kekambuhan hipertensi, sedangkan 4 (40%)
responden tidak mengalami kekambuhan hipertensi. Namun, setelah diberikan
pendidikan kesehatan berupa diet rendah garam, terdapat 4 (40%) responden
mengalami kekambuhan hipertensi, sedangkan 6 (60%) responden tidak mengalami
kekambuhan hipertensi.
3. Analisis Bivariat
a. PairetSampelt-test
Hasilanalisis data tentanganalisis pendidikan kesehatan terhadap kekambuhan
hipertensi pada Responden di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna
Barat, dapatdilihatpadatabelberikutini:
Tabel11 : Analisis
Pendidikan Kesehatan Sebelum dan sesudah Pada Responden Hipertensi di Wilayah Kerja
Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
|
Pendidikan Kesehatan
|
Kekambuhan hipertensi
|
NilaiStatistik
|
|||
|
Pre
|
Post
|
||||
|
n
|
%
|
n
|
%
|
thit = 12.075
ttab = 2,262
Sig = 000
|
|
|
Patuh
|
2
|
20
|
8
|
80
|
|
|
Tidak Patuh
|
8
|
80
|
2
|
20
|
|
|
Total
|
10
|
100
|
10
|
100
|
|
Sumber
: Data Primer Diolah Juli 2016
Tabel 11 menunjukkan bahwa hasil
analisis pendidikan kesehatan terhadap kekambuhan hipertensi pada Responden,
diperoleh bahwa dari 10 responden yang menderita kekambuhan hipertensi, lebih
banyak ketidak patuhan terhadap kekambuhan hipertensi sebanyak 8 (100%).
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan hipertensi pada responden terdapat 8
responden yang patuh sebanyak (80%), serta masih terdapat responden yang tidak
patuh terhadap kekambuhan hipertensi meskipun sudah diberikan pendidikan
kesehatan pada responden, sebanyak 2 responden atau (20%).
Hasil
uji Normalitas data nilai Sig > 0.05 (P> 0.208) yang berarti data
berdistribusi normal, sehingga perlu dilakukan uji Paired sample T-Test untuk
mengetahui besar pengaruh pendidikan kesehatan terhadap diet rendah garam pada
responden hipertensi.
HasilujiPaired
sampleT-Test menunjukkanbahwathit = 12.075, ttab = 2,262
artinya bahwa pendidikan kesehatan berupa diet rendah garam berpengaruh
terhadap penurunan kekambuhan hipertensi pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas
Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat.
B. Pembahasan
1. Karateristik Responden
a. Umur Responden
Berdasarkan hasil penelitian rata-rata usia lansia
yang menjadi responden hampir didominasi pada usia 60-65 dengan jumlah 7
responden (70%) (Tabel. 5), sedangkan pada usia > 70 berjumlah 3 responden
(30%) (Tabel 5.). Hal ini dapat diasumsikan bahwa semua responden dapat
mengalami kekambuhan hipertensi.
Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua
umur seseorang semakin besar resiko terserang hipertensi. Semakin tua umur
seseorang, maka tekanan darah akan lebih meningkat karena terjadi perubahan
alami pada jantung dan berkurangnya elastistas dari arteri, sehingga hipertensi
lebih tinggi terjadi pada usia lanjut. Menurut Sugiharto (2007) dalam Rosiana
(2013) umur lebih dari 40 tahun mempunyai resiko terkena hipertensi.
b. Berdasarkan Jenis Kelamin
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
jenis kelamin tertinggi pada wanita 9 responden (90%), sedangkan pada laki-laki
berjumlah 1 responden (10%). Hasil ini menunjukkan bahwa wanita banyak
mengalami hipertensi di banding pada laki-laki, disebabkan karena pada wanita
terdapat hormon ekstrogen.
Menurut
Prihandana (2012), hipertensi lebih banyak dialami oleh wanita dibandingkan
dengan laki-laki disebabkan karena hormon esktrogen pada wanita.
c. Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Hasil penelitianmenunjukkanbahwadari10responden yang mengalami hipertensi pada lansia di
wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah berdasarkan tingkat pendidikan responden
dimana pada Strata-1 (S-1) berjumlah 0 responden sebesar (0%), pada SMA
berjumlah 1 responden (10%), pada SMP berjumlah 2 responden (20%), sedangkan
pada SD berjumlah 7 responden (70%). Hal ini dapat diasumsikan bahwa lansia
yang memiliki pendidikan paling rendah lebih sering mengalami kekambuhan
hipertensi dibanding dengan lansia yang memiliki pendidikan lebih tinggi.
Karena disebabkan oleh kurangnya pengetahuan lansia terhadap hipertensi dan
sulitnya atau lambat dalam menerima informasi yang diberikan oleh petugas
kesehatan.
Menurut Anggara dan Prayitno (2013) tingginya resiko
terkenan hipertensi pada pendidikan yang rendah, kemungkinan disebabkan karena
kurangnya pengetahuan pada pasien yang berpendidikan rendah terhadap kesehatan
dan sulit atau lambat menerima informasi (penyuluhan) yang diberikan oleh
petugas, sehingga berdampak pada perilaku/pola hidup sehat.
Menurut
Budiman (2012) yang meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan
berobat pasien yang diterapi Tamoxifen setelah operasi kanker payudara.
Hasilnya adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan
pelaksanaan berobat dengan nilai p = 0,004.
d. Berdasarkan Pekerjaan
Hasil
penelitian dari tingkat pekerjaan dari responden tertinggi pada pekerjaan
petani sebanyak 8 (80%) responden, diikuti oleh wiraswasta sebanyak 2 (20%)
responden. Hampir sebagain besar responden bekerja sebagai petani. Hipertensi
berkaitan dengan pekerjaan, seseorang sering melakukan aktfitas fisik akan
berpengaruh terhadap metabolisme didalam tubuh, sedangkan orang yang tidak
melakukan aktifitas dapat mengalami hipertensi.
Menurut Kristansti et, al. (2013) pekerjaan berpengaruh
kepada aktifitas fisik seseorang. Orang yang tidak bekerja aktifitas fisiknya
tidak banyak sehingga dapat meningkatkan kejadian hipertensi.
2. Analisis
Kekambuhan Hipertensi Sebelum Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan merupakan salah cara atau media untuk
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pendidikan kesehatan
bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang mendasar mengenai pola hidup sehat.
Namun, ada kalanya pendidikan kesehatan yang di berikan tidak sesuai dengan
harapan oleh tenaga kesehatan.
Pada penilaian
tentang pelaksanaan diet rendah garam pada responden sebelum dilakukan
pendidikan kesehatan terdapat ketidaktahuan responden terhadap penyakit
hipertensi, sebanyak 10 responden menjawab hampir tidak tau apa itu hipertensi,
apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya, serta hal ini akan menyebabkan
ketidakpatuhan responden terhadap penanganan hipertensi yang sering menyerang
pada responden di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah. Namun, ketidaktahuan
dan ketidakpatuhan responden bukan disebabkan karena responden tersebut,
melainkan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh responden.
Berdasarkan
hasil uji Univariat menunjukan bahwa sebelum dilakukan
pendidikan kesehatan, dari total 10 responden. 8 responden (80%) menjawab tidak
patuh atau tidak tau apa hipertensi, sedangkan 2 responden (20%) menjawab
patuh. Hal ini di sebabkan tingkat pendidikan responden paling rendah yaitu
tingkat SD berjumlah 7 responden (70%), SMP berjumlah 2 responden (20%) dan SMA
berjumlah 1 responden (10%) . Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap
pelaksanaan pendidikan kesehatan seseorang, semakin rendah tingkat pendidikan
seseorang maka semakin sulit menyerap informasi yang diberikan, sehingga
mengakibatkan ketidakpatuhan, karena
semakin rendah tingkat pendidikan akan mempengaruhi daya serap seseorang dalam
menerima informasi.
Hendra (2008), mengatakan
bahwa tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan
memahami suatu pengetahuan yang mereka peroleh, pada umumnya semakin tinggi
pendidikan seseorang makin baik pengetahuannya dan makin mudah pula
untuk menerima informasi. Menurut Nursalam (2002), makin
tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi
sehingga makin banyak pengetahuan yang dimiliki.
Penelitian
Sukamto (2007) dengan judulhubungan antara tingkat pengetahuan klien tentang
hipertensi dengan pelaksanaan dalam menjalankan diit hipertensi dengan hasil
penelitiannya adalah p< a dimana 0,02 < 0,05 yang berarti terdapat
hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan klien tentang hipertensi
dengan pelaksanaan dalam menjalankan diit hipertensi.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa responden dengan usia 60-65 berjumlah 7 responden
(70%), usia 70 > berjumlah 3 responden (30%). Hal ini dapat di
asumsikan bahwa semakin lanjut usia
seseorang akan semakin susah dalam menyerap informasi di karena keadaan mental
yang sudah menurun. Semakin bertambahnya usia seseorang maka proses
perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur-umur tertentu
(Sumantri, 2013) dalam (Suparyanto, 2010).
Usia yang lanjut akan mengalami kemunduran daya ingat, sehingga tidak
dapat memahami pelaksanaan diet rendah garam dengan sempurna, namun hanya
berkeinginan untuk menuruti keinginannya yaitu makan makanan yang diinginkannya
(Sumantri, 2013).
Pelaksanaan diet rendah garam pada responden hipertensi
sebelum dilakukan pendidikan kesehatan hampir sebegian besar masih menggunakan
bumbu masak seperti viksin, kecap dan masako. Dari hampir semua pertanyaan yang
diajukan di dapatkan bahwa banyak responden yang tidak patuh dalam penggunaan
bumbu masak seperti viksin, kecap dan menggunakan garam yang berlebih yang
dapat meningkatkan kekambuhan hipertensi pada responden. Penggunaan garam > 1
sendok akan meningkatkan jantung bekerja lebih keras. Tekanandarahtinggi
yang terusmenerusmenyebabkanjantungseseorangbekerjalebihkeras,
akhirnyakondisiiniberakibatterjadinyakerusakanpadapembuluhdarahjantung,ginjal,
otak, danmata.Selain itu juga, konsumsi garam
berlebih dapat meyebabkan terjadinya hipertensi. Komponen utama dari garam
adalah natrium clorida. Konsumsi garam yang berlebih dapat menyebabkan
meningkatnya volume darah, sehingga jantung terus memompa keras untuk mendorong
volume darah yang meningkat melalui ruang yang makin sempit sehingga
mengakibatkan hipertensi.
Menurut Sutanto (2010) Konsumsi natrium berlebih
menyebabkan cairan ekstraseluler meningkat, volume darah juga meningkat
sehingga dampak timbulah hipertensi. Mekanisme yang mendasari sentivitas garam
pada beberapa pasien disebabkan oleh beberapa hal, yaitu : ketidakmampuan
ginjal mengekresikan natrium, pengaturan sirkulasi ginjal yang tidak normal,
dan sekresi aldosteron (Sumantri, 2013) dalam (Aisyiyah, 2009).
3. Analisis
Kekambuhan Hipertensi Sesudah Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan bertujuan untuk memberikan
gambaran mengenai pola hidup sehat pada masyarakat yang mempunyai peran dapat
mengurangi penyakit yang diderita oleh individu. Pendidikan kesehatan yang
dimaksud disini adalah memberikan pendidikan kesehatan pada responden yang
mengalami kekambuhan hipertensi mengenai diet rendah garam yang bertujuan untuk
menurunkan atau mengurangi tekanan hipertensi.
Diet rendah garam yang diberikan melalui pendidikan
kesehatan harus sesuai dengan berat ringannya penyakit yang diderita oleh
responden, diet rendah garam di bagi berdasarkan berat dan ringannya seorang
responden terkena hipertensi. Pembagian diet rendah garam meliputi diet rendah
garam I, II, dan III) yang penambahan natrium maksimal sebesar 1.00-1.200
m/hari dan pada pengolahan makan boleh menambah satu sendok teh garam
dapur/hari atau 4 gram (PERSAGI, 2009).
Berdasarkan hasil uji Univariat menunjukan bahwa
sesudah dilakukan pendidikan kesehatan, dari total 10 responden. 8 responden
(80%) menjawab patuh, sedangkan 2 responden (20%) menjawab tidak patuh. Hal ini
di sebabkan sikap dan motivasi dari responden yang melakukan pengobatan
terhadap penyakit hipertensi. Namun sikap dalam hal ini adalah sikap responden
dalam menerima pendidikan kesehatan terhadap pelaksanaan diet rendah garam pada
penyakit hipertensi. Selain itu juga pendidikan berkala yang diberikan oleh
petugas kesehatan dapat dimengerti dan dipahamai oleh responden. Hal ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Norman (2012), mengenai pengaruh ceramah
kesehatan terhadap pelaksanaan dan tekanan darah pasien hipertensi di Puskesmas
Kecamatan Beji Kota Depok, dengan jumlah responden 122 orang, yang mengalami
peningkatan pelaksanaan sebanyak 68 orang, 48 orang tetap dan 2 orang mengalami
penurunan pelaksanaan.
Faktor keluarga dapat memberikan dorongan yang kuat
terhadap penurunan tekanan darah pada anggota keluarganya dalam hal ini adalah
responden. Keluarga yang memiliki responden dan cendrung terkena penyakit
hipertensi akan selalu diperhatikan pola makan dan kesehatannya agar kekambuhan
hipertensi tidak sering menyerang, sehingga dukungan keluarga terhadap
responden hipetensi sangat besar.
Menurut Andrayani (2013) hubungan dukungan keluarga dengan tingkat
pelaksanaan diet rendah garam pada penderita hipertensi di Poliklinik Jantung
RS DR. Saiful Anwar malang, dengan 89 responden didapatkan hasil hubungan yang
bermakna antara dukungan keluarga dengan tingkat pelaksanaan diet rendah garam.
Partilia (2012) pada 45 responden di RSUD Tugurejo Semarang yang menunjukkan
hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan pelaksanaan diet
rendah garam.
Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah pada
responden sebelum dilakukan pendidikan kesehatan berkisar antara
140/100-190/100 mmHg (Lampiran. 5). Hal ini dapat diasumsikan bahwa hampir semua
responden yang dijadikan responden dapat terindikasi mengalami kekambuhan
hipertensi kapan saja, karena kisaran tekanan darah rata-rata responden
mencapai 140/100-190/100 mmHg (Lampiran. 5). Sebanyak 6 responden (60%)
mengelami kekambuhan hipertensi, sedangkan 4 responden (40%) tidak mengalami
kekambuhan hipertensi (Tabel. 10). Namun setelah di berikan pendidikan
kesehatan, sebanyak 6 responden (60%) tidak mengalami kekambuhan hipertensi,
sedangkan 4 responden (40%) mengalami kekambuhan hipertensi (Tabel. 10).
Sebanyak 6 responden mengalami penurunan yang signifikan yang besar mencapai
135/90-150/100 mmHg (Lampiran. 5) pada responden hipertensi.
Hasil uji Paired sample t-test dimana thit
= 12.075, ttab= 2.262 hal ini berarti menunjukkan adanya pengaruh
yang bermakna antara pelaksanaan diet
rendah garam sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan. Nilai
signifikasi .000 (P< 0,05).
Hasil pendidikan kesehatan pada responden mengalami
peningkatan dari 10 responden, yang menjawab tidak patuh menjadi 2 responden
(20%) yang tidak patuh, sedangkan 8 responden (80%) patuh terhadap pendidikan
kesehatan yang diberikan berupa diet rendah garam terhadap kekambuhan
hipertensi. Hal ini di dasarkan pada responden meskipun memiliki pendidikan
yang rendah tetapi memiliki motivasi dan patuh terhadap program-program diet
rendah garam. Dengan motivasi dan pelaksanaan yang dimiliki oleh responden yang
berada di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat, dapat
menurunkan tekanan hipertensi yang dapat menyebabkan kekambuhan hipertensi pada
responde
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat
ditarik beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut :
Ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang
pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di
wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat. Dengan nilai Paired
sample t-test dimana thit = 12.075, ttab= 2.262 hal ini berarti
menunjukkan adanya pengaruh yang
bermakna antara pelaksanaan diet rendah garam sebelum dan sesudah
dilakukan pendidikan kesehatan. Nilai signifikasi .000 (P< 0,05).
B. Saran
Saran
yang dapat di ajuan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi
Dinas Kesehatan Kabupaten Muna Barat
Sebaiknya senantiasa memberikan penyuluhan tentang pendidikan
kesehatan mengenai kekambuhan hipertensi di Desa-desa agar masyarakat dapat
memahami dampak yang ditimbulkan oleh hipertensi, selain dampak yang diakibatkan
oleh hipertensi, penyuluh kesehatan juga dapat memberikan pengetahuan tentang
pencegahan hipertensi pada responden dan keluarga.
2. Bagi
Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat
Diharapkan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terutama untuk
penyakit hipertensi agar masyarakat dapat merasakan pelayanan yang memuaskan.
3. Bagi
Kepala, Staf, Dokter, Bidan, Perawat dan Apoteker di Puskesmas Tiworo Tengah
Dapat memberikan layanan yang baik terhadap masyarakat apabila ada
masyarakat yang terkena penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi.
4. Bagi Perawat
Hasil
penelitian ini dapat menjadi penambah pemahaman perawat tentang perawatan
pasien hipertensi, yaitu tentang pentingnya menjaga kondisi psikologis pasien,
selain itu juga tentang pola makan yang baik dan melakukan diet rendah garam
terhadap kekambuhan hipertensi.
5. Bagi Pasien hipertensi
Pasien
hipertensi hendaknya menyadari keadaan dirinya dan mampu menerima keadaanya
saat ini. Pasien hipertensi hendaknya
bisa melakukan pencegahan atau kekambuhan hipertensi dengan melakukan diet
rendah garam yang dapat menurunkan hipertensi.
DAFTAR PUSTAKA
Abdillah,
E. R. (2012), Hubungan tingkat pengetahuan diet rendah garam dengan pelaksanaan diet
rendah garam serta di Poli Jantung RSAA Malang. Skripsi. Diakses tanggal 16
Desember 2015.
Achjar,
K. A. (2011), Teori dan Praktikum : Asuhan Keperawatan Komunitas. Jakarta. EGC.
Aisyiyah
(2009), Faktor resiko hipertensi pada empat kabupaten/Kota dengan prevalensi
Hipertensi di Jawa dan Semarang. Fema. Ipb.ac.id. diakses Februari 2016.
Andrayani (2013), Hubungan dukungan
keluarga dengan tingkat kepatuhan diet rendah garam pada penderita hipertensi
di RS. Saiful anwar Malang. Old.fk.ub.ac.id/artikel/idfiledownload/arya/pdf.
Diakses Februari 2016.
Azizah,
L. M. (2011), Keperawatan Lanjut Usia. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Budiman,
A (2012), Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan berobat pasien yang
diterapi Tamoxifen setelah operasi Ca payudara di RS Dr M. Djamil Padang. http://jurnal.fk.unad.ac.id. Diakses
Maret 2016.
Corwin,
(2007), BukuSakuPatofisiologi. Jakarta: PenerbitBukuKedokteran EGCDengan kepatuhan Dalam MenjalankanDiit Hipertensi di Poliklinik RSUD
TuguRejo Semarang.
Skripsi tidakdipublikasikan. Semarang : Program StudiIlmu Keperawatan
Depkes RI, (2005), PedomanPelaksanaanPuskesmas. Jakarta
Depkes RI. (2009), jenis-jenis hipertensi dan
penyebabnya. Jakarta.
Dharma,
H. K. (2012), Metodologi penelitian keperawatan pedoman melaksanakan dan menerapkan
hasil penelitian, Trans Info Media, Jakarta Timur.
Diehl, (2007),Waspadai
Diabetes-Kolesterol-Hipertensi. Terjemahan: Budiati, Winarni. Penerbit: Indonesia
Publishing House.Bandung.
Dinkes
Provinsi Sultra, 2014, Data Penderita Hipertensi Sultra.
Effendi, (2008), Dasar – dasar
Keperawatan Kesehatan Masyarakat. EGC.Jakarta
Effendy,
N dan Rosyid, F.N. (2011), Hubungan kepatuhan Diet rendah garam dan terjadinya
kekambuhan pada pasien Hipertensi di wilayah Puskesmas Pasongsongan Kabupaten
Sumenep, Madura. Jurnal ilmu kesehatan Masyarakat. Universitas Muhamadyah
Surabaya, ISSN 2087-8672.
Hendra
A.W., (2008), Ilmu
Keperawatan Dasar, Edisi
Ke-2, Penerbit Mitra Cendikia
Press.. Yogyakarta.
Legowo, I, A.
(2014). Hubungan
Pengetahuan Pasien dan Dukungan Keluarga dengan Motivasi Pelaksanaan diet
rendah garam pada Pasien Hipertensi di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.
Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
Mubarak dan Chayatin, (2009). Buku Ajar Keperawatan Komunitas 2 Teori danAplikasi
Dalam Praktek. Jakarta: SagungSeto.
Muninjaya (2008), Manajemen
Kesehatan.
Edisi 3. Jakarta: EGC.
Norman (2012), Pengaruh ceramah
kesehatan terhadap kepatuhan dan tekanan darah pasien hipertensi di Puskesmas
Kecamatan Beji Depok. Ui.ac.id.file.diakses April 2016.
Notoatmojo, S. (2010), Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Cetakan I, PT. Rineka Cipta,
Jakarta.
Nursalam
(2002), Menajemen Keperawatan, Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional.
Salemba Medika. Jakarta.
Partilia,
D. F. (2012), Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet rendah garam dan
keteraturan kontrol tekanan darah pada penderita hipertensi di RSUD Tugurejo
Semarang. Diakses Tanggal 16 Desember 2015.
PERSAGI (2009), Kamus pelengkap
Kesehatan Keluarga. PT. Kompas Media Nusantara. Jakarta.
Pratiwi (2011). Pengaruh Konseling
obat terhadap kepatuhan Pasien hipertensi di Poliklinik khusus RSUP DR. Djamil
Padang. http://pasca.unand.ac.id/id/wp-content/uploads/2016/Artikel.pdf.
diakses Maret 2016.
Pudjiastuti, R. D. (2011). Penyakit Pemicu Stroke :
Dilengkapi Posyandu Lansia dan Posbindu PTM. Nuha Medika Press, Yogyakarta.
Rahma,
E,. Rahman, M.S, Wijiutami, Y,. 2012,Hubungan
TingkatPengetahuan tentang DietRendah Garam terhadapKepatuhan Pelaksanaan
DietRendah Garam sertaHubungan Pengetahuan dan Kepatuhan Diet RendahGaram
Pasien Hipertensi diPoli Jantung RSSA Malang,Abstrak, Program Studi
IlmuKeperawatan FKUB.
Ririn
(2008), Hubungan stres kerja terhadap hipertensi pada pegawai dinas kesehatan
kota pekanbaru Tahun 2008. Skripsi.
Robbin, S,. 2006, Perilaku Organisasi, PT.
IndeksKelompok Gramedia, Jakarta.
STIKES Mandala
Waluya.PedomanPenulisanSkripsi. Edisi III. Kendari, 2015
Sudarmoko,
A. 2015. Sehat Tanpa Hipertensi. Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta.
Sukamto A. (2007) Hubungan
Antara Tingkat Pengetahuan Klien Tentang Hipertensi
Dengan
kepatuhan Dalam Menjalankan Diit Hipertensi di Poliklinik RSUD Tugu Rejo
Semarang. Skripsi tidak dipublikasikan. Semarang : Program StudiIlmu
Keperawatan
Sumantri, A. (2013), Pengaruh pendidikan kesehatan hipertensi pada keluarga terhadap kepatuhan
rendah diet garam lansia hipertensi di Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati.
Skripsi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesahatan
A’isyiyah, Yogyakarta.
Sutanto
(2010), Cekal (Cegah dan Tangkal) penyakit Modern. CV. Andi. Yogyakarta.
Wahdah, N. (2011), Menaklukan Hipertensi dan
Diabetes. Multi Solusindo, Yogyakarta.
Widyasari,
D.F dan Candrasari, A. (2010), Pengaruh
pendidikan kesehatan tentang hipertensi terhadap perubahan pengetahuan dan
sikap lansia di Desa makam haji Kartasura Sukoharjo. Jurnal Biomedika Fakultas
Kedokteran, Universitas UMS.
World Health
Organization
(WHO) (2003), Internasional Society of
Hypertension Guideline for Management of Hypertension, Journal Hypertension.
Yulianti,
(2006), 30 Ramuan Penakluk Hipertensi.Penerbit
PT. Agro Media Pustaka. Jakarta.

PENDAHULUAN
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) (2012) sedikitnya jumlah penderita
hipertensi sebanyak 839 juta kasus hipertensi, dan diperkirakan menjadi 1,15
milyar pada tahun 2025 atau sekitar 29% dari total penduduk dunia Padahal
hipertensi merupakan penyebab utama penyakit jantung, kerusakan hati dan
kerusakan ginjal.
Di Indonesia
banyaknyapenderitahipertensidiperkirakan 15 juta orang tetapihanya 4% yang
merupakanhipertensiterkontrol, prevalensi 6-15% pada orang dewasa.15%
diantaranyatidakmenyadarisebagaipenderitahipertensisehinggamerekacenderunguntukmenjadihipertensiberatkarenatidakmenyadaridantidakmengetahuifaktor-faktorresikonya.Dan
90% merupakanhipertensiesensialsaatinipenyakitdegeneratifdancardiofasculersudahmerupakansalahsatumasalahkesehatanmasyarakat
di Indonesia (Ririn 2008).
Data penderitahipertensi di
ProvinsiSultrabahwapadatahun 2012
jumlahkunjunganbaruhipertensipadapasienrawatjalansebanyak 3.672 orang, tahun
2013 sebanyak 5.758 orang danpadatahun 2014 sebanyak 5.789 orang
(DinkesProvinsiSultra, 2014).
Hipertensi pada umumnya menyerang hampir sebagian
kalangan masyarakat tak terkecuali lansia atau lanjut usia. Lansiaadalah
proses menjadilebihtuadenganumurmencapai 45 tahunkeatas. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang
perlu penanganan segera dan terintegrasi. Empat penyakit yang sangat erat
hubungannya dengan lansia adalah hipertensi (tekanan darah tinggi), gangguan
metabolisme hormonal, gangguan persendian dan berbagai neoplasma (Azizah,
2011).
Tekanandarahtinggi yang terusmenerusmenyebabkanjantungseseorangbekerjalebihkeras,
akhirnyakondisiiniberakibatterjadinyakerusakanpadapembuluhdarahjantung,ginjal,
otak, danmata.Hipertensimerupakanpenyebabumumterjadinya stroke
danseranganjantung(Heartattack),
hipertensijugaseringdisebutThe Silent
Killer, karenahanyamenimbulkanbeberapagejala,
seseorangdapatmenderitahipertensitanpamengetahuinya (Pudiastuti,2011).
Hipertensi disebabkan oleh hipertensi primer dan
hipertensi sekunder. Hipertensi primer seperti keturunan, gaya hidup (kebiasaan
makan, alkohol dan rokok), sedangkan hipertensi sekunder seperti kelebihan
berat badan, kelebihan kolesterol (Wahdah, 2011).
Daribeberapafaktordominanpenyebabhipertensi,
faktorkelebihanberatbadandapatmeningkatkanseseorangterserangpenyakithipertensi.
Semakinbesarmassatubuh, makasemakinbanyakdarah yang
dibutuhkanuntukmemasokoksigendanmakanankejaringantubuh. Selain itu juga, konsumsi garam berlebih dapat
meyebabkan terjadinya hipertensi. Komponen utama dari garam adalah natrium
clorida. Konsumsi garam yang berlebih dapat menyebabkan meningkatnya volume
darah, sehingga jantung terus memompa keras untuk mendorong volume darah yang
meningkat melalui ruang yang makin sempit sehingga mengakibatkan hipertensi.
Dalam usaha menurunkan angka morbiditas hipertensi pada
lansia, haruslah dilakukan pendidikan kesehatan yang bertujuan untuk mengurangi
penyakit hipertensi pada lansia. Pendidkan kesehatan pada lansia berupa
pemahaman dan pengetahuan terhadap hipertensi seperti mengurangi konsumsi
lemak, mengatur pola hidup, olahraga secara teratur, mengurangi konsumsi garam,
menghindari rokok dan menghindari kopi. Menurut Widyasari dan Candrasari
(2010), menyimpulkan bahwa ada peningkatan signifikan secara statistik dalam
pengetahuan dan sikap setelah pemberian kesehatan tentang hipertensi. Selain
itu pula faktor keluarga sangat berperan dalam mengurangi penderita hipertensi.
Karena keluarga merupakan sarana yang paling berperan dalam pemberian
pendidikan kesehatan berupa pemahaman dan pengetahuan mengenai hipertensi
sehingga pasien dapat patuh terhadap program diet rendah garam.
Salah satu metode yang baik digunakan oleh tenaga
kesehatan untuk mengurangi morbiditas hipertensi pada lansia adalah dengan
pemberian pendidikan kesehatan berupa pelaksanaan diet rendah garam seperti
mengurangi makan yang memiliki kandungan garam tidak terlalu banyak. Pemberian
makan yang memiliki kandungan garam sedikit atau yang lebih dikenal dengan diet
rendah garam dapat mengurangi atau menurunkan hipertensi. Konsumsi garam yang
sedikit dapat mengurangi volume darah di jantung, sehingga jantung lambat dalam
memompa akibatnya ruang yang sempit akan tetap terisi oleh darah yang tidak
mempunyai tekanan tinggi. Rendahnya pelaksanaan terhadap diet rendah garam
membuat meningkatnya hipertensi, sehingga perlu dilakukan perbaikan intervensi
untuk meningkatkan angka pelaksanaan diet rendah garam pada penderita
hipertensi (Effendy dan Rosyid, 2011).
Hubungan dukungan keluarga dengan pelaksanaan diet rendah
garam dan ketaatan kontrol tekanan darah pada pasien hipertensi di RSUD
Tugurejo Semarang. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang kuat
antara dukungan keluarga dengan pelaksanaan diet rendah garam pada pasien
hipertensi. Berdasarkan penelitian tersebut, maka perlu adanya upaya untuk
meningkatkan dukungan atau peran keluarga dengan memberikan pendidikan
kesehatan keluarga sehingga pasien dapat patuh terhadap program diet rendah
garam pada lansia (Partilia, 2012).
Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan oleh
penulis di wilayah kerja Puskesmas Toworo Tengah, Kabupaten Muna Barat di
peroleh jumlah lansia atau lanjut usia di setiap tahunnya mengalami peningkatan
yang menderita hipertensi. Di mana pada tahun 2012 terdapat 180 lansia yang
yang menderita hipertensi, pada tahun 2013 terdapat 193 penderita dan pada
tahun 2014 terdapat 210 lansia yang menderita hipertensi. Sedangkan pada tahun
2015 terdapat 228 lansia yang menderita hipertensi. Pada tahun 2016 dalam 2
(dua) bulan terakhir tercatat lansia yang menderita hipertensi, Kabupaten Muna
Barat berjumlah 10 lansia yang menderita hipertensi. Selain itu berdasarkan
hasil wawancara antara penulis dengan 5 lansia
yang menderita hipertensi, Lansia masih memakan makan yang mengandung
banyak garam meskipun kekambuhan hiperetnsi pada lansia sudah sering menyerang.
Lansia datang ke puskesmas untuk melakukan pengobatan terhadap gejala-gejala
tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Berdasarkan uraian di atas rumusan pada penelitian ini
adalah :
Apakah ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang
pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di
wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat ?
Untukmengetahuipengaruh
pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan
hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna
Barat.
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat
bagi pengembangan ilmu tentang pengaruh
pendidikan kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan
hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna
Barat.
Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan
sebagai referensi dalam ilmu pengembangan keperawatan.
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat
bagi pihak Puskesmas dan Lansia dalam melakukan
evaluasi dan perencanaan kegiatan
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti
sendiri.
Hasil
penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti selanjutnya.
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
Hipertensi adalah suatukeadaan dimana seseorang
mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal ditujukan oleh angka
sistolik (bagian atas) dan angka diastol (bagian bawah) pada pemeriksaan tensi
darah.
Beberapa penyebab hipertensi adalah bertambahnya berat
badan, konsumsi garam berlebih, alkohol, kopi dan rokok. Diantara berbagai
faktor yang menyebabkan hipertensi konsumsi garam berlebih merupakan salah satu
faktor serius yang paling banyak dilakukan oleh sebagian elemen masyarakat
terutama pada lansia. Konsumsi garam berlebih akan meningkatkan kerja jantung
yang tak seperti biasanya sehingga akan mengakibatkan terjadinya kerusakan
pembuluh darah jantung, ginjal, otak dan mata. Rusaknya pembuluh darah di
jantung dapat menyebabkan serangan jantung, sehingga hipertensi banyak
menyebabkan serangan jantung.
Pendidikan kesehatan merupakan salah satu cara atau
media untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pendidikan
kesehatan bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang mendasar mengenai pola
hidup sehat. Namun, ada kalanya pendidikan kesehatan yang di berikan tidak
sesuai dengan harapan oleh tenaga kesehatan. Tingkat pengetahuan menjadi faktor
yang sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan dari pendidikan kesehatan
yang diberikan. Pendidikan kesehatan mengarah pada pelaksanaan. Pelaksanaan
yang dimaksud dalam hal ini adalah pelaksanaan tentang diet rendah garam.
Pelaksanaan diet rendah garam mengarah pada penurunan tekanan darah. Tekanan
darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu penyakit yang sering
menyerang berbagai elemen masyarakat tak terkecuali pada lansia. Lansia atau lanjut
usia merupakan elemen masyarakat yang paling banyak terserang penyakit
hipertensi. Terjadinya hipertensi pada lansia di sebabkan oleh cara makan yang
tidak teratur seperti menggunakan kandungan garam yang berlebih dan kebiasaan
minum kopi. Pendidikan kesehatan pada lansia bertujuan untuk memberikan
pemahaman tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap makanan. Namun yang
menjadi kendala pengetahuan tentang pelaksanaan diet rendah garam sangat minim
karena disebabkan oleh pola pikir yang mulai menurun. Pengetahuan yang baik
terhadap pelaksanaan tentang diet rendah garam akan memberikan dampak yang baik
terhadap penurunan hipertensi, akan tetapi jika lansia memiliki pengetahuan
yang kurang terhadap pelaksanaan diet rendah garam akan memberikan dampak negatif.
Untuk mengantisipasi hipertensi pada lansia perlu
dilakukan pendidikan kesehatan terhadap lansia yang menderita hipertensi guna
untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan mengenai diet rendah garam serta
meminum obat dan perilaku hidup sehat dalam mengurangi penyakit hipertensi.
Hipertensi dan komplikasinya dapat dicegah dengan mengkonsumsi obat dan
melakukan perubahan gaya hidup antara lain pengurangan berat badan, berhenti
merokok, berhenti mengkonsumsi alkohol, mengubah pola makan dan mengurangi garam
disertai asupan kalsium, magnesium dan kalium yang cukup.
B. Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah
dan tinjauan teoritis maka skema kerangka konsep penelitian ini adalah sebagai
berikut :
Variabel Independen
|
|||
Keterangan :
: Variabel Independen
: Variabel Dependen
Gambar 1. Bagan Kerangka Konsep Penelitian
C. Variabel Penelitian
1. Variabel Terikat
(Dependent Variabel)
Variabel terikat penelitian ini adalah
pelaksanaan hipertensi pada lansia.
2.
Variabel Bebas (Independent Variabel)
Variabel bebas pada penelitian ini pendidikan
kesehatan tentang pelaksanaan diet rendah garam. Pelaksanaan
adalah tingkat perilaku pasien yang tertuju terhadap intruksi atau petunjuk
yang diberikan dalam bentuk terapi apapun yang ditentukan, baik diet, latihan,
pengobatan.
D. Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif
1. Hipertensi
Hipertensi
adalah naiknya tekanan darah diatas rata-rata. Hipertensi banyak menyerang pada
lansia.
Kambuh : Pada saat pengukuran > 140/90 mmHg
Tidak Kambuh: Pada saat pengukuran ≤ 140/90 mmHg
Variabel Dependen
![]() |
2. Pendidikan Kesehatan Pada Lansia
Tentang Pelaksanaan diet Rendah Garam
Pendidikan kesehatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah diet
rendah garam terhadap kekambuhanhipertensi. Pemberian pendidikan kesehatan
berupa diet rendah garam bertujuan untuk mengurangi kekambuhan hipertensi pada
lansia. Namun, ada kalanya lansia tidak patuh/patuh terhadap pendidikan
kesehatan yang diberikan. Lansia yang tidak patuh terhadap pendidikan kesehatan
akan mengalami kesulitan dalam menurunkan atau mengurangi kekambuhan
hipertensi, sedangkan lansia yang patuh cendrung lebih mudah dalam mengurangi
kekambuhan hipertensi. Pendidikan kesehatan dilakukan dengan cara door to door atau rumah kerumah
penderita hipertensi. Skala Penilaian yang digunakan adalah skala Guttman.
Bila jawaban “Benar” =
1
Bila jawaban “Salah” =
0
Jumlah pertanyaan =
12
Jawaban tertinggi berbobot 1 dan terendah berbobot 0
Skor antara = skor tertinggi – skor terendah
=
100% - 0
=
100%
Kriteria objektif 2 kategori : :Patuh
dan Tidak Patuh
I =
R/K
Keterangan :
I =
Interval
R =
Range (skor antara)
K =
Kategori (Sugiyono, 2006)
I =
100%/2
=
50%
Kriteria objektif :
a. Patuh= bila skor jawaban responden
> 50%
b. Tidak Patuh = bila skor jawaban responden < 50%
E. Hipotesis Penelitian
1. Pendidikan Kesehatan
Ho : Tidak ada pengaruh pendidikan kesehatan
tentang pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada
lansia di wilayah kerja Puskesmas Tiworo
Tengah Kabupaten Muna Barat.
Ha : Ada pengaruh pendidikan tentang pelaksanaa
diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di wilayah kerja
Puskesmas Tiworo Tengah Kaupaten Muna Barat
|
||||||||||
|
||||||||||
|
||||||||||
|
||||||||||
Pree
Test Pree TestPerlakuan
Gambar 2. Skema Penelitian
B.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini telah dilaksanakan di
Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat..
Penelitian ini telah dilaksanakan mulai pada tanggal 19 Mei sampai
19 Juni 2016.
C. Populasi, Sampel dan Sampling
Populasi
adalah keseluruhan subjek penelitian atau sekelompok orang, barang, benda yang
mendiami suatu wilayah pada suatu periode tertentu (Murti, 2007). Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh lansia
dalam kategori hipertensi yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah
Kabupaten Muna Barat. Populasi pada penelitian ini adalah lansia yang berjumlah
10 orang. Lansia yang mengalami hipertensi yang datanya di peroleh dari
Puskesmas berjumlah 10 orang.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karateristik yang
dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2008). Sampel dalam penelitian ini berjumlah
10 orang. Dalam hal ini lansia yang terdiagnosis menderita hipertensi.
Tehnik sampling pada penelitian ini adalah
dilakukan secara total sampling yaitu seluruh dari populasi dijadikan sampel.
Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 10 orang. Tehnik yang
digunakan untuk mengambil sampel dalam penelitian ini adalah sampling jenuh
(sensus) yang mana tehnik penentuan sampel bila semua anggota populasi
digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif
kecil, kurang dari 30 orang.
Post
Test
D. Pengunpulan Data
Data primer diperoleh dengan
mengedarkan kuesioner kepada setiap responden, observasi dan wawancara langsung
dengan memberikan penjelasan kepada responden bila terdapat hal-hal yang kurang
dimengerti dalam menjawab kuesioner.
Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh melalui
catatan khusus di ruangan tata usaha di Puskesmas Kec. Tiworo Tengah, sebagai data pelengkap dan
penunjang data primer untuk keperluan penelitian.
E. Pengolahan,
Analisis dan Penyajian Data
a. (Editing)
Editing yaitu mengoreksi kesalahan-kesalahan yang di
tentukan.Peneliti melakukan pengecekan kelengkapan data yang ada. Jika
ditemukan data yang salah maka data tersebut tidak akan dipakai.
b. (Coding)
Adalah usaha untuk mengklasifikasi jawaban yang ada menurut
jenisnya.Dilakukan dengan memberi tanda pada masing-masing jawaban dengan kode
berupa simbol-simbol.
c. (Tabulating)
Sebelum data diklarifikasi, data dikelompokkan menurut
kategori yang telah ditentukan, selanjutnya data ditabulasikan sehingga
diperoleh frekuensi dari masing-masing tabel.
d. (Entry)
Proses memasukkan data ke dalam computer dengan SPSS
sebelum dilakukan analisa dengan computer dilakukan pengecekan ulang terhadap
data.
e.
Cleaning
Proses
pembersihan data yang dianggap menganggu proses analisis.
2. Analisis Data
Analisis
data dilakukan dengan menggunakan program SPSS (Statitical Product and Sevice Solution) versi 16.0 dan analisis
data dijabarkan sebagai berikut :
a. Analisis Univariat
Dilakukan
untuk mengetahui distribusi frekuensi variabel yang diteliti yaitu pengaruh
pendidikan kesehatan terhadap pelaksanaan diet rendah garam pada lansia.
Menggunakan Rumus (Arikunto, 2008).
Keterangan
:
X = Hasil Presentase
F = Frekuensi Hasil Pencapaian
n = Total Seluruh Observasi
100% = Bilangan Genap
b. Analisis Bivariat
Dilakukan
untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dengan Variabel yang diteliti
yaitu pengaruh pendidikan kesehatan
terhadap pelaksanaan diet rendah garam pada lansia dengan menggunakan uji pairet sampel T-test.
![]() |
Keterangan :
D :
Rata-rata Pengukuran 1 dan 2
SD :
Standar Deviasi hasil pengukuran 1 dan 2
n :
Jumlah Sampel (Arikunto, 2007)
3. Penyajian Data
Data
disajikan dalam bentuk tabel 2x2 dan diinterpretasikan dalam bentuk narasi
dengan penjelasan-penjelasannya.
F. Etika
Penelitian
1.Persetujuan Menjadi responden (Informed Concent)
Lembar persetujuan diberikan kepada calon responden yang akan
diteliti yang memenuhi kriteria inklusi. Bila calon responden menolak, maka
peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-hak yang bersangkutan.
2. Tanpa Nama (Anonimity)
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan
nama responden tetapi lembar tersebut diberikan kode.
3.Kerahasian (Considentialy)
Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti, hanya
kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. KarakteristikResponden
Karakteristikrespondendalampenelitianinimeliputiumur, jeniskelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan.Adapunpenjelasankarakteristikrespondentersebutdapatdilihatpadatabelberikut
:
a. DistribusiFrekuensiRespondenBerdasarkanKelompokUmur.
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkankelompokumur,
sebagaimanadiuraikanpadatabel di bawahini.
Tabel5 :DistribusiRespondenBerdasarkanUmurdi PuskesmasTiworo Tengah
Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
|
No
|
Umur (Tahun)
|
Jumlah (n)
|
Persen (%)
|
|
1.
|
60-65
|
5
|
50
|
|
2.
|
66-70
|
1
|
10
|
|
3.
|
>70
|
4
|
40
|
|
Total
|
10
|
100
|
|
Sumber:
Data PrimerDiolah Juli 2016
Tabel5menunjukkanbahwadari10responden kasus hipertensi pada lansia di wilayah kerja
Puskesmas Tiworo Tengah tertinggi pada umur 60-65 tahun sebanyak 5 respondedn
(50%), pada usia 66-70 sebanyak 1 responden (10%), dan usia >70 tahun
sebanyak 4 responden (40%).
b. DistribusiRespondenBerdasarkanJenisKelamin
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkanjeniskelamin,
sebagaimanadiuraikanpadatabel di bawahini.
Tabel6 :DistribusiRespondenBerdasarkanJenis Kelamindi PuskesmasTiworo Tengah
Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
|
No
|
Jenis
Kelamin
|
Jumlah
(n)
|
Persen
(%)
|
|
1.
|
Laki-laki
|
1
|
10
|
|
2.
|
Perempuan
|
9
|
90
|
|
Total
|
10
|
100
|
|
Sumber:
Data Primer Diolah Juli
2016
Tabel6menunjukkanbahwadari10responden kasus hipertensi pada lansia di wilayah kerja
Puskesmas Tiworo Tengah berdasarkan jenis kelamin responden dimana pada
laki-laki berjumlah 1 responden sebesar (10%), sedangkan pada perempuan
berjumlah 9 responden sebesar (90%).
c. DistribusiRespondenBerdasarkanTingkat Pendidikan
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkantingkat pendidikan,
sebagaimanadiuraikanpadagambar
di bawahini.
Tabel7 :DistribusiRespondenBerdasarkanTingkat
Pendidikandi
PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
|
No
|
Tingkat
Pendidikan
|
Jumlah
(n)
|
Persen
(%)
|
|
1.
|
SMA
|
1
|
10
|
|
2.
|
SMP
|
2
|
20
|
|
3.
|
SD
|
7
|
70
|
|
Total
|
10
|
100
|
|
Sumber:
Data Primer Diolah Juli 2016
Tabel7menunjukkanbahwadari10responden kasus hipertensi pada lansia di wilayah kerja
Puskesmas Tiworo Tengah berdasarkan tingkat pendidikan responden dimana pada
SMA berjumlah 1 responden (10%), pada SMP berjumlah 2 responden (20%),
sedangkan pada SD berjumlah 7 responden (70%).
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkanjenispekerjaan, sebagaimanadiuraikanpadatabel
di bawahini.
Tabel8 :DistribusiRespondenBerdasarkanJenis
PekerjaanLansia diPuskesmasTiworo Tengah
Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
|
No
|
Pekerjaan
|
Jumlah
(n)
|
Persen
(%)
|
|
1.
|
Wiraswasta
|
2
|
20
|
|
2.
|
Petani
|
8
|
80
|
|
Total
|
10
|
100
|
|
Sumber:
Data PrimerDiolah Juli 2016
Berdasarkan tabel 8 di atas tingkat pekerjaan dari
responden tertinggi pada pekerjaan petani sebanyak 8 (80%) responden, diikuti
oleh wiraswasta sebanyak 2 (20%) responden.
2.
AnalisisUnivariat
Adapunhasilpengolahan data tentangvariabelpenelitiandapatdiuraikansebagaiberikut:
a. DistribusiRespondenBerdasarkan Pendidikan Kesehatan
Adapunkarakteristikrespondenberdasarkanpelaksanaan pelaksanaan hipertensi,
sebagaimanadiuraikanpadatabel di bawahini.
Tabel9 :DistribusiRespondenBerdasarkanPendidikan
Kesehatandi
PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
|
No
|
Pelaksanaan
diet rendah garam
|
Pendidikan
kesehatan
|
%
|
|
|
Pre
|
Post
|
|||
|
1.
|
Patuh
|
2
|
8
|
80
|
|
2.
|
Tidak
Patuh
|
8
|
2
|
20
|
|
Total
|
10
|
10
|
100
|
|
Sumber : Data Primer Diolah Juli 2016
Tabel9menunjukkanbahwadari10responden yang menderita hipertensi, sebelum diberikan
pendidikan kesehatan terdapat 8 responden yang tidak patuh sebesar (80%),
sedangkan yang patuh berjumlah 2 responden sebesar (20%). Setelah diberikan
pendidikan kesehatan 8 responden 8 yang patuh sebesar (80%), sedangkan yang
tidak patuh berjumlah 2 responden sebesar (20%)
Tabel10 :DistribusiRespondenBerdasarkanKekambuhan
(HT) Hipertensi Pada Lansiadi
PuskesmasTiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
|
No
|
Kekambuhan
hipertensi
|
Tekanan
Darah
|
%
|
|
|
Pre
|
Post
|
|||
|
1.
|
Kambuh
|
6
|
4
|
40
|
|
2.
|
Tidak
Kambuh
|
4
|
6
|
60
|
|
Total
|
10
|
10
|
100
|
|
Sumber:
Data PrimerDiolah Juli 2016
Tabel 10 menunjukkan dari 10 responden yang menderita
hipertensi dan melakukan kunjungan ke Puskesmas,sebelum pendidikan kesehatan terdapat
6 (60%) responden yang mengalami kekambuhan hipertensi, sedangkan 4 (40%)
responden tidak mengalami kekambuhan hipertensi. Namun, setelah diberikan
pendidikan kesehatan berupa diet rendah garam, terdapat 4 (40%) responden
mengalami kekambuhan hipertensi, sedangkan 6 (60%) responden tidak mengalami
kekambuhan hipertensi.
3. Analisis Bivariat
a. PairetSampelt-test
Hasilanalisis data tentanganalisis pendidikan kesehatan terhadap kekambuhan
hipertensi pada Responden di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna
Barat, dapatdilihatpadatabelberikutini:
Tabel11 : Analisis
Pendidikan Kesehatan Sebelum dan sesudah Pada Responden Hipertensi di Wilayah Kerja
Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat Tahun 2016.
|
Pendidikan Kesehatan
|
Kekambuhan hipertensi
|
NilaiStatistik
|
|||
|
Pre
|
Post
|
||||
|
n
|
%
|
n
|
%
|
thit = 12.075
ttab = 2,262
Sig = 000
|
|
|
Patuh
|
2
|
20
|
8
|
80
|
|
|
Tidak Patuh
|
8
|
80
|
2
|
20
|
|
|
Total
|
10
|
100
|
10
|
100
|
|
Sumber
: Data Primer Diolah Juli 2016
Tabel 11 menunjukkan bahwa hasil
analisis pendidikan kesehatan terhadap kekambuhan hipertensi pada Responden,
diperoleh bahwa dari 10 responden yang menderita kekambuhan hipertensi, lebih
banyak ketidak patuhan terhadap kekambuhan hipertensi sebanyak 8 (100%).
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan hipertensi pada responden terdapat 8
responden yang patuh sebanyak (80%), serta masih terdapat responden yang tidak
patuh terhadap kekambuhan hipertensi meskipun sudah diberikan pendidikan
kesehatan pada responden, sebanyak 2 responden atau (20%).
Hasil
uji Normalitas data nilai Sig > 0.05 (P> 0.208) yang berarti data
berdistribusi normal, sehingga perlu dilakukan uji Paired sample T-Test untuk
mengetahui besar pengaruh pendidikan kesehatan terhadap diet rendah garam pada
responden hipertensi.
HasilujiPaired
sampleT-Test menunjukkanbahwathit = 12.075, ttab = 2,262
artinya bahwa pendidikan kesehatan berupa diet rendah garam berpengaruh
terhadap penurunan kekambuhan hipertensi pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas
Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat.
B. Pembahasan
1. Karateristik Responden
a. Umur Responden
Berdasarkan hasil penelitian rata-rata usia lansia
yang menjadi responden hampir didominasi pada usia 60-65 dengan jumlah 7
responden (70%) (Tabel. 5), sedangkan pada usia > 70 berjumlah 3 responden
(30%) (Tabel 5.). Hal ini dapat diasumsikan bahwa semua responden dapat
mengalami kekambuhan hipertensi.
Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua
umur seseorang semakin besar resiko terserang hipertensi. Semakin tua umur
seseorang, maka tekanan darah akan lebih meningkat karena terjadi perubahan
alami pada jantung dan berkurangnya elastistas dari arteri, sehingga hipertensi
lebih tinggi terjadi pada usia lanjut. Menurut Sugiharto (2007) dalam Rosiana
(2013) umur lebih dari 40 tahun mempunyai resiko terkena hipertensi.
b. Berdasarkan Jenis Kelamin
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
jenis kelamin tertinggi pada wanita 9 responden (90%), sedangkan pada laki-laki
berjumlah 1 responden (10%). Hasil ini menunjukkan bahwa wanita banyak
mengalami hipertensi di banding pada laki-laki, disebabkan karena pada wanita
terdapat hormon ekstrogen.
Menurut
Prihandana (2012), hipertensi lebih banyak dialami oleh wanita dibandingkan
dengan laki-laki disebabkan karena hormon esktrogen pada wanita.
c. Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Hasil penelitianmenunjukkanbahwadari10responden yang mengalami hipertensi pada lansia di
wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah berdasarkan tingkat pendidikan responden
dimana pada Strata-1 (S-1) berjumlah 0 responden sebesar (0%), pada SMA
berjumlah 1 responden (10%), pada SMP berjumlah 2 responden (20%), sedangkan
pada SD berjumlah 7 responden (70%). Hal ini dapat diasumsikan bahwa lansia
yang memiliki pendidikan paling rendah lebih sering mengalami kekambuhan
hipertensi dibanding dengan lansia yang memiliki pendidikan lebih tinggi.
Karena disebabkan oleh kurangnya pengetahuan lansia terhadap hipertensi dan
sulitnya atau lambat dalam menerima informasi yang diberikan oleh petugas
kesehatan.
Menurut Anggara dan Prayitno (2013) tingginya resiko
terkenan hipertensi pada pendidikan yang rendah, kemungkinan disebabkan karena
kurangnya pengetahuan pada pasien yang berpendidikan rendah terhadap kesehatan
dan sulit atau lambat menerima informasi (penyuluhan) yang diberikan oleh
petugas, sehingga berdampak pada perilaku/pola hidup sehat.
Menurut
Budiman (2012) yang meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan
berobat pasien yang diterapi Tamoxifen setelah operasi kanker payudara.
Hasilnya adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan
pelaksanaan berobat dengan nilai p = 0,004.
d. Berdasarkan Pekerjaan
Hasil
penelitian dari tingkat pekerjaan dari responden tertinggi pada pekerjaan
petani sebanyak 8 (80%) responden, diikuti oleh wiraswasta sebanyak 2 (20%)
responden. Hampir sebagain besar responden bekerja sebagai petani. Hipertensi
berkaitan dengan pekerjaan, seseorang sering melakukan aktfitas fisik akan
berpengaruh terhadap metabolisme didalam tubuh, sedangkan orang yang tidak
melakukan aktifitas dapat mengalami hipertensi.
Menurut Kristansti et, al. (2013) pekerjaan berpengaruh
kepada aktifitas fisik seseorang. Orang yang tidak bekerja aktifitas fisiknya
tidak banyak sehingga dapat meningkatkan kejadian hipertensi.
2. Analisis
Kekambuhan Hipertensi Sebelum Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan merupakan salah cara atau media untuk
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pendidikan kesehatan
bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang mendasar mengenai pola hidup sehat.
Namun, ada kalanya pendidikan kesehatan yang di berikan tidak sesuai dengan
harapan oleh tenaga kesehatan.
Pada penilaian
tentang pelaksanaan diet rendah garam pada responden sebelum dilakukan
pendidikan kesehatan terdapat ketidaktahuan responden terhadap penyakit
hipertensi, sebanyak 10 responden menjawab hampir tidak tau apa itu hipertensi,
apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya, serta hal ini akan menyebabkan
ketidakpatuhan responden terhadap penanganan hipertensi yang sering menyerang
pada responden di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah. Namun, ketidaktahuan
dan ketidakpatuhan responden bukan disebabkan karena responden tersebut,
melainkan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh responden.
Berdasarkan
hasil uji Univariat menunjukan bahwa sebelum dilakukan
pendidikan kesehatan, dari total 10 responden. 8 responden (80%) menjawab tidak
patuh atau tidak tau apa hipertensi, sedangkan 2 responden (20%) menjawab
patuh. Hal ini di sebabkan tingkat pendidikan responden paling rendah yaitu
tingkat SD berjumlah 7 responden (70%), SMP berjumlah 2 responden (20%) dan SMA
berjumlah 1 responden (10%) . Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap
pelaksanaan pendidikan kesehatan seseorang, semakin rendah tingkat pendidikan
seseorang maka semakin sulit menyerap informasi yang diberikan, sehingga
mengakibatkan ketidakpatuhan, karena
semakin rendah tingkat pendidikan akan mempengaruhi daya serap seseorang dalam
menerima informasi.
Hendra (2008), mengatakan
bahwa tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan
memahami suatu pengetahuan yang mereka peroleh, pada umumnya semakin tinggi
pendidikan seseorang makin baik pengetahuannya dan makin mudah pula
untuk menerima informasi. Menurut Nursalam (2002), makin
tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi
sehingga makin banyak pengetahuan yang dimiliki.
Penelitian
Sukamto (2007) dengan judulhubungan antara tingkat pengetahuan klien tentang
hipertensi dengan pelaksanaan dalam menjalankan diit hipertensi dengan hasil
penelitiannya adalah p< a dimana 0,02 < 0,05 yang berarti terdapat
hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan klien tentang hipertensi
dengan pelaksanaan dalam menjalankan diit hipertensi.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa responden dengan usia 60-65 berjumlah 7 responden
(70%), usia 70 > berjumlah 3 responden (30%). Hal ini dapat di
asumsikan bahwa semakin lanjut usia
seseorang akan semakin susah dalam menyerap informasi di karena keadaan mental
yang sudah menurun. Semakin bertambahnya usia seseorang maka proses
perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur-umur tertentu
(Sumantri, 2013) dalam (Suparyanto, 2010).
Usia yang lanjut akan mengalami kemunduran daya ingat, sehingga tidak
dapat memahami pelaksanaan diet rendah garam dengan sempurna, namun hanya
berkeinginan untuk menuruti keinginannya yaitu makan makanan yang diinginkannya
(Sumantri, 2013).
Pelaksanaan diet rendah garam pada responden hipertensi
sebelum dilakukan pendidikan kesehatan hampir sebegian besar masih menggunakan
bumbu masak seperti viksin, kecap dan masako. Dari hampir semua pertanyaan yang
diajukan di dapatkan bahwa banyak responden yang tidak patuh dalam penggunaan
bumbu masak seperti viksin, kecap dan menggunakan garam yang berlebih yang
dapat meningkatkan kekambuhan hipertensi pada responden. Penggunaan garam > 1
sendok akan meningkatkan jantung bekerja lebih keras. Tekanandarahtinggi
yang terusmenerusmenyebabkanjantungseseorangbekerjalebihkeras,
akhirnyakondisiiniberakibatterjadinyakerusakanpadapembuluhdarahjantung,ginjal,
otak, danmata.Selain itu juga, konsumsi garam
berlebih dapat meyebabkan terjadinya hipertensi. Komponen utama dari garam
adalah natrium clorida. Konsumsi garam yang berlebih dapat menyebabkan
meningkatnya volume darah, sehingga jantung terus memompa keras untuk mendorong
volume darah yang meningkat melalui ruang yang makin sempit sehingga
mengakibatkan hipertensi.
Menurut Sutanto (2010) Konsumsi natrium berlebih
menyebabkan cairan ekstraseluler meningkat, volume darah juga meningkat
sehingga dampak timbulah hipertensi. Mekanisme yang mendasari sentivitas garam
pada beberapa pasien disebabkan oleh beberapa hal, yaitu : ketidakmampuan
ginjal mengekresikan natrium, pengaturan sirkulasi ginjal yang tidak normal,
dan sekresi aldosteron (Sumantri, 2013) dalam (Aisyiyah, 2009).
3. Analisis
Kekambuhan Hipertensi Sesudah Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan bertujuan untuk memberikan
gambaran mengenai pola hidup sehat pada masyarakat yang mempunyai peran dapat
mengurangi penyakit yang diderita oleh individu. Pendidikan kesehatan yang
dimaksud disini adalah memberikan pendidikan kesehatan pada responden yang
mengalami kekambuhan hipertensi mengenai diet rendah garam yang bertujuan untuk
menurunkan atau mengurangi tekanan hipertensi.
Diet rendah garam yang diberikan melalui pendidikan
kesehatan harus sesuai dengan berat ringannya penyakit yang diderita oleh
responden, diet rendah garam di bagi berdasarkan berat dan ringannya seorang
responden terkena hipertensi. Pembagian diet rendah garam meliputi diet rendah
garam I, II, dan III) yang penambahan natrium maksimal sebesar 1.00-1.200
m/hari dan pada pengolahan makan boleh menambah satu sendok teh garam
dapur/hari atau 4 gram (PERSAGI, 2009).
Berdasarkan hasil uji Univariat menunjukan bahwa
sesudah dilakukan pendidikan kesehatan, dari total 10 responden. 8 responden
(80%) menjawab patuh, sedangkan 2 responden (20%) menjawab tidak patuh. Hal ini
di sebabkan sikap dan motivasi dari responden yang melakukan pengobatan
terhadap penyakit hipertensi. Namun sikap dalam hal ini adalah sikap responden
dalam menerima pendidikan kesehatan terhadap pelaksanaan diet rendah garam pada
penyakit hipertensi. Selain itu juga pendidikan berkala yang diberikan oleh
petugas kesehatan dapat dimengerti dan dipahamai oleh responden. Hal ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Norman (2012), mengenai pengaruh ceramah
kesehatan terhadap pelaksanaan dan tekanan darah pasien hipertensi di Puskesmas
Kecamatan Beji Kota Depok, dengan jumlah responden 122 orang, yang mengalami
peningkatan pelaksanaan sebanyak 68 orang, 48 orang tetap dan 2 orang mengalami
penurunan pelaksanaan.
Faktor keluarga dapat memberikan dorongan yang kuat
terhadap penurunan tekanan darah pada anggota keluarganya dalam hal ini adalah
responden. Keluarga yang memiliki responden dan cendrung terkena penyakit
hipertensi akan selalu diperhatikan pola makan dan kesehatannya agar kekambuhan
hipertensi tidak sering menyerang, sehingga dukungan keluarga terhadap
responden hipetensi sangat besar.
Menurut Andrayani (2013) hubungan dukungan keluarga dengan tingkat
pelaksanaan diet rendah garam pada penderita hipertensi di Poliklinik Jantung
RS DR. Saiful Anwar malang, dengan 89 responden didapatkan hasil hubungan yang
bermakna antara dukungan keluarga dengan tingkat pelaksanaan diet rendah garam.
Partilia (2012) pada 45 responden di RSUD Tugurejo Semarang yang menunjukkan
hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan pelaksanaan diet
rendah garam.
Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah pada
responden sebelum dilakukan pendidikan kesehatan berkisar antara
140/100-190/100 mmHg (Lampiran. 5). Hal ini dapat diasumsikan bahwa hampir semua
responden yang dijadikan responden dapat terindikasi mengalami kekambuhan
hipertensi kapan saja, karena kisaran tekanan darah rata-rata responden
mencapai 140/100-190/100 mmHg (Lampiran. 5). Sebanyak 6 responden (60%)
mengelami kekambuhan hipertensi, sedangkan 4 responden (40%) tidak mengalami
kekambuhan hipertensi (Tabel. 10). Namun setelah di berikan pendidikan
kesehatan, sebanyak 6 responden (60%) tidak mengalami kekambuhan hipertensi,
sedangkan 4 responden (40%) mengalami kekambuhan hipertensi (Tabel. 10).
Sebanyak 6 responden mengalami penurunan yang signifikan yang besar mencapai
135/90-150/100 mmHg (Lampiran. 5) pada responden hipertensi.
Hasil uji Paired sample t-test dimana thit
= 12.075, ttab= 2.262 hal ini berarti menunjukkan adanya pengaruh
yang bermakna antara pelaksanaan diet
rendah garam sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan. Nilai
signifikasi .000 (P< 0,05).
Hasil pendidikan kesehatan pada responden mengalami
peningkatan dari 10 responden, yang menjawab tidak patuh menjadi 2 responden
(20%) yang tidak patuh, sedangkan 8 responden (80%) patuh terhadap pendidikan
kesehatan yang diberikan berupa diet rendah garam terhadap kekambuhan
hipertensi. Hal ini di dasarkan pada responden meskipun memiliki pendidikan
yang rendah tetapi memiliki motivasi dan patuh terhadap program-program diet
rendah garam. Dengan motivasi dan pelaksanaan yang dimiliki oleh responden yang
berada di wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat, dapat
menurunkan tekanan hipertensi yang dapat menyebabkan kekambuhan hipertensi pada
responde
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat
ditarik beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut :
Ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang
pelaksanaan diet rendah garam terhadap kekambuhan hipertensi pada lansia di
wilayah kerja Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat. Dengan nilai Paired
sample t-test dimana thit = 12.075, ttab= 2.262 hal ini berarti
menunjukkan adanya pengaruh yang
bermakna antara pelaksanaan diet rendah garam sebelum dan sesudah
dilakukan pendidikan kesehatan. Nilai signifikasi .000 (P< 0,05).
B. Saran
Saran
yang dapat di ajuan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi
Dinas Kesehatan Kabupaten Muna Barat
Sebaiknya senantiasa memberikan penyuluhan tentang pendidikan
kesehatan mengenai kekambuhan hipertensi di Desa-desa agar masyarakat dapat
memahami dampak yang ditimbulkan oleh hipertensi, selain dampak yang diakibatkan
oleh hipertensi, penyuluh kesehatan juga dapat memberikan pengetahuan tentang
pencegahan hipertensi pada responden dan keluarga.
2. Bagi
Puskesmas Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat
Diharapkan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terutama untuk
penyakit hipertensi agar masyarakat dapat merasakan pelayanan yang memuaskan.
3. Bagi
Kepala, Staf, Dokter, Bidan, Perawat dan Apoteker di Puskesmas Tiworo Tengah
Dapat memberikan layanan yang baik terhadap masyarakat apabila ada
masyarakat yang terkena penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi.
4. Bagi Perawat
Hasil
penelitian ini dapat menjadi penambah pemahaman perawat tentang perawatan
pasien hipertensi, yaitu tentang pentingnya menjaga kondisi psikologis pasien,
selain itu juga tentang pola makan yang baik dan melakukan diet rendah garam
terhadap kekambuhan hipertensi.
5. Bagi Pasien hipertensi
Pasien
hipertensi hendaknya menyadari keadaan dirinya dan mampu menerima keadaanya
saat ini. Pasien hipertensi hendaknya
bisa melakukan pencegahan atau kekambuhan hipertensi dengan melakukan diet
rendah garam yang dapat menurunkan hipertensi.
DAFTAR PUSTAKA
Abdillah,
E. R. (2012), Hubungan tingkat pengetahuan diet rendah garam dengan pelaksanaan diet
rendah garam serta di Poli Jantung RSAA Malang. Skripsi. Diakses tanggal 16
Desember 2015.
Achjar,
K. A. (2011), Teori dan Praktikum : Asuhan Keperawatan Komunitas. Jakarta. EGC.
Aisyiyah
(2009), Faktor resiko hipertensi pada empat kabupaten/Kota dengan prevalensi
Hipertensi di Jawa dan Semarang. Fema. Ipb.ac.id. diakses Februari 2016.
Andrayani (2013), Hubungan dukungan
keluarga dengan tingkat kepatuhan diet rendah garam pada penderita hipertensi
di RS. Saiful anwar Malang. Old.fk.ub.ac.id/artikel/idfiledownload/arya/pdf.
Diakses Februari 2016.
Azizah,
L. M. (2011), Keperawatan Lanjut Usia. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Budiman,
A (2012), Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan berobat pasien yang
diterapi Tamoxifen setelah operasi Ca payudara di RS Dr M. Djamil Padang. http://jurnal.fk.unad.ac.id. Diakses
Maret 2016.
Corwin,
(2007), BukuSakuPatofisiologi. Jakarta: PenerbitBukuKedokteran EGCDengan kepatuhan Dalam MenjalankanDiit Hipertensi di Poliklinik RSUD
TuguRejo Semarang.
Skripsi tidakdipublikasikan. Semarang : Program StudiIlmu Keperawatan
Depkes RI, (2005), PedomanPelaksanaanPuskesmas. Jakarta
Depkes RI. (2009), jenis-jenis hipertensi dan
penyebabnya. Jakarta.
Dharma,
H. K. (2012), Metodologi penelitian keperawatan pedoman melaksanakan dan menerapkan
hasil penelitian, Trans Info Media, Jakarta Timur.
Diehl, (2007),Waspadai
Diabetes-Kolesterol-Hipertensi. Terjemahan: Budiati, Winarni. Penerbit: Indonesia
Publishing House.Bandung.
Dinkes
Provinsi Sultra, 2014, Data Penderita Hipertensi Sultra.
Effendi, (2008), Dasar – dasar
Keperawatan Kesehatan Masyarakat. EGC.Jakarta
Effendy,
N dan Rosyid, F.N. (2011), Hubungan kepatuhan Diet rendah garam dan terjadinya
kekambuhan pada pasien Hipertensi di wilayah Puskesmas Pasongsongan Kabupaten
Sumenep, Madura. Jurnal ilmu kesehatan Masyarakat. Universitas Muhamadyah
Surabaya, ISSN 2087-8672.
Hendra
A.W., (2008), Ilmu
Keperawatan Dasar, Edisi
Ke-2, Penerbit Mitra Cendikia
Press.. Yogyakarta.
Legowo, I, A.
(2014). Hubungan
Pengetahuan Pasien dan Dukungan Keluarga dengan Motivasi Pelaksanaan diet
rendah garam pada Pasien Hipertensi di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.
Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
Mubarak dan Chayatin, (2009). Buku Ajar Keperawatan Komunitas 2 Teori danAplikasi
Dalam Praktek. Jakarta: SagungSeto.
Muninjaya (2008), Manajemen
Kesehatan.
Edisi 3. Jakarta: EGC.
Norman (2012), Pengaruh ceramah
kesehatan terhadap kepatuhan dan tekanan darah pasien hipertensi di Puskesmas
Kecamatan Beji Depok. Ui.ac.id.file.diakses April 2016.
Notoatmojo, S. (2010), Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Cetakan I, PT. Rineka Cipta,
Jakarta.
Nursalam
(2002), Menajemen Keperawatan, Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional.
Salemba Medika. Jakarta.
Partilia,
D. F. (2012), Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet rendah garam dan
keteraturan kontrol tekanan darah pada penderita hipertensi di RSUD Tugurejo
Semarang. Diakses Tanggal 16 Desember 2015.
PERSAGI (2009), Kamus pelengkap
Kesehatan Keluarga. PT. Kompas Media Nusantara. Jakarta.
Pratiwi (2011). Pengaruh Konseling
obat terhadap kepatuhan Pasien hipertensi di Poliklinik khusus RSUP DR. Djamil
Padang. http://pasca.unand.ac.id/id/wp-content/uploads/2016/Artikel.pdf.
diakses Maret 2016.
Pudjiastuti, R. D. (2011). Penyakit Pemicu Stroke :
Dilengkapi Posyandu Lansia dan Posbindu PTM. Nuha Medika Press, Yogyakarta.
Rahma,
E,. Rahman, M.S, Wijiutami, Y,. 2012,Hubungan
TingkatPengetahuan tentang DietRendah Garam terhadapKepatuhan Pelaksanaan
DietRendah Garam sertaHubungan Pengetahuan dan Kepatuhan Diet RendahGaram
Pasien Hipertensi diPoli Jantung RSSA Malang,Abstrak, Program Studi
IlmuKeperawatan FKUB.
Ririn
(2008), Hubungan stres kerja terhadap hipertensi pada pegawai dinas kesehatan
kota pekanbaru Tahun 2008. Skripsi.
Robbin, S,. 2006, Perilaku Organisasi, PT.
IndeksKelompok Gramedia, Jakarta.
STIKES Mandala
Waluya.PedomanPenulisanSkripsi. Edisi III. Kendari, 2015
Sudarmoko,
A. 2015. Sehat Tanpa Hipertensi. Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta.
Sukamto A. (2007) Hubungan
Antara Tingkat Pengetahuan Klien Tentang Hipertensi
Dengan
kepatuhan Dalam Menjalankan Diit Hipertensi di Poliklinik RSUD Tugu Rejo
Semarang. Skripsi tidak dipublikasikan. Semarang : Program StudiIlmu
Keperawatan
Sumantri, A. (2013), Pengaruh pendidikan kesehatan hipertensi pada keluarga terhadap kepatuhan
rendah diet garam lansia hipertensi di Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati.
Skripsi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesahatan
A’isyiyah, Yogyakarta.
Sutanto
(2010), Cekal (Cegah dan Tangkal) penyakit Modern. CV. Andi. Yogyakarta.
Wahdah, N. (2011), Menaklukan Hipertensi dan
Diabetes. Multi Solusindo, Yogyakarta.
Widyasari,
D.F dan Candrasari, A. (2010), Pengaruh
pendidikan kesehatan tentang hipertensi terhadap perubahan pengetahuan dan
sikap lansia di Desa makam haji Kartasura Sukoharjo. Jurnal Biomedika Fakultas
Kedokteran, Universitas UMS.
World Health
Organization
(WHO) (2003), Internasional Society of
Hypertension Guideline for Management of Hypertension, Journal Hypertension.
Yulianti,
(2006), 30 Ramuan Penakluk Hipertensi.Penerbit
PT. Agro Media Pustaka. Jakarta.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar